#13-RH-Bisik-Bisik


“Nanti waktu libur atau mengambil cuti, mainlah kesini. Kalau bertepatan dengan musim durian, kita bisa bagadang ka Patamuan. Kalau tidak, kita makan lamak saja di Patamuan atau di rumah. Kolam kami sudah bisa panen, kamu bisa makan ikan panggang buatan Mama sepuasnya.”

“Jadi kita bisa mancing?”

Aku membayangkan liburan seru di kampung temanku. Sudah lama sekali aku tidak memancing ikan. Semasa masih SD, memancing ke kolam kami yang ada di kaki bukit. Ikannya tidak pernah besar-besar karena airnya langsung dari mata air dan sumber makanannya tidak banyak.

“Iya, kalau di Jakarta semacam liburan di Puncak. Sore-sore kita melihat matahari terbenam dari kampus. Sudah lama kan?”

Aku menyukai pemandangan menjelang matahari tenggelam sambil menapaki jalan menurun. Jarak dari putaran mobil terakhir (kampus Politeknik) ke gerbang Unand sekitar tiga kilo. Waktu itu belum ada asrama mahasiswa dan rumah pendudu setelah gerbang kea rah kampus hanya satu-satu. Setelah jam lima suasana kampus sudah sepi. Bus kampus masih merupakan transportasi utama, sesekali ada bus kota yang sampai ke bundaran rektorat, kadang hanya sampai gerbang kampus saja, mahasiswa belum banyak yang membawa kendaraan pribadi, jadi kalau ada yang jalan kaki dari atas ke gerbang akan kentara sekali.

Asumsiku, jaman itu hanya ada tiga tipe mahasiswa yang rela berjalan kaki menjelang magrib dari atas menuju gerbang kampus. Pertama mahasiswa yang sedang kasmaran dan selalu ingin melewati waktu bersama. Tidak rela melewatkan waktu yang begitu cepat jika memilih untuk naik bus kampus atau kendaraan untuk turun ke bawah. Kedua mahasiswa yang tidak dapat bus atau tumpangan lain karena sudah terlambat keluar kelas. Ketiga mahasiswa iseng alias tidak ada kerjaaan. Aku dan temanku -setelah aku paksa-paksa termasuk golongan yang ketiga.

Sebenarnya aku setuju dengan rencana liburan sekaligus bernostalgia, tapi kenyataannya tidak pernah terwujud. Sekarang aku datang berkunjung dengan ikan panggang yang sudah terhidang.

“Cocok!” Temanku tersenyum sumringah. Seperti dialah yang akan menikah dalam waktu dekat setelah hampir semua teman-temannya menikah. “Kalau kawan bahagia, tentu awak ikut bahagia pula!”

“Iya cocok! Dia pendiam, sedang kamu tidak bisa diam!” Dia memelankan suaranya, wajahnya berubah serius. Kami sudah selesai makan dan sedang berberes di dapur. “Sepertinya orangnya baik!”

“Mana pula kamu tahu!” Kataku, tidak bermaksud menentangnya. Hanya khawatir kalau dia berlebihan memuji membuatku jadi terpengaruh..

“Papa juga bilang begitu tadi, sepertinya anaknya baik…!” Orangtua yang sudahlama memakan asam garam kehidupan tentu tidak sembarangan dalam menilai. Dia memang baik-setidaknya baik menurut informasi yang kudapat dan sejauh pengetahuanku tentangnya. Tetapi aku tidak cepat bersenang hati dengan hal itu karena aku belum bisa menyimpulkan apa-apa tentang kami.

“Jadi rumahnya berdekatan di kampung?”

Aku menengok keluar, seperti dugaan semula. Hujan datang selepas tengah hari.

“Sekitar dua kilo lah…” Hanafi menjawab.

“Kalau dari sini ke simpang kampus mana yang jauh?”

“Hampir sama…”

“Tidak pernah saling bertemu?”

“Sepertinya tidak…!”

Hanafi permisi untuk keluar sebentar.

“Merokok?” Temanku menyikut tanganku, kembali berbisik. Aku mengangguk lemas. Temanku malah tertawa melihat reaksiku itu.

“Kebiasaan bisa berubah kok, yang penting agamanya bagus dan akhlaknya baik!” Katanya bijak. Ah, dewasa sekali temanku ini.

Cuaca di luar masih berubah-rubah. Kadang panas kadang hujan, ujan paneh. Biasanya berlangsung lama, tapi tidak benar-benar deras. Akhirnya kami pamit. Tidak ketinggalan dengan ikan panggang beserta resepnya.

“Semoga jodoh ya..!” bisik temanku ketika kami bersalaman.

“Nanti undang Papa ya…!” Pesan berikutnya lebih jelas terdengar buat kami semua.

“Doakan ya Pa!” Jawabnya ringan.

***

Rindang

Bersambung || Cerita Sebelumnya

Silakan Komen di sini :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s