Kata Bertata

Gowes Mantap ke Taman Wisata AGro Cilangkap

Sepedaan

Saya mengetahui tempat ini karena kebetulan lewat di jalan menuju Cibugary (Cibucur Garden Dairy). Lokasinya di Cilangkap Jakarta Timur. Sebelah kanan setelah kompeks perumahan Cilangkap Indah. Sekilas saya membaca  tulisan yang terpampang di depan gerbang “wisata agro”. Tetapi penampakannya agak meragukan untuk disebut sebagai tempat wisata. Beneran tempat wisata gak sih?

Karena penasaran, saya mencari informasi untuk mastikan bahwa  beneran sejenis taman atau tempat wisata. Dengan kata kunci taman wisata Cilangkap, setelah menemukan dari beberapa tulisa  barulah merasa yakin. Lumayan lah nemu lokasi lain baru, ganti tujuan gowes selain ke taman mini yang sebenarnya belum juga terjelajahi semua.

Pondok Tanaman

Sementara ini setelah berhenti sekian lama gowes sepeda, taman wisata agro ini merupakan jarak terjauh yang berhasil saya tempuh.  Bisalah melepaskan kangen gowes sepeda lagi. Kira-kira satu jam gowes, akhirnya sampai ke tempat ini.Ada apa sih di taman Wisata Agro Cilangkap?

  • Trek lari dan sepeda. Menurut bapak-bapak yang jualan di tempat ini, hari Minggu lebih ramai. Kebetulan saya gowes ke sini di hari Sabtu, tidak terlalu ramai. Ada kegiatan senam bersama setiap hari minggu pagi. Ada juga senam bersama sore-sore, dua kali dalam seminggu di hari kerja.
  • Tanaman Hidroponik yang berada di rumah-rumahan khusus. Ada bayam merah, kangkung, bunga, lobak. Seneng banget ketemu sayuran hijau segar yang langsung dipetik dari kebun. Tapi sayang sekali gak bisa dibeli dan dibawa pulang. Khayalan tentang cah kangkung yang pedes-pedes gimana gitu langsung ditepis. Katanya sudah ada pasar swalayan yang memesan sayuran disini secara rutin. Ya sudahlah, gak bisa beli sayur segar mungkin  mungkin bisa mencontek tips bertani ala hidroponik kepada pekerja di sini untuk diterapkan dikemudian hari. Mereka gak keberatan ditanya-tanya selama tidak mengganggu pekerjaan mereka.

Bunga di taman

  •  Bibit tanaman yang bisa dibeli. Ada mangga, jeruk, alpukat, buah naga. Silakan dibawa pulang untuk dirawat dan dijaga dengan sepenuh cinta dan kamu akan menikmati buahnya.
  •  Arena bermain buat anak-anak,  danau buatan, saung juga batu refleksi. Waktu saya datang sih sepi, serasa taman itu milik sendiri hehe…
  •  Mahasiswa dan mahasiswi magang. Kamu yang masih jomblo bisa kenalan tuh. Mereka itu calon pasangan idaman lho. Tanaman aja disiram, dipupuk dan dirawat dengan sepenuh hati. Apalagi cintanya ke kamu. eaa

 

Sekedar untuk santai-santai di hari libur di taman dekat rumah boleh lah. Parkirannya juga cukup luas.jangan berharap terlalu banyak….

20160514_203047.jpg

Cerita beberapa bulan lalu masih mengendap di draft, baru diposting sekarang.

***

Advertisements

Gowes Pagi Ke Taman Mini

We are the one! One!
We are the best! Best!

Akhirnya rasa kangen untuk gowes lagi terobati. Setelah berhasil mengeluarkan sepeda dari “sarangnya” pagi itu. Mengeluarkan sepeda untuk berolahraga itu menjadi peer tersendiri buat saya. Susah! Sebab harus melewati gang berisi barang-barang dagangan. Biasanya malam sebelum sepedaan membujuk orang di rumah dulu buat membantu mengeluarkan sepeda. Kemudian  diletakkan dekat pintu, atau paling apes ngeluarin sendiri (ini aja udah nguras keringat bo!).

Sebenarnya saya juga sedang males jalan kaki ke taman mini. Gara-garanya minggu sebelumnya kami berangkat agak siangan, jadi selesainya juga agak siangan. Agkutan yang biasa mengitari Taman Mini gak muncul-muncul. Sedangkan kami sudah harus pulang. Akhirnya kami memutuskan jalan kaki dari anjungan propinsi Jambi. Setelah capek panas-panasan berjalan sampai ke pintu empat, angkutannya masih belum ada. Kemungkinan sih karena macet. Makanya saya memilih bela-belain mengeluarkan lagi sepeda dengan penuh perjuangan daripada terjebak lagi seperti itu hehehe…

Bisa sih menyewa sepeda di taman mini, satu jamnya sekitar lima belas ribu. Buat keliling doang sih oke. Kalau maksudnya buat transportasi selama berkunjung di Taman Mini ya enggak lah, kemahalan cyin! Malesnya lagi harus dikembalikan ke tempat semula, gak bisa ditinggal di pintu keluar.

Pagi itu saya gak jadi ikut senam di Museum olahraga, karena saya sampai senamnya sudah hampir selesai. Di area Taman Mini ini ada dua tempat yang menyelenggarakan senam bersama. Satu di museum olahraga, dekat pintu masuk tiga yang berseberangan dengan teater Keong Mas. Satu lagi di dekat bundaran air mancur, lokasinya dari pintu masuk utama belok kiri ke arah Museum Indonesia. Di museum olahraga mulainya sekitar jam setengah tujuh, lebih pagi dibandingkan dengan yang di dekat air mancur.

p_20160508_072553_hdr_1.jpg

Senam pagi di Museum Olahraga Taman Mini Indah

Akhirnya saya melepas kangen  untuk gowes sengan mutar-mutar memikmati Taman Mini yang belum terlalu ramai. Sesekali berhenti buat ngambil foto. Saya lalu berbelok ke arah teater keong mas dimana saya mendengar yel-yel.  We are the one! One! We are the best! Best! Rupanya ada beberapa kelompok ibu-ibu yang sedang latihan baris-berbaris. Oh, saya baru tahu selain tempat piknik dan syuting sinetron, Taman Mini juga bisa jadi tempat  latihan baris-berbaris .

Oh iya, saya juga ketemu gedung yang unik. Bagian atas gedung ada penampakan berupa keris, namanya museum pusaka. Belum dibuka karena masih pagi, jadi foto bagian luarnya saja.

p_20160508_071035_hdr_1.jpg

Sebenarnya masih ingin menyelesaikan misi berkunjung ke anjungan tiap propinsi dan masuk aneka wahana yang ada, tetapi sementara ini ditunda dulu. Kapan-kapan aja deh. Yang penting misi bersepeda hari itu berhasil. Semoga bisa merubah angka-angka pada pengecekan kesehatan beberapa waktu lagi, dimana salah satu saran pada pemeriksaan sebelumnya  untuk melakukan olahraga dengan teratur.

p_20160508_065735_hdr_1.jpg

Jepret-jepret ambil foto dari luar, masih pagi jadi belum pada buka wahananya. Kira-kira di dalamnya ada apa yaa…

p_20160508_071920_hdr_1.jpg

Penampakan bianglala dan sekitarnya ketika masih pagi

Foto bianglala ini diambil dari arah pintu masuk museum air tawar. Wahana ini sendiri berada di dalam area Taman Legenda Keong Emas. Buka tiap hari mulai dari jam 10. Hari Sabtu, Minggu dan hari libur dibuka satu jam lebih awal. Hmm, mungkin kapan-kapan bisa berkunjung. Info tiket masuk dan jenis wahana lengkapnya bisa dicek di website Taman Legenda Keong Emas.

Kesebelasan Gen Halilintar : Uzbekistan Negara Sahabat

Kesebelasan Gen Halilintar-Uzbekistan Negara Sahabat

Kenapa begitu penasaran? Tidak hanya penasaran, saya juga sangat mengagumi keluarga ini. Mereka mengistilahkan keluarga mereka sebagai edufashiontravelpreneur. Di suatu kesempatan di sebuah acara televisi yang terus terang menanyakan bagaimana dengan biaya traveling yang pastinya luar biasa banyak. Kemudian dijelaskan bahwa merekajalan-jalan bukan untuk menghabiskan uang, tetapi juga untuk mendapatkan uang. Jalan-jalan bukan hanya sekedar jalan-jalan, tetapi juga belajar banyak hal dan menempa diri. Gen suka fashion dan art. Traveling dan trading adalah kebiasaan hidup keluarga mereka. Mereka meyakini bahwa orang-orang besar dimasa lampau adalah para “traveler“.

Dalam buku ini, banyak diceritakan kunjungan bersama sebelas anak atas undangan Uzbekistan Tourism. Negara dimana banyak menyimpan sejarah dan kenangan ilmuan besar muslim. Salah satunya adalah imam Bukhari yang makamnya “ditemukan” atas prakarsa presiden Sukarno.  Sebenarnya kunjungan pertama ketika  Halilintar muda dan  Uzbekistan baru merdeka, sebelum Uzbekistan punya hubungan diplomatik dengan indonesia.  Kunjungan berikutnya setelah menikah membawa istri dan beserta anak-anak tetapi belum sebelas orang yang ikut. Kemudian baru kunjungan berikutnya bersama sebelas anak yang banyak diceritakan dalam buku ini.

Ceritanya mulai dari drama keberangkatan dimana terancam gagal berangkat secara full team. Alhamdulillah, ketika sudah pasrah atas keputusan Alah, kemudian datang keajaiban sehingga akhirnya mereka semua bisa berangkat.

Dalam beberapa kesempatan penulis bercerita mengenai sejarah singkat suatu tempat  tapi adakalanya bercerita tentang kunjungan mereka saja. Sebagaimana buku catatan perjalanan, banyak hal menarik yang diceritakan. Mulai dari drama-drama yang tak terduga, kenangan indah dan kejutan tak terduga. Dan pada akhirnya pada setiap kejadian, bermuara pada kepasrahan pada ketentuan tuhan.

Situs-situs sejarah yang tidak hanya berada di Tashkent-ibukota Uzbekistan, tetapi juga di tersebar di propinsi-propinsi lainnya. Bahkan saking banyaknya situs bersejarah tersebut, saya tidak bisa mengingatnya satu persatu. Jika suatu saat nanti berkesempatan datang ke Uzbekistan, saya rasa saya akan membuka kembali buku ini untuk membuat daftar tempat-tempat yang harus dikunjungi 🙂

Walaupun buku ini bukan untuk menjawab teka-teki besar dan keingin tahuan yang mendalam tentang Uzbekistan, akan tetapi bisa menjadi jendela bagi kita untuk menengok sebuah negara yang sudah menjadi “sahabat” bahkan sebelum mereka mereka. Menjadi magnet bahwa suatu saat nanti harus datang ke Uzbekistan, berziarah dan mengagumi kebesaran pada ilmuan terdahulu. (aamiin).

Sayang sekali, sekali lagi sayang, tulisan dalam buku ini termasuk besar dan banyak pula gambar-gambar. Sedang enak-enaknya membaca, tau-tau sudah sampai akhir saja.  Walaupun ceritanya alias tulisannya tidak sebanyak yang saya kira, membaca buku ini mendatangkan pengalaman dan pemahaman baru bagi saya.

20160407_142527.jpgWalaupun sudah membaca buku pertama: Gen Halilintar My Family My Team, belum lepas juga rasa penasaran mengenai keluarga ini. Membuat saya ingin membaca buku Gen Halilintar  berikutnya. Ketika memesan buku melalui kontak yang ada di website Gen Halilintar saya minta dituliskan pesan dari pak Halilintar dan ibu Gen, sebagai kenang-kenangan ulang tahun pernikahan saya dan suami. Karena mengerti akan kesibukan beliau, saya memesan agak jauh-jauh hari untuk dapat tandatangan dan pesan tersebut supaya bertepatan dengan momen istimewa tersebut. Alhamdulillah, ternyata tidak selama yang saya duga- bahkan bukunya datang lebih awal dari perkiraan.

Oh iya, ini pesan lengkap pak Hali dan bu geni yang sudah bermurah hati menuliskannya buat kami. Pesan yang pada intinya mengenal Allah sang pencipta sebagai kunci bahagia.

Selamat bersyukur setahun bahtera pernikahan
Jika disyukuri maka Allah akan panjangkan dan tambahkan nikmatnya
Cara syukur yang paling  penting, kenalilah Allah dengan sebenar-benar kenal

Rahasia bahagia adalah dengan memahami maksud, peran & tujuanNya dalam setiap kejadian.  Moga mas dan mba mendapat kebahagiaan sejati hasil usaha mengenal Allah hingga cinta dan takut padaNya

Penulis: Lenggogeni Faruk
Jumlah Halaman: 221
Penerbit: GenH Media, Cetakan ketiga 2016
Harga: 124rb

***

Unin

Taman Mini Sudah Hijau Lagi

Apa yang mau di lihat di taman mini?
Banyak! Buanyaaa…k!
Bagus gak?
Hmmm…
Teng! Tong!

Kami pindah ke Jakarta Timur sekitar akhir tahun lalu. Otomatis acara jalan-jalan minggu pagi yang dulunya tidak jauh-jauh dari area CFD Sudirman, Lapangan monas, Lapangan Banteng juga berpindah ke Taman Mini yang berlokasi di Jakatra Timur. Bertepatan dengan kondisi Taman Mini yang “sedang tidak menarik-menariknya” karena musim kemarau yang cukup panjang. Tamannya terkesan tidak terawat, rumput-rumput pada mati, beberapa bagian seperti pekarangan yang tidak berpenghuni, seperti rumah yang sudah ditinggalkan pemiliknya. Saya sih tidak bilang jelek, tapi  yah kurang menarik.

wp-1459403163627.jpeg

Teduh dan Hijau

Dengan kondisi Taman Mini yang  “yah begitulah”, pengunjungnya tetap saja ramai. Hari libur tidak pernah sepi. apalagi kalau bertepatan dengan musim liburan sekolah. Macet Jakarta jadi berpindah ke Taman Mini dan sekitarnya. Pengunjungnya dari seluruh nusantara sampai mancanegara. Dari yang jalan kaki, naik motor, naik ojek, kendaraan umum, kendaraan pribadi, bus kecil, bus besar,  lengkap sudah di sana.

Apa sih yang mereka lihat di taman mini?  begitu-begitu aja? (sok banget, padahal sebenarnya penasaran haha)

Setelah sekian lama- antara enggan dan penasaran, muncul lagi keinginan untuk jalan-jalan ke sana.  Waaah… rumputnya  sudah hijau lagi, bunga-bunga juga sudah bersemi, hujan sudah membawa berkahnya.

 

Saya jadi ingin berlama-lama  duduk di bawah pohon rindang, diteman semilir angin. Di atas danau sana ada pasangan yang sedang berbahagia berdua mengayuh bebek-bebek, di tepi danau ada juga keluarga yang piknik menggelar tikar di atas rumput. Sedang kami duduk menjuntai di depan anjungan Maluku yang teduh, dekat rel sambil menunggu kereta dan kereta gantung yang lewat sebagai objek foto.

Kami bermaksud menyinggahi anjungan tiap propinsi di Indonesia. Kalaulah belum bisa keliling Indonesia, kita keliling mini Indonesia dulu aja. Jika  tiap kunjungan ke satu anjungan dibatasi hanya setengah jam saja, berarti butuh tujuh belas jam untuk bisa menyelesaikan kunjungan ke tiga puluh tiga anjungan propinsi yang ada di taman mini.  Sementara jam buka anjungan umumnya dari jam 8.00 WIB sampai jam 15, jika dalam satu hari  berkunjung selama setengah jam ke tiap anjungan dikurangi istirahat dan makan siang selama satu jam, berarti masih kurang dari separo yang terjelajahi.

Senangnya, tidak perlu jauh-jauh untuk mendapatkan pemandangan seperti ini:wp-1459416214404.jpeg

Ngomong-ngomong, berapa sih luas Taman Mini ini? Kalau jalan kaki dari ujung ke ujung,  mulai dari belokan menuju gerbang utama sampai ke pintu IV di bagian belakang, jaraknya hampir 3 km.  Luas kompleksnya  kurang lebih 150 hektar atau 1,5 kilometer persegi. Taman mini yang sama sekali gak mini- karena sudah terbiasa menyebutnya begitu agak kagok juga kalau ngomong lengkap-lengkap Taman Mini Indonesia Indah. Saking gak mininya, dalamnya berbagai macam objek untuk dikunjungi: anjungan, museum, taman, perpustakaan, arena bermain, restoran, gedung pertemuan, tempat ibadah, danau buatan, kolam pancing dan sebagainya.

Sayangnya waktu itu,  kami  punya kesempatan setengah hari saja. Kami sempat mengambil foto anjungan Papua Barat, Sulteng, Sulut, tapi belum bisa masuk karena masih terlalu pagi, belum dibuka.  Terus bertamu ke anjungan kalimantan selatan dan Kalimantan timur, melewatkan (masih sambil tengok-tengok sedikit) anjungan Maluku, Kaltim, Aceh dan Sumut karena kebetulan di tempet tersebut sedang ada acara. Terakhir sebagai penutup sebelum pulang, singgah dulu ke anjungan Sumbar, menengok  rumah gadang, palapeh taragak jo kampuang halaman alias pelepas rindu akan kampung halaman 😉

This slideshow requires JavaScript.

Kalau dipikir-pikir untuk, untuk berkunjung ke anjungan, kan objek di dalamnya sama aja mau musim kemarau sama musim hujan. Kenapa musti nunggu hijau kaya gini dulu yah? Yang pasti  hijaunya taman dan bunga yang bermekaran sangat mempengaruhi mood kami untuk jalan-jalan dan mengambil foto di hari itu. Apa yang kami temukan di anjugan kalimantan selatan dan kalimantan barat? Tunggu postingan selanjutnya 🙂

***

Rima