#12-RH-Ini Calonnya Rin?


“Dulu waktu kuliah aku sering ke sini.” Kataku menjelaskan, begitu kami melewati sebuah jembatan. Di sebelahnya masih ada jembatan peninggalan jaman perang yang  terakhir aku ke sini masih berfungsi.

Dulu jembatan besi itu berdentang-dentang setiap ban kendaraan melintas di atasnya. Sebelum melintas, orang harus memastikan tidak ada kendaraan lain yang menyeberang dari arah berlawanan. Saat hujan harus sangat hati-hai karena gerigi lantainya sudah licin dimakan zaman. Kabar terakhir dari temanku, jembatan itu terputus karena dihanyut banjir bandang. Makanya ada jembatan baru yang lebih kokoh.

Setelah jembatan, masih ada sisa reruntuhan longsor dari atas bukit persis di pinggir jalan. Nun agak jauh ke sebelah kanan, di seberang sawah-sawah, di atas bukit itu berdiri kampus Unand- salah satu kampus terbesar di Sumatera Barat. Dimana kita bisa menyaksikan kilau keemasan kota Padang sebelum matahari tenggelam sempurna ke samudra Hindia.

“Sepertinya itu asrama mahasiswa yang waktu itu masih dalam tahap penyelesaian!” kataku dalam hati menduga-duga gedung yang terlihat jelas dari bawah. Lalu menghitung dalam hati, sudah berapa tahun tamat kuliah.

“Aku pernah ke sini, hiking bersama teman-teman. Di ujung sana ada pembangkit listrik kan?”

“Oh ya? Tahun berapa?” Aku kira daerah ini hanya terkenal di kalangan mahasiswa Unand. Jangan-jangan aku yang tidak gaul.

“Sudah lama…”

Di hulu sungai yang kami lalui ini ada sebuah dam untuk menampung air. Air tersebut dialirkan menuju pembangkit listrik yang tidak jauh dari jembatan melalui saluran khusus. Tempat empangan sungai di atas bukit itu diberi nama Patamuan. Artinya pertemuan antara dua anak sungai, satunya jernih satunya agak keruh.

Kalau musim Durian, ramailah orang sepanjang jalan ke Patamuan, selebihnya lengang. Tidak hanya petani yang panen Durian, atau penjual yang langsung membeli ke pohonnya,  tidak ketinggalan juga mahasiswa bagadang Durian ke sana. Entah kalau sekarang.

Sayang sekali sedang tidak musim, jadi aku hanya menyuguhinya cerita Durian saja.

Tidak banyak yang berubah di kampung itu setelah –sekitar empat tahun terakhir ke sana. Hanya persimpangan di dekat kampus yang terlihat lebih ramai, cepat sekali perubahannya.

Aku menegur beberapa orang tua yang wajahnya masih aku kenal begitu berbelok ke halaman rumah. Mereka tersenyum sambil mengingat wajah.

“Ooo, teman Atik!”

“Iya iya! Yang dulu sering ke sini” Samar-samar aku dengar percakapan mereka.

Kami sudah ditunggu, suami temanku malah sudah berangkat kerja. Aku minta maaf karena terlambat dari yang direncanakan.

“Ini calonnya Rin?”

Aku sudah menebak pertanyaan itu pasti akan ditujukan padaku. Kalau bukan dari mama, papa atau mungkin dari temanku sendiri. Aku tidak menyiapkan jawaban apa-apa.

“Pi?” Kataku, sebagai kode bahwa dia yang harus menjawabnya. Namanya Hanafi, jadi aku memanggilnya Pi.

“Rindang ini sudah seperti anak sendiri bagi kami, Jadi jangan sungkan-sungkan. Sesekali ada juga Papa ingatkan buat menikah biar tidak lupa karena kesibukan pekerjaan..!”

“Belum lagi Pa!” Dia tersenyum manis.

***

Rindang

Bersambung || Cerita Sebelumnya

bagadang Durian: pesta makan durian: makan durian ramai2

Silakan Komen di sini :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s