Membaca Novel Cindaku


Cindaku, Azwar Sutan Malaka,

Kaki Langit Kencana

Jakarta, September 2015

Novel Cindaku

Cindaku, Azwar Sutan Malaka

Membaca novel ini membawa saya “pulang” ke kampung halaman. Saya membayangkan sebuah kampung di tepi bukit barisan sana. Kampung yang sebagian besar dihuni oleh orangtua dan anak-anak, sadangkan anak muda kebanyakan pergi merantau. Kampung yang kalau malam apalagi setelah Isya, menjadi sepi dan gelap walau tak sepenuhnya gulita.

“Pasti latar novelnya di tempat itu!” tebak saya dalam hati, sok tahu. Saya kenal daerah itu, bahkan saya dapat merekonstruksi rumah Salim, Laila, surau tempat mengaji, parak dan rumah dengan bunga kertas yang menjadi kenangan bagi laila dalam fikiran saya. Tentu hasil dari rangkaian ingatan yang tertingal. Makanya kening saya berkerut begitu diceritakan kampung kering karena lahan hutan dijadikan kebun kelapa sawit. Seingat saya, di kampung itu tidak pernah ada kebun kelapa Sawit, jaman “bagolak” pun tidak ada kebun kelapa sawit.

Awalnya saya protes, tetapi cepat sadar kalau ini hanya cerita fiksi. Pengarang boleh dong menulis sesuai imajinasinya. Saya lalu tersenyum-senyum sendiri karena ternyata sudah terbuai, merasa kisah Salim dan Laila adalah cerita sebenarnya.

Bagi saya membaca novel ini tidak hanya bernostalgia tetapi juga mencuri “kearifan” yang disisipkan oleh penulis ke dalam ceritanya. Saya sangat menyukai bagaimana cara Pandeka Sutan mendefinisikan rantau pada Salim muridnya.

“Rantau adalah medan pertarungan hidup dan mati. Bagi seorang petarung tentu dia tidak ingin menjadi pecundang, dia harus memenangkan pertarungan. Sekali melangkah ke medan juang pantang mundur ke belakang, sekali layar terkembang, pantang kembali pulang sebelum kita yang menang.”

Rasa penasaran tentang Cindaku memang tidak terjawab di sini-penulisnya juga sudah membocorkan kalau novel ini tidak berbau horor. Cindaku dalam novel ini digambarkan sebagaimana yang sebenarnya dipercaya masyarakat waktu saya di kampung dulu. Menjadi pembicaraan tetapi tidak pernah ada yang bertemu dan membuktikan tentang Cindaku. Entah kalau sekarang apakah orang-orang masih membicarakannya, jaman cepat sekali berubah.

Kembali pada novel Cindaku, setelah membaca secara keseluruhan, saya lebih senang novelnya berjudul “Anak Cindaku Ditikam Rindu”. Karena karena terdengar lebih puitis dan ceritanya lebih kepada Salim yang “dicap” sebagai anak Cindaku.

***

Rinrin

Silakan Komen di sini :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s