#11-RH-Kalau Jodoh


“Jadi kalian dulu satu SMA tapi tidak saling kenal?”

“Iya, aku cuma sampai kelas satu di sana. Setelah itu pindah!”

“Hahaha.. Hanafi ini dulu bandel Rin!” Si kakak meledek adiknya sambil melirik, yang diledek hanya tertawa ringan.

“Kenangan!”

“Tapi besarnya jadi baik…!” Kini giliran kakak iparnya membela. “Saulah kato urang!”Menatap padaku dengan meyakinkan, bahwa aku sangat perlu untuk mempertimbangkan adik iparnya sebagai calon suami. Yang dibicarakan tetap dengan reaksi yang sama, tersenyum tipis sambil menikmati rokoknya dengan tenang.

Kami baru saja selesai makan, sebentar lagi sholat Zuhur. Kalau paginya makan gulai ikan, kali ini makan goreng ikan balado. Tentu saja enak. Seperti yang dikatakan temanku, masakan Padang (maksudnya masakan Minang) hanya ada dua rasa: kalau tidak enak pasti enak sekali.

Aku menahan diri untuk tidak makan banyak, selain sudah kenyang janji makan ikan bakar sudah menanti. Tapi sebagaimana kebiasaan di tempat kami, tetap dianggap makan belum afdol kalau belum batambuah. Jadi aku mensiasatinya dengan mengambil lebih sedokan pertama biar nanti bisa batambuah. Siasatku rupanya ketahuan oleh kakaknya.

“Alaaa… babaso-baso pula. Tambuahlah!”

Aku tertawa, karena sebenarnya tidak dalam rangka babaso. Satu minggu di Jakarta sudah membuatku taragak masakan awak, apalagi hampir sebulan. Walaupun bisa memesak sendiri, tetap saja masakan di kampung punya kesan tersendiri.

Ante babaso-baso…!” Kemenakannya yang tadi sesekali mencuri-curi pandang padaku sambil malu-malu, dia ikut tertawa. Memamerkan dua gigi depannya ompong, gigi penggantinya baru menyembul sedikit, mengunyah nasi pelan-pelan.

“Rumah Rin di mana di Tanjuang? Sudah lama benar uni tidak ke sana…!”

“Ooo, dekat sana! Kenal si Ni? Kami dulu satu sekolah!”

“Kenal, berarti kita juga satu sekolah. Uni kelas tiga saya kelas satu. Tetapi kita tidak pernah bertemu ya?”

“Mungkin ada, tapi lupa…”

“Iya juga”

Perkenalan dengan “calon kakak ipar” -istilah yang diberikan oleh temanku, yang baru saja aku kabari bahwa kami akan terlambat sampai di rumahnya dari yang direncanakan- berjalan dengan baik. Setidaknya aku bersyukur tidak harus menjawab hal yang membuatku tidak nyaman.

“Jadi kalau sekiranya kalian berjodoh!” Kakak Iparnya menanyakan itu, dengan hati hati “berarti Hanafi pindah ke Jakarta?”

“Tentu saja itu menjadi syarat utama dan tidak bisa ditawar lagi. Kondisi dan pekerjaanku tidak memungkinkan untuk pindah ke kampung. Kalaupun diusahakan, aku belum berniat untuk pindah ke kampung dalam waktu dekat. Aku juga tidak siap untuk menikah lalu berpisah jarak.”

Aku menahan diri untuk tidak mengatakannya. Aku sendiri sudah pernah menyinggungnya pada Hanafi dibeberapa pembicaraan kami.  Iya kalau berjodoh, kalau tidak? Biarlah dia yang menjelaskan pada keluarganya. Akhirnya aku memilih diam dan membiarkan dia yang menjawab.

“Kita lihat nanti Da…!” Jawabnya, tenang.

***

Rindang

Bersambung   Cerita Sebelumnya

  1. Saulah kato urang: Istilah yang dipakai untuk mengatakan “tidak neko-neko” alias baik.
  2. Batambuah : Istilah yang dipakai untuk menambahkan lagi nasi ke piring saat makan.
  3. Ante: tante
  4. Babaso-baso : malu-malu

2 comments

Silakan Komen di sini :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s