#07-RH- Tidak ada yang harus dirisaukan!


Tidak ada yang harus dirisaukan! Bukankah jodoh, rezeki dan maut adalah rahasia Allah? Jika nanti pertemuan aku dan Hanafi tidak berjalan dengan baik, begitulah cara Allah menyelesaikan urusan ini.

Memang aku sekarang berada dimana umurku dianggap “kritis” untuk segera menikah. Namun aku tidak dalam rangka buru-buru dan tidak juga dalam rangka berlalai-lalai. Maksudnya, kalau ada yang cocok maka disegerakan. Kalau tidak cocok, kangsung diselesaikan.

Terkesan egois? Ini untuk kenyamananku sendiri. Misal kalau ada yang bertanya sudah ada calon belum? Aku hanya ingin menjawabnya dengan dua jawaban pasti: ada atau tidak.

Dalam kondisi seperti ini, aku tidak mungkin bilang tidak punya calon. Tujuan kami untuk berkomunikasi untuk melihat apakah perkenalan tersebut bisa diteruskan untuk tahap berikutnya. Tapi aku juga  tidak bisa menjawab sudah punya calon, karena kami belum ada komitmen apa-apa. Kondisi ada dan tiada seperti ini sangat menggalaukan.

Bapak dan ibunya sudah kukenal sejak kecil, sepupunya teman baikku pula. Tidak ada yang harus aku ketahui tentang dia, kecuali dirinya sendiri. Untuk menentukan sikap selanjutnya, kami harus ketemu.

Aku rasa keputusan pulang ini sudah tepat. Melaksanakan niatku untuk pulang mambato pusaro bapak sekaligus bertemu dengan Hanafi.

Aku berusaha menyisihkan rasa kehilangan, pesan terakhir bapak dan harapan terbesar ibu sementara waktu supaya tidak terbawa emosi. Untuk memastikan ini bukan pelarian dari sebuah kehilangan. Untuk memastikan bahwa aku tidak sedang mencari tempat bersembunyi dari kerapuhan karena sudah tidak kuat menyembunyikannya sendiri.

“Mba Rin kuat!” Kata orang kantor yang mengantakranku ke Bandara . Aku masih bisa memberi arahan pada adik-adikku agar segera ke Bandara secepatnya. Menerima telepon dari saudara yang di kampung minta persetujuan untuk penyelenggaraan jenazah dan pemakaman bapak. Menerima kenyataan bahwa aku tidak bisa melihat wajah bapak untuk terakhir kalinya. “

“Iya, saya harus kuat! “ Itu saja jawabanku waktu itu. Bagaimanapun aku tidak boleh menunjukkan bahwa sebenarnya rapuh di depan adik-adik dan terutama sekali ibu.

Semoga ini bukan caraku menyibukkan diri untuk melupakan kesedihan. Berkali-kali aku berkata pada diri sendiri.

“Hai Rindang! Kalau ini cara licikmu untuk berpura-pura kuat dan hanya untuk membuat ibu bahagia. Kau tidak akan aku maafkan! Sebab ini berkaitan dengan perasaan orang lain dan juga perasaanmu. Untuk apa kau berpura-pura sekarang kalau pada akhirnya kau menyesal seumur hidup!”

Ya Allah Yang Maha Mengetahui rahasia dibalik rahasia, kupasrahkan semua padaMu. Bukankah Allah memberi apa yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan.

Aku sudah mau tidur ketika telepon berbunyi. Hanafi! Aku pikir dia tidak akan menelepon. Aku hampir mengira pertemuan itu tidak akan berjalan baik. Dia sudah tidak mengontakku beberapa hari.

“Jam berapa mendarat di padang?”

Aku sengaja mengambil penerbangan pang karena pertimbangan cuaca. Sering hujan setelah tengah hari.

“Aku ke Padang naik sepeda motor, nanti kita bertemu di tempat kawanmu saja…!”

“APA? Sepeda motor?” Sumpah aku tidak bermaksud meremehkannya menjemputku menggunakan sepeda motor. Tapi aku tidak bisa naik sepeda motor dari padang ke Bukittinggi. Sangat beresiko dimusim penghujan sekarang, bagaimana pula kalau tiba-tiba hujan deras, jalan licin dan paling mengerikan termasuk untuk angkutan umum yaitu longsor. Jarak tempuh Padang Bukittinggi selama dua dua jam bisa menjadi berjam-jam.

“Karena berencana singgah ke tempat kawan, jadi nanti bisa lebih cepat!”

“Tapi koperku berat…!” Kataku berkilah, karena memang koperku cukup berat. Ada beberapa barang yang sebelumnya sudah direncanakan dibawa pulang. Berhubung kemaren itu pulang mendadak, barangnya urung dibawa.

Dijujuang bagai koper tu beko…!” Suara di sana terdengar santai saja, aku tertawa mendengar. Aku rasa dia sedang melucu tapi dia sendiri tidak tertawa.

“Baiklah..!” Kataku mengalah, sebenarnya merencanakan cara untuk berkilah. Aku rasa akan ada alasan yang tepat untuk tidak pulang bersamanya ke Bukittinggi, tapi nanti saja kalau kami sudah bertemu.

“Tidak ada yang harus dirisaukan!” Kataku menghibur diri sebelum tidur. Besok pagi-pagi sekali, setelah sholat subuh aku akan berangkat ke bandara lalu terbang ke padang. Kurang duabelas jam lagi bertemu dengan seseorang yang mungkin akan menjadi jodohku dan mungkin juga tidak.

***

Rindang

Bersambung || Cerita Sebelumnya

Dijujuang bagai koper tu beko: Dijujung (diangkat menggunakan kepala) koper itu nanti!

Silakan Komen di sini :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s