#08-RH- Datang Ke Kota Padang


Ka Pasisia bara seo travel Da?

“Enam ratus ribu…!”

Apo? Mahal pula ongkos ka Pasisia daripada ke Jakarta rupanya, kalau begitu ancak saya balik ke Jakarta saja, tidak sampai segitu ongkosnya…!” Seorang wanita yang baru turun dari pesawat hampir berbarengan denganku langsung protes mendengar harga travel yang ditawarkan .

“Uni menyewa satu mobil tentulah mahal, kalau pesawat sewanya bersama-sama…!” Yang menawarkan tidak hilang akal memberikan alasan.

“Alaaah, tidak sampai semahal itu! Orang kampung sendiri hendak dikibuli!”

“Silahkan ditawar, uni mau berapa?”

“Ndak usah…!”

Aku tersenyum mendengar percakapan itu. Sambil mataku mencari-cari angkutan ke pusat kota Padang. Untuk menuju pusat kota Padang katanya ada dua pilihan selain menggunakan taksi yaitu menggunakan bus Damri dan satu lagi minibus milik swasta.

Kalau ke Bukittinggi aku lebih senang memesan travel ketika masih berada di Jakarta. Lebih nyaman karena tidak perlu kebingungan memilih mau naik apa, tarifnya sudah jelas sesuai perjanjian.

Aku belum sempat mencari tahu apakah Damri di Bandara internasional Minangkabau ini sama dengan yang di Jakarta, tidak harus menunggu penuh untuk berangkat. Jadi aku memilih naik minibus, kapasitas penumpang lebih sedikit, lebih cepat penuh dan bisa langsung berangkat.

“Keterlaluan orang tadi itu ya, awak pula yang hendak dipakuaknya. Cobalah orang seperti hidup di rantau, kalau macam itu tidak laku apapun yang diusahakan! Dak hidup di rantau, kalau berbisnis macam tu!” Rupanya orang yang dimintai ongkos yang melebihi ongkos pesawat ke Jakarta tadi. “Lebih baik naik bus ini ke Padang, nanti di baypass sambung lagi mobil ke Pasisia. Barang-barang ini yang repot awak membawanya!”

Tetes hujan satu-satu jatuh di kaca depan minibus yang aku tumpangi, padahal matahari bersinar cerah. Jam sepuluh kurang lima, sesuai dengan prediksiku.

“Disini hujan, disana bagaimana? Aku baru saja keluar bandara, mobilnya sudah jalan. Nanti aku turun di Purus dekat ….” Segera kukirim pesan pada Hanafi.

“Ok!” Jawabnya singkat.

“Malas awak berdebat dengan orang macam tu. Dipikirnya semua perantau itu banyak pitih! Mau ditawar berapa kalau dia mematok harga pertama segitu!” Rupanya pembicaraan tentang yang tadi masih berlanjut. Musik diputar sayup-sayup sehingga suara orang mengobrol bercampur emosi masih terdengar jelas di belakangku.

“Kadang malas awak pulang kampung ya…!”

Aku juga pernah mempunyai pengalaman yang kurang menyenangkan sebelumnya.

Waktu itu aku hendak pulang, minta tolong diantarkan sampai rumah . Setelah kesepakatan harga –hampir dua kali lipat harga pusat kota Bukittingi. Aku memakluminya karena kampungku jauh dan sudah hampir malam pula. Setelah menurunkan penumpang , lalu gilirannya mengantarku. Sopirnya bilang kalau kampungku kejauhan dan harus menambah paling tidak sepuluh ribu lagi. Tentu saja aku protes karena dari awal sudah mengatakan dengan jelas nama kampungku dan harga yang disepakati tersebut adalah harga sampai ke alamat.

“Itukan uni dengan agen, yang mengantar kan sopir!”

Aku malas berdebat, sebenarnya bukan takut dibilang dibilang pelit, hanya karena pitih sepuluh ribu mau bersitegang urat. Tapi khawatir kalau sopir tidak mau mengantauku sampai alamat, bisa kacau. Sudah malam, tidak ada taksi, angkutan umum sudah tidak ada lagi setelah magrib. Mungkin karena merasa dibutuhkan makanya dia bisa seenaknya.

Sebenarnya tidak semua travel seperti itu, tapi karena nila setitik rusak susu sebelanga. Karena oknum tertentu yang suka seenaknya, hilang kepercayaan orang pada semua. Setelah itu, aku memutuskan memesan travel sebelum sampai di Padang.

Ngomong-ngomong tentang angkutan, yang sedang aku naiki ini lumayan nyaman. Sejuk karena ada AC, sopirnya tidak buru-buru, dan ongkos sesuai tarif yang tercetak pada tiket. Penumpang pun dibantu oleh kenek ketika turun dengan sigap.

Aku melihat-lihat kondisi kota Padang yang sudah dibenahi pasca gempa. Walaupun masih ada sisa-sisa bangunan yang hancur, tapi aktifitas masyarakat terlihat normal.

Mobil menyusuri jalan dengan tenang, tidak ada kemacetan. Aku lega karena sesuai dengan prediksiku. Tapi tiba-tiba setelah kampus Universitas Negeri Padang mobil berbelok ke kiri, ke jalan Khatib Sulaiman.

“Tidak lewat Purus pak?”

“Tidak!”

Yah! Aku lemas. Seharusnya sebelum naik bertanya lebih dulu. MEntang-mentang tujuannya ke pusat kota langsung naik.

Titik hujan lebih rapat daripada ketika meninggalkan bandara tadi. Aku buru-buru minta turun dari pada nanti kejauhan.

“Halo! Hanafi! Ada di mana? ”

***

Rindang

Bersambung

Ka Pasisia bara seo travel : Ke Pasisia berapa sewa travel

dipakuak : dipalak, ditipu

Silakan Komen di sini :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s