#15-RH~ Pulang


Saya bertemu lagi dengan Hanafi di simpang tiga Jambu Air. Di simpang tiga itu, jika hendak ke terminal dan pasar Aur Kuning maka berbelok ke kanan. Di sanalah pusat grosir terbesar di Sumatera Barat, tidak hanya orang sumatera Barat saja berbelanja ke sana, tetapi juga dari Pekanbaru, Jambi, Bengkulu bahkan dari Medan. Kalau hendak ke pusat kota, dari simpang tiga itu tetaplah lurus nanti akan bertemu lapangan kantin di sebelah kanan, tidak jauh setelahnya akan sampai ke jam Gadang. Jika berbelok ke kiri di pendakian hendak ke jam gadang, kita akan bertemu dengan Ngarai Sianok.

Mataku berbinar-binar, menemukan Hanafi sudah berhenti di belakang mobil travel. Kami singah sebentar, saya menunggunya sholat Isya di mesjid di penurunan tidak jauh dari simpang tiga.

“Ehm! Merokok sebentar dulu ya…?”

Saya menarik nafas dalam-dalam. Mata yang tadi berbinar saat dia menyodorkan satu botol air mineral kembali meredup. Lalu mengambil jarak aman.

Dari lereng gunung merapi dan singgalang terlihat kerlap kerlip lampu rumah penduduk. Jika semakin jauh, cahayanya semakin kecil. Seperti yang terlihat dari kampung kami. Dulu semasa kecil saya pernah mengira itu bintang yang kerendahan.

“Taksi susah di sini, kita ke Pasar Bawah saja lewat kampung Cina!” Begitu katanya kemudian.

Saya setuju, tetapi ternyata saya tidak sedang beruntung. Taksi-taksi tersebut ada saja halangannya, yang sudah ada penumpag, sudah hendak pulang.

Rintik hujan semakin rapat. Macet dari Padang ke Bukittinggi tadi diluar perkiraan. Harusnya Saya sudah memperkiraan dari awal.

“Kita pulang saja!” Katanya,  kami sudah melewati janjang empat puluh menuju Mandiangin. Tidak jauh dari rumah kelahiran Bung Hatta, kami bertemu taksi yang sedang berhenti. Rupanya tidak ada pula sopirnya.

Aku tidak punya pertimbangan lain, akhirnya duduk tenang dibangku belakang. Memberi kabar kalau aku akan segera sampai di rumah. Walaupunpulang bersama Hanafi sebenarnya bukan pilihan yang tepat.  Ketika sampai di persimpangan di lapau dimana dia biasa duduk-duduk, Hanafi memacu kendaraan lebih cepat.

***

Bersambung || Cerita Sebelumnya

Lapau : warung, biasanya tempat para laki-laki (lebih tepatnya pemuda dan bapak-bapak) berkumbul sambil mengobrol dan minum kopi, istilahnya tempat mereka  untuk bersosialisai

2 comments

Silakan Komen di sini :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s