#05-RH- BAB III


“Jadi boleh diposting?”

Sebelumnya aku sudah bilang padanya, kalau tulisan itu yang terinspirasi dari kisah asli, bukan benar-benar persis dengan cerita yang sebenarnya. Jadi kalau ada momen yang didramatisir atau ada hal yang dia tidak setuju mohon dimaklumi. Kalau ada yang harus direvisi, aku akan revisi. Tentu saja aku berharap jawaban boleh, sebab aku tidak perlu merevisi tulisan yang terlanjur dibuat. Tinggal posting di blog.

Kenapa harus ditulis? Alasan pertama adalah, aku ingin mengabadikan momen spesialku bersamanya. Aku rasa daya ingatku tidak terlalu bagus untuk menyimpannya dalam memori internal. Selanjutnya untuk latihan menulis, aku mulai dari hal yang disuka. Agar bisa berlatih dan tidak sulit untuk menggali emosi cerita. *halah! hahaha

Aku jadi semangat menulis karena seolah mendapat sinyal “tulis saja sesukamu”. KArena ini kisah kami, maka aku perlu minta persetujuan.

“Tidak apa-apa diteruskan?” Tetap saja aku memancingnya, “Bagus tidak?” Pertanyaan ini jelas sekali membutuhkan jawaban pujian.

“Baguuus!”

Aku tidak bisa menggambarkan suasana hati yang mendapat pujian dari orang yang pelan-pelan cintanya tumbuh dihati. Semangatku tiba-tiba cepat melesat, ingin sekali menuliskan apapun itu.

“Jadi boleh diteruskan?”

“Boleh!”

Horee! Horee! Tulis! Tulis! Ada yang berteriak-teriak dalam diriku. Aku benar-benar tidak ingin melewatkan sedikitpun momen tentangnya tanpa terdokumentasikan dengan baik dalam tulisanku. Bagitulah dahsyatnya kenginan waktu itu.

“Tapi, lebih baik ditulisa bab III terlebih dahulu!”

“Bab III?” Keningku jadi berkerut. Ada-ada saja. Mana bisa ceritanya loncat begitu. Kalaupun pakai alur mundur, tetap saja bab I yang ditulis duluan. Kan ceritanya akan diposting di blog.

“Iya! Bab III!”

Mulai bercanda dia. Maksudnya biar pembaca penasaran? Pakai alur mundur saja, kalau ceritanya acakjadi tidak seru.

“Hayooo, sudah melupakan bab II rupanya…”

“Oh, yang itu!” Tiba tiba semangatku berhadapan dengan kenyataan. Tugas akhir yang mengendap hampir setahun karena beberapa hal selalu saja tertunda.

Aku mulai mencari alasan kalau proyek tulisan ini harus diselesaikan. “Kalau itu sih bisa paralel dengan tugas akhir!”

Karena kami berbicara di telepon aku tidak bisa melihat ekspresi wajahnya waktu itu. Aku tau dia tidak setuju dengan apa yang aku katakan, dia diam.

“Tugas akhir selesai, ceritapun selesai! Siapa tau nanti endingnya sampai aku wisuda! Seru kan?”

Dia tidak menjawab apa-apa. Tidak mungkin aku berhenti menulis saat semangat sedang membara seperti ini. Biasanya ide dan semangat tidak selalu datang bersamaan . yang mungkin dia belum tau. Sudah laam aku ingiin menulis cerita yang benar-benar selesai sampai tamat, karena biasanya selalu menggantung.

Dia masih diam, akhirnya aku diam juga. Percuma juga menjelaskan bahwa aku sedang manantikan saat semangat menulis seperti ini sejak dulu. Harusnya dia mengerti karena ku sudah mengatakan kalau moodku sering berubah-rubah. Jadi kalau sedang ingin menulis apa, sebaiknya tidak dilarang.

“Baiklah besok aku mulai mengerjakan tugas akhir…” Kataku akhirnya, tidak benar-benar bermaksud begitu. Hanya untuk mencairkan situasi yang beku. Daripada dia diam.

“Begini Rin…” Sepertinya dia tau maksudku tidak sungguh-sungguh “Kemaren saja, konsentrasi Rin tidak terpecah, tugas akhirnya bisa mengendap sekian lama. Apalagi kalau terpecah begini…”

“Iya, tahun lalu kan ada masah itu…” Aku menjelaskan dengan nada semanis mungkin. Tahun kemaren kami belum bertemu, makanya aku perlu memberikan penjelasan padanya kenapa tugas akhirku belum juga selesai. Bukan karena berleha-leha. Aku tipe orang yang bersungguh-sungguh, keliru kalau dia meremehkanku tidak bisa melakukannya. Karena ada masalah!

“Semester kemaren juga ada masalah pas dengan mepetnya waktu mengajukan sidang…”

“Terserah Rin, yang penting tugas akhirnya dikerjakan…” Katanya.

Yap! Aku suka cowok seperti ini. Tidak mengekang, tidak mendikte dan membebaskan aku melakukan apa yang aku mau. Sebagai orang dewasa, aku sangat mengerti dengan konsekuensi dari keputusan itu.

Bagaimanapun ide sudah mengendap dalam kepala, kalau sampai terhenti bisa-bisa idenya menguap entah kemana.

“Tapi ada baiknya dibuat prioritas, sebab akan mengurus pernikahan juga ya..!”

Gantian sekarang aku yang terdiam. mencerna kata-katanya di kepala yang mungkin ada benarnya.

“Nan-ti, kalau tugas akhirnya sudah selesai, kamu bisa menulis apaa sajaa!” Dari cara dia menyampaikan mengingatkanku pada seseorang. Bapak!

“Kalau tidak diselesaikan sekarang, harus mengulang semester depan. Bayangkan waktu yang terbuang…”

“Uang juga!” Potongku, langsung ingat “uneg-uneg” yang membuatku harus selesai kuliah segera. “Iya, nanti Tugas akhirnya dikerjakan…”

“Fokus selesaikan bab III, lanjut bab IV dan selesai!”

Sementara ide ceritanya dikunci, sampai tugas akhirnya selesai.

***

Rindang
Bersambung || Cerita Sebelumnya

2 comments

Silakan Komen di sini :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s