#20-RH~Kami Menyerah Saja


Walaupun disebut musim penghujan, tidak sepenuhnya hujan berkepanjangan. Adakalanya panas terik, seperti saat ini. Langit cerah sebiru-birunya.

Awan yang tadi menggantung di pinggang gunung merapi sudah pergi. Sehingga jelaslah terlihat kilauan berwarna putih di atas sana itu. Jaraknya tidak beraturan, ada yang rapat, adapula yang renggang. Seperti permata yang tidak sengaja bertabur pada sebuah jubah beludru berwarna biru, yang dipakaikan pada gunung merapi siang itu. Padahal sejatinya adalah pantulan cahaya matahari dari atap.

Atap seng itu kalau masih baru silaulah mata memandang dari jauh.  Kalau sudah agak usang, silaunya juga berkurang, bahkan tidak bisa memantulkan cahaya lagi. Seperti rumah atap rumah yang kami tempati ini, hampir sewarna dengan tanah. Tidak akan rampak berkilau jika terlihat dari pinggang merapi itu.

Rumah ini sebenarnya bukan rumah kami, adalah rumah saudara yang kami tempati. Kami pindah setelah bapak terkena sroke. Alasannya karena tempat ini di pinggir jalan, mungkin ibu bisa berjualan. Karena setelah itu, tulang punggung keluarga menjadi berali kepada ibu. Walaupun kemudian ibu tidak jadi berjualan, karena keterbatasan waktu dan perhitungan lainnya. Tugas menjadi tulang punggung keluarga beralih kepada saya.

Sebenarnya kepindahan kami tidak sesederhana itu, tetapi akan panjang ceritanya jika diurai sekarang. Singkatnya, karena nasib itu juga.

“Nak, kita tidak punya apa-apa di kampung ini, jika hendak menjadi orang, merantaulah! Nanti setelah berhasil, jangan lupa pulang dan berbuat untuk kampungmu, tanah kelahiranmu…”

Akhirnya nasib itu jualah yang membawa untung sampai ke Jakarta. Untung di rantau nasib berubah, tapi orangtua tidak bisa terjelang.

Begitulah perbincangan dengan bapak dikala senggang.  Menjadi pembangkit semangat ketika ujian kehidupan datang menghadang. Menjadi pelecut jika terbersit keinginan untuk mundur. Dimasa bersekolah dulu, maupun dimasa sekarang.

Jika pulang, apa yang hendak diperbuat? Siklus kehidupan yang saya sendiri tidak ingin mengulangnya. Biarlah menjadi kenangan dimasa kanak-kanak, dimana kami beroleh banyak pelajaran tentang kehidupan.

Karena sudah ditempa keadaan, urusan perjodohan ini sepenuhnya menjadi keputusan saya.

“Tentang Hanafi, kami menyerah saja pada keputusanmu!”

Di suatu sisi  merasa tersanjung. Dianggap  sudah  matang untuk menimbang baik dan tidak baiknya dalam hal menentukan pendamping hidup. Di sisi lain, saya merasa gamang.

Mamak- saudara laki-laki ibu, di Minangkabau punya kuasa untuk menentukan jodoh bagi kemenakannya. Tidak terkecuali di kampung kami. Jika kemenakannya dirasa sudah siap untuk berumah tangga, maka dilayangkanlah pandangan jauh, ditukikkan pandangan dekat untuk mencari jodoh yang baik dan sepadan.

“Zaman sudah berubah, tugas kami hanyalah sebagai pembuka buka jalan. Kalaupun cocok dan bagus menurut kami orang tua-tua, belum tentu bagi orang yang akan menjalaninya.”

Ada masa ketika masih muda, tidak mau mendengarkan apa yang dikatakan oleh orang tua. Dimana sorga itu adalah melakukan apapun  dengan kebebasan. Tanpa ada larangan, kalau bisa orangtua hanya mengiyakan. Karena dalam pikiran saya pendapat orangtua seringkali kolot dan kuno, tidak mengikuti perkembangan zaman.

Akan tetapi disaat ini saya seperti dilepas di tengah lautan yang tenang. Pemandangan sedang indah, langit sedang cerah. Pelabuhan pun sudah membayang, tapi hati masih ditangkap bimbang. Apakah berlabuh akan menjanjikan bahagia atau malah sengsara. Sementara gelombang mungkin saja datang, tidak bisa terlena belama-lama.

“Kalau  pendapat kami. Perihal keluarganya, mamak tidak mempunyai keberatan atau halangan apapun. Begitupun Hanafi, selama ini  tidak pernah kami mendengar buruk janggalnya  di tengah masyarakat.”

Sungguh Ibu tidak bisa menyembunyikan pengharapannya untuk bermenantukan Hanafi. kana tetapi  “Menikahlah dengannya!” Hal yang semacam itu tidak keluar dari mulutnya.

“Biar dikemudian hari tidak ada penyesalan, timbang-timbanglah, bawalah sembahyang!”

“Baiklah mamak, sementara kami belum ada keputusan, biarlah saya menimbang-nimbang dulu!”  Begitu saya menghindar.

Entah bagaimana Hanafi, adakah dia sedang berfikir juga. Sampai acara mambato pusaro bapak kemaren, dia belum mengontak lagi.

***

Bersambung || Cerita Sebelumnya

Rindang

 

Silakan Komen di sini :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s