#09-RH- Nyaris Nol


Gulai ikan bumbu kuning yang terhidang hampir ludes setengahnya sebenarnya masih memanggil-manggil untuk dihabiskan. Mengingat ada janji makan ikan bakar spesial buatan mama temanku siang nanti, aku urung menambahkan nasi ke piring untuk kedua kalinya.

Aku memuji beberapa kali bahwa gulai ikan itu enak sekali. Pasti Ikan segar yang baru dari laut, mungkin kemaren atau malah baru sampai tadi pagi.

“Jadi si adek sudah kelas dua Tsanawiyah ya Bu? Tidak berasa sudah lama sekali …!”

Kami bercakap beberapa hal yang terlewatkan sejak aku pergi merantau ke Jakarta. Tentang anak pertama Ibu, yang menjadi temanku sudah menikah. Adiknya yang paling kecil sudah akan tamat sekolah dasar tahun ini.

“Tempat kerjaku yang lama, tidak jauh dari sini!” Kataku pada Hanafi, supaya dia tidak merasa asing dalam suasana reuni kami.

“Dulu ibu belum berjualan. Tinggalnya agak ke dalam, itu yang menghadap laut!” Wanita yang kupanggil Ibu itu membereskan meja di sebelah kami dengan cekatan. Beliau bercerita, baru satu tahun ini berjualan nasi dan kopi. Lumayan, karena anak-anak sudah besar dan butuh biaya lebih untuk sekolah cukup terbantu dari warung ini.

Hanafi memanjangkan lehernya, laut yang dia cari terhalang rumah-rumah.

“Dulu aku senang main ke sini kadang sampai magrib. Melihat anak-anak bermain-main di pantai menunggu matarahi tenggelam. Walaupun pemandangan matahari tenggelam sama dengan yang terlihat dari tempat kos, di sini seperti menemukan keluarga. Waktu musim gempa dan ancaman tsunami, aku juga ikut mengungsi bersama Ibu ke daerah Gunung pangilun. Oh, itu daerah kampusmu bukan?”

Dia mengangguk.

“Ada kiranya aku dua tahun tinggal di Padang setelah tamat kuliah, musim-musim gempa itulah. Sekitar enam tahun lalu.  Kenapa kita tidak pernah bertemu ya?”

“Tidak jodoh!”  katanya ringan, aku mengiyakan. Dijentikkan rokok dengan tangan kanannya, gerakannya yang tenang seperti menyatu dengan dirinya. Seperti penari yang meliukkan gerakan tarian yang sudah dimainkannya ribuan kali. Membayangkan ini membuatku jadi gusar.

“Si Adek dulu suka belajar sama Kak Rin, sekarang tinggalnya di asrama pulangnya hanya sekali-sekali saja! Abang sekarang  tinggal di Jakarta Juga?” Ibu memanggilku sebagaimana adik-adik itu memanggilku, memanggil Hanafi dengan panggilan abang seperti adik-adik itu.

Ndak Bu! Di kampung!”

Hanafi menyimak percakapan kami, menjawab yang perlu dijawab, sesekali tersenyum sambil menghisap menghembuskan rokoknya dengan tenang.

Angin yang berhembus dari arah laut, yang tadi membawa suara ombak memecah pantai kemudian memba asap rokoknya terbang menjauh dariku. Pemandangan yang aku takutkan ada tepat di depanku.

“Dia dulu perokok!” Informasi yang dulu aku dapatkan tentangnya menjadi lebih spesifik “Dia adalah perokok dan sampai sekarang masih merokok.” Melihat dia begitu menikmati rokoknya, aku tertahan untuk berkomentar tentang itu.

“Waktu pulang tahun berapa? Kak Rin singgah sepentar saja!”

“Hmm … Sepertinya empat tahun lalu” Aku mencuci tangan setelah menahan godaan untuk tidak menambahkan nasi karena panggilan gulai ikan itu. Hanafi selesai makan lebih dulu, karena sebelumnya sudah sarapan.

“Kita Tidak sempat bercakap-cakap!” Kata Fitri, anak Ibu yang sulung, dia menikah pertengahan tahun lalu. “Jadi bang Hanafi calonnya kak Rin?”

Aku agak terkejut lalu buru-buru melayangkan pandangan kepada Hanafi, biar dia saja yang menjawab pertanyaan itu.

Dia sedang menyalakan pematik api, kemudian memunda membakar rokoknya untuk tersenyum dan menjawab. “Kita liat nanti…”

“Dia adalah perokok dan sampai sekarang masih merokok.” Informasi yang kudapat menjadi lebih spesifik lagi. “Dia adalah perokok, sampai sekarang masih merokok dan dia adalah perokok berat!”

Angka yang semula 60:40 menjadi kacau menuju angka serendah-rendahnya. Jika aku mengibaratkan sedang bermain game, mulai dari skor nol ketika dia menelepon. Skor itu terus meningkat seiring waktu sampai angka 60, lalu sekarang tiba-tiba menurun drastis mendekati angka nol.

Aku menarik nafas berat, menenangkan diri. Bunyi hempasan ombak terasa semakin terdengar keras. Apa aku akan harus mencari cara terbaik dan tersopan untuk menghindar darinya nanti?

Ketika dia menyalakan rokoknya kesekian kali, anehnya skor itu tidak benar-benar turun menjadi nol.

***

Rindang

Bersambung

Silakan Komen di sini :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s