#19-RH- Sekarang Bagaimana?


Hidup di kampung sudah terbiasa saling tolong-menolong. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.  Jikalau ada kemalangan, langsung turun bersama-sama. Itu yang membuat ibu dan bapak agak gamang sewaktu di Jakarta. Hidup jauh dari sanak saudara, bergantung pada anak gadis seorang. Jikalau malang, kepada siapa hendak bertenggang.

“Tugas orangtua untuk menjaga anaknya sampai menemukan jodohnya. Sebenarnya masih ada hutang kami terhadap engkau. Maafkan keadaan yang seperti ini, janganlah membebani diri dengan yang bukan tanggunganmu…!”

“Semua yang ibu dan bapak berikan selama ini sudah lebih dari cukup…!”

“Ibu menyerah saja, tergantung bapakmu. Kalau tidak mau ke Jakarta, Ibu tidak bisa memaksa…!” Beberapa bulan di Jakarta, ibu bertahan karena bapak merasa betah. Kalau bapak sudah bosan di jakarta, apa mau dikata.

“Lagi pula nak, kita jauh di rantau orang nak, jauh dari sanak saudara, kalau terjadi sesuatu bagaimana?” Saya punya kekhawatiran yang sama. Benar untuk urusan rezeki, kita berprasangka baik pada Allah. Tetapi sesungguhnya saya juga gamang. Akhirnya membiarkan bapak pulang, dimanapun yang bapak merasa nyaman.

Inilah rahasianya bapak minta pulang.  Pulang yang pada hakikatnya tidak akan pernah kembali lagi. Bapak pergi dengan  amalannya, kami tinggal bersama kenangannya. Akan tetapi cepat atau lambat, kami juga akan menyusul..

“Hanafi tidak datang?” Adik bapak bertanya, ketika kami hendak melangkah ke rumah sekembalinya dari pusara.

Saya mengatakan pada Hanafi, bahwa keperluan saya pulang kampung untuk mambato pusaro dan mendo’a peringatan empat puluh hari Bapak. Akan tetapi saya sama sekali tidak memintanya atau sekadar berbasa-basi untuk datang.

Dari awal, sudah bahwa  disepakati mambato pusaro Bapak hanya awak-awak saja.  Maksudnya terbatas untuk keluarga dekat dan perwakilan kerabat saja. Tidak mungkin pula saya menghadirkan Hanafi di sini, yang kami sendiripun belum punya kesepakatan apa-apa.

Saya menggeleng. Saya rasa beliau sedang berusaha membuka percakapan tentang Hanafi. Saya tidak bersemangat untuk membahasnya. Sejak setelah pertemuan tiga hari yang lalu, tidak ada kabar dari Hanafi.

Bersambung || Cerita Sebelumnya

***

Rindang

Silakan Komen di sini :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s