#14-RH-Rasa Ini Apa


Aku tekantuk-kantuk di bangku serap tanpa sandaran. Itu bangku terakhir yang tersedia jika ingin sampai lebih cepat ke Bukittingi. Lebih baik bagiku, daripada harus menunggu travel berikutnya penuh baru berangkat.

Lama sudah tidak ke kota padang, aku tidak menyadari pada jam pulang kerja ternyata macet juga. Mobil yang kutumpangi berjalan pelan, aku berdoa semoga macetnya hanya sampai batas kota.

Di belakang- kurasa Hanafi bisa menyalip dengan mudah, tetapi malah membawa motornya pelan-pelan. Sepintas terlihat aku seperti kekasih yang tidak setia. Duduk dengan nyaman di sini, mungkin tertidur ketika mobil melintasi bukit barisan sedangkan dia sendirian. Tetapi tidak perlulah aku memikirkan tentang hal itu. Kami baru bertemu hari ini, mungkin setuju atau mungkin juga tidak setuju untuk dijodohkan.

Aku lega karena tidak perlu mencari alasan untuk tidak pulang bersamanya tetapi yang aneh ketika aku memikirkan kalimat yang terakhir. Ketika berpisah dengannya tadi, ada yang aneh dalam hatiku. Aku tidak penyukai rasa itu, rasa seolah tidak akan bertemu kembali.

Elok-elok!” Kami mengucapkan kata yang sama sebelum berpisah. Dia melongok kembali memastikan aku sudah duduk dengan nyaman. Ada yang merebak dimataku yang dengan cepat aku sembunyikan.

Akankah perjalanan ini baik-baik saja? Langit sudah tidak mendung, tetapi tidak benar-benar cerah. Perjalanan Padang-Bukittinggi memang selalu indah. Sejak dulu, hampir tidak pernah terlewatkan.

Setelah batas kota jalan raya  bersisian dengan rel kereta api, liatlah ke arah kiri. Hamparan sawah dipagari pohon kelapa. Saat senja begini, siluet pohon kelapa berkejaran dengan latar belakang keemasan.

Namun perjalanan itu tidak selamanya ramah. Setelah menikmati pemandangan di daerah dataran rendah itu, sampailah ke gugusan bukit barisan. Menjelang air terjun Lembah Anai-yang hampir tidak pernah terlewatkan oleh pelintas untuk menengok dan setelahnya cukup mengerikan di musim hujan. Jalan berkelok, licin dan ancaman longsor, tidak bisa membuat tidak cemas sekalipun sudah terbiasa melintasinya.

Aku tidak ingat kapan terakhir mengecek Hanafi masih lamta-lambat, aku tertidur. Ketika penjual Paragede angek naik ke travel, bau paragede yang biasanya membuat perut lapar memenuhi hidungku.

Paragede angek! Paragede angek!” Samar-samar aku mendengar penjualnya berteriak. Suara dan bau itu cukup memberi kode bahwa sebentar lagi akan melewati air terjun. Aku sudah kenyang dan benar-benar mengantuk, berniat meneruskan tidur. Tapi mana Hanafi?

Aku sudah tidak melihatnya Hanafi belakang. Rintik hujan kecil-kecil membuatku cemas. Bekas-bekas longsor yang belum lama terjadi, masih tersisa di tebing pinggir jalan. Ah, sudah tidak bisa memastikan apakah matahari sedang bersiap untuk tenggelam atau tenggelam sempurna di laut sana.Terpaksa aku mengecek telepon genggam, sudah magrib rupanya. Tidak ada pesan masuk, aku menarik nafas dalam-dalam. Barangkali dia sudah lebih dulu  ke Bukittinggi. Lagipula dia melewati jalan ini tadi pagi dan sebelum-sebelumnya, dan baik-baik saja.

***

Rindang

Bersambung || Cerita Sebelumnya

2 comments

Silakan Komen di sini :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s