#06-RH- AKU PULANG!


Aku berusaha menelepon ibu lebih sering dari biasa, agar beliau tidak kesepian. Topik yang biasanya tidak pernah aku tanyakan menjadi hal yang paling ditanyakan sekarang. Apakah hari itu hujan atau cerah, sudah berapa lama hujan tidak turun, apakah tanaman ibu baik-baik saja, ada yang terserang penyakit? Sudah bisa dipanen atau belum? Setelah percakapan itu, ujung-ujungnya sampai juga pada Hanafi.

“Bagaimana kabar Hanafi? Masih menelepon?”

Setelah Bapak meninggal, kabar itu adalah kabar yang paling membahagiakan buat ibu. Menikah dengan orang yang sesuai dengan harapan orangtua adalah berkah. Ibu dari dulu sangat berharap aku tidak dapat orang seberang. Nah kalau sekarang beliau melihat peluang dengan seeorang yang keluarganya sudah dikenal dengan baik, bahagianya tidak terkira. Tapi aku tidak mau memutuskan menikah hanya untuk membahagiakan ibu. Karena susah senang dan segala permasalahan yang akan dihadapi setelah menjalani pernikahan nanti, akulah yang akan merasakan.

Aku sebenarnya tidak suka membahas itu. Aku tidak mau bercerita pada ibu, takut ibu terlanjur bahagia. Kalau ternyata nanti aku tidak suka atau kalau dia tidak suka, bagaimana?

Jadi bekakali-kali aku katakan bahwa itu baru pembicaraan biasa. Dia atau aku menelepon beberapa kali sesudah itu, tapi belum memberi petunjuk apa-apa. Masih perkenalan!

*

“Kapan ke Jakarta?” Tanyaku pada Hanafi waktu itu. Dia belum memutuskan kapan ke Jakarta. Apa aku yang harus pulang untuk bertemu dengannya? Sebenarnya aku sudah punya rencana untuk pulang, tapi itu masih lama. Sekitar tiga bulan lagi untuk  mendoa’ 100 hari sekaligus mambato pusaro bapak.

Mambato pusaro (menembok pusara) merupakan sebuah tradisi di tempat kami. Dimana hari itu pusara diberi tembok dan nisan yang permanen. Ada yang menggunakan bata, batu kali juga keramik, tergantung keluarga almarhum. Dimana pada hari itu keluarga yang laki-laki “menembok” pusaro almarhum. Sedangkan yang perempuan menyiapkan makanan bagi orang yang mambato.

Adat babuhua sentak, syarak babuhua mati. Jika itu tentang adat dan tradisi maka tidak mutlak harus dilaksanakan, tetapi bisa dimusyawarahkan dan disesuaikan dengan situasi dan keadaan keluarga. Tapi jika itu berbicara tentang syarak, maka mutlak dilaksanakan sebagaimana mestinya alias tidak ada tawar menawar .

Jadi tradisi mambato pusaro ini biasanya disesuaikan dengan kondisi keluarga almarhum. Mulai yang dilaksanakan oleh keluarga inti saja, dan ada juga yang mengundang kerabat dekat dan jauh. Jika yang meninggal memiliki keluarga yang “kambang” – maksudnya mempunyai anak keturunan dan sanak saudara yang banyak, jumlah orang yang mambato bisa memenuhi rumah gadang tigo ruang.

Sebenarnya yang “menembok” pusara diserahkan pada keluarga yang punya keahlian ahli bertukang, atau tukang yang dipanggil saja. Sisanya bergotong royong mengangkat pasir, mengaduk semen, membawa batu dan kadang ada yang tidak dapat bagian pekerjaan karena “saking” banyaknya yang datang untuk mambato. Bisa dikatakan juga mambato pusaro merupakan saat dimana keluarga almarhum yang ditinggalkan untuk bersilaturahmi. Dimana saudara-saudara yang tidak pernah bertemu karena kesibukan masing-masing bisa saling bekerja sama.

Waktu aku akan balik ke Jakarta  sudah diputuskan bahwa mambato pusaro bapak  bersamaan dengan mendo’a 100 hari meninggalnya bapak.  Saat itu juga sudah diputuskan untuk mambato pusaro cukup kami sekeluarga, adik-adik bapak dan beberapa orang kerabat dekat.

Sebagaimana yang ada di tempat kami, keluarga mengadakan doa bersama saat 7 hari, empat puluh hari dan 100 hari setelah meninggalnya anggota keluarga. Jadi aku sudah punya rencana untuk pulang saat mendoa 100 hari sekaligus mambato pusaro bapak. Sedangkan untuk mendo’a 40 hari  aku serahkan saja pada sanak saudara dan keluarga yang ada di kampung.

Rasanya tidak mungkin pulang dalam bulan ini, lalu pulang lagi dua bulan kemudian. Keuanganku tidak mengijinkan untuk itu. Mau tidak mau, harus menunggu untuk bertemu. Bagi sebagian orang mungkin tidak ada masalah. Tapi bagiku menjadi masalah besar.

*

Dulunya kami satu sekolah pas SMA jadi punya sedikit gambaran tentangnya. Dia termasuk bandel, makanya pindah sekolah. Menurut informasi yang aku dapat, dia orangnya baik. Bukannya tidak percaya pada sumber informasi, tetap saja aku harus melihat sendiri. Satu hal lagi yang penting untuk bertemu adalah dia tidak mengenalku sama sekali.

Rasanya sangat tidak efektif berkomunikasi lewat telepon selama tiga bulan. Walaupun tinggal di jakarta, di kontrakan maupun di tempat kerjaku sinyal telepon kurang bagus, jadi untuk menelepon  membutuhkan energi tersendiri bagiku. Kadang harus naik ke atap kalau mau pembicaraan terdengar jelas.

Harus bagaimana? Aku bukan orang yang mengikuti air mengalir semuanya harus diperhitungkan dengan matang. Apa dibiarkan menggantung sampai waktu bertemu?  Iya kalau jodoh, kalau tidak jadi? Orangtua sudah terlanjur senang, awak satu kampung pula. Kalau tidak jadi tapi terlajur dekat, nanti pasti akan menjadi canggung satu sama lain.

“Ya Allah, berikanlah petunjukmu! Jika memang aku berjodoh dengannya, maka mudahkanlah. Jika tidak, mohon segera diselesaikan urusannya.”

*

Tiba-tiba di suatu siang yang cerah Etek- adik bapak yang ada di kampung memberi kabar tak terduga.

“Etek berencana mambato pusaro bapak hari jum’at dua minggu lagi bertepatan mendo’a 40 hari!”

Begitu yang disampaikan etekku.  Aku heran kenapa tiba-tiba berubah begini.

“Karena kami yang ada di kampung  agak lapang pada hari itu. Banyak yang bisa membantu. Ibumu setuju, Etek-etek yang di rantau sudah setuju pula. Kalau kamu bisa minta cuti, pulanglah!”

Hari itu juga aku mengajukan cuti, memesan tiket dan mengabarkan: AKU PULANG!

***

Rindang

Bersambung || Cerita Sebelumnya

Silakan Komen di sini :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s