#07-RH- Takut


Aku akan pulang sekaligus bertemu dengan Hanafi.

Rencananya sebelum pulang ke kampung aku bermaksud silaturahmi ke tempat sahabat lama di kota Padang. Setiap pulang kampung aku berjanji padanya untuk singgah kalau sempat. Tapi kenyataannya lebih empat tahun tidak pernah menepatinya. Aku dan Hanafi akan berkunjung ke sana.

Beberapa hari setelah mengabarkan bahwa aku akan pulang, dia tidak pernah lagi mengontakku. Aku jadi mengira-ngira sendiri ada apa di sana.

Sesekali ada niatan untuk menelepon sekedar bertanya kabar atau bertukar cerita seperti diawal-awal perkenalan, tapi tidak jadi. Yang pertama lantaran gengsi, dia saja tidak berniat bertanya kabar kanapa aku harus bertanya.

Alasan kedua tidak baik juga buatku. Karena simpulan sementara interaksi awal dengannya adalah 60:40 untuk lanjut ke tahap berikutnya. Aku tidak ingin nilainya meningkat sebelum kami bertemu. Sebab mungkin ini kelemahanku, kalau terlanjur suka atau terlanjur ilfil bisa kerepotan mengembalikan ke kondisi 50:50 kalau ternyata tidak bisa lanjut ke tahap berikutnya.

Disuatu sisi aku tidak suka diacuhkan seperti ini. Sedikit was-was, ia serius apa tidak ya?

Dalam keadaan seperti sekarang aku harus hitung-hitungan. Apalagi membutuhkan konsekuensi keuangan yang tidak sedikit. Tapi ya sudahlah! Daripada pusing, biarkan saja. Kalau pertemuanku dengannya tidak jadi, ya sudah. Aku tidak akan rugi tiket. Niatku pulang untuk mambato pusaro bapak sudah terlaksana.

“Ya Allah, berikanlah petunjukmu! Jika memang aku berjodoh dengannya, maka mudahkanlah. Jika tidak, mohon segera diselesaikan urusannya!”

Jadi teringat percakapan terakhir kami melalui telepon, sehari sebelum kepergiannya.

“Bapak harus cepat sembuh, nanti ke Jakarta lagi!”

“Bapak tidak akan ke Jakarta lagi…!”

“Bapak mau bertemu dengan calon menantu?” Aku hanya bermaksud menghiburnya, tidak ada yang akan bertemu beliau saat itu. Biar bapak lebih optimis, kepercayaan dirinya semakin menurun sejak terserang stroke yang kedua. Yang penting bagaimana membuat bapak bersemangat dulu, toh aku tidak bohong. Siapa tau menjelang bapak ke Jakarta aku bertemu jodoh.

“Hehehe… Jangan lama-lama ya!” Maksudnya adalah  jangan lama-lama untuk menikah biar beliau tidak menunggu lagi. Bapak tertawa, hal yang jarang-jarang kami dengar.

“Ndak Pak…!”

Bapakku sayang, aku akan bertemu dengan seseorang yang mungkin akan menjadi jodohku dan mungkin juga tidak.

Bapak sering bilang kalau aku kuat. Iya, aku kuat. Setidaknya selalu terlihat kuat. Sejak pelan-pelan mengambil tugas sebagai tulang punggung keluarga, akupun belajar menyembunyikan kerapuhan. Empat tahun adalah waktu yang cukup buatku untuk belajar agar terlihat kuat seperti ini. Kalaupun sebenarnya rapuh, atau malah sangat rapuh.

Saat ini aku benar-benar takut, takut terbutakan oleh kerapuhan. Takut jika ini hanya sebagai pelarian. Takut jika ini hanya karena emosi sesaat yang ingin memenuhi keinginan terakhir bapak. Takut kalau ternyata menemukan sandaran yang rapuh pula.

Aku menarik nafas dalam-dalam  setelah membereskan barang-barang ke dalam koper. Hanafi tidak juga menelepon. Jika besok kami tidak jadi bertemu di Padang, urusan dengannya selesai. Berarti tidak jodoh. Apalagi yang aku risaukan?

***

Rindang

Bersambung || Cerita Sebelumnya

Silakan Komen di sini :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s