#18-RH~Calon Menantu


“Nanti kalau bapak sudah badagok, kita ke Jakarta lagi ya…!” Saya bersyukur bapak pernah betah di Jakarta untuk beberapa bulan, walaupun akhirnya minta pulang juga karena bosan. Sekarang setelah hampir setengah tahun, saya berusaha membujuk lagi.  Saya mungkin bisa pulang   tapi hanya sekali-sekali dan tidak bisa lama. Akan lebih baik kalau bapak di Jakarta.

Ndak! Ndak akan ke Jakarta lagi…!” Saya menebak suasana hati bapak sedang tidak bagus. Sebab dulu berjanji pulang hanya sebentar lagi.

“Katanya bapak mau bertemu dengan calon menantu!” Saya rasa bujukan ini akan bisa membantu.

“Iya…!”

“Calon menantunya kan di Jakarta, nanti bapak ke sini ya…” Saya tidak berbohong. Tidak ada calon menantu yang akan diperkenalkan sekarang, tetapi siapa tahu menjelang bapak sembuh saya bertemu jodoh.

Saya mengira, mendengar kabar ini bapak akan lebih bersemangat. Setelah mengalami stroke yang kedua, percaya diri dan rasa optimis bapak jauh menurun, menjadi sangat sensitif dan berhiba hati.

Agak sulit bagi saya untuk menghibur bapak kalau berjauhan begini. Kalau bapak di Jakarta, setidaknya tiap hari bisa bertemu. Padahal untuk proses pemulihan yang terpenting adalah keinginan untuk sembuh dari penderita dan dukungan dari keluarga.

“Calon menantu heh heh…” Saya tebak bapak senang mendengarnya.

“Ndaaak! Bapak cepat sembuh ya…! Bapak maunya menantu yang seperti apa?”

“Yang baik…!”

Dari dulu bapak tidak pernah meminta persyaratan yang aneh-aneh untuk calon menantu. Kami pernah bercakap ketika bapak masih sehat, yang penting orangnya baik, mengerti keluarga kita dan sayang pada keluarga.

Bapak kadang mengingatkan ibu, bahwa tidak harus dengan orang minang, orang satu pulau boleh juga agar pulang kampung bisa bersama-sama. Tidak berlawanan arah, satu ke barat satu ke timur, orangtua tersilau juga. Kalau memang harus orang seberang, yang penting satu agama karena itu yang akan menjadi pedoman hidup kita.

Bapak tidak pernah menuntut saya untuk segera menikah, karena kalau memang jodoh yang sesuai kenapa mesti dipaksakan. Sesekali menasehati agar jangan sampai terlupa untuk berkeluarga karena umur bertambah jua. Jodoh anak perempuan jika umur bertambah, pilihan semakin sedikit dan kesempatan semakin berkurang.

“Jadi kalau bapak sudah boleh naik pesawat, kita ke Jakarta lagi…!”

Ndak! Bapak tidak akan ke Jakarta lagi…!”

“Calon menantunya disuruh ke kampung saja ya pak!”

“Heh heh!” bapak tertawa lagi “Jangan lamo-lamo bana!”

“Jadi kita ke Jakarta…!”

“Ndak..!”

Benar bapak tidak akan pernah ke Jakarta lagi, kami tidak akan bersama lagi. Karena beberapa hari bapak meninggal. Itu adalah percakapan terakhir kami. Tidak akan ada perkenalan dengan calon menantu, tidak ada.

Sekarang empat puluh hari setelah bapak meninggal, saya pulang untuk mambato pusaro. Bertemu dengan Hanafi. Kalau menang berjodoh- saya tidak akan bisa memperkenalkannya pada bapak.

***

Bersambung || Cerita Sebelumnya

Rindang

Badagok: Sehat, kuat

lamo-lamo bana : Kelamaan, terlalu lama

Tersilau: Terlihat, dapat dilihat

mambato pusaro : Menembok Pusara

2 comments

Silakan Komen di sini :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s