#04-RH- Kabar Gembira


Kondisi kesehatan Ibu menurun setelah meninggalnya bapak. Untungnya masih ada adik-adik yang menemani di rumah. Adikku yang cewek dapat jatah cuti lebih lama dariku, sehingga dia bisa lebih lama di kampung.

Ketika adikku sudah balik, otomatis ibu merasa sangat kesepian. Biasanya dari pagi sampai sore selalu ada yang dikerjakan untuk bapak. Selalu ada yang dicereweti.

Aku tidak terbiasa mengobrol dengan ibu dari dulu, hanya hal-hal yang penting saja. Aku mencoba menelpon lebih sering dari biasa. Namun tidak banyak hal yang bisa aku bicarakan, hampir sama dengan ketika bapak masih ada. Beberapa pertanyaan sudah tidak mungkin diajukan lagi.

“Bagaimaba kabar ibu? Sudah makan? Bagaimana di rumah?”

“Bapak bagaimana bu? Sudah makan? Sayurnya apa? Bagaimana perkembangannya?”

Biasanya ibu akan bercerita tentang bapak hari itu. Moodnya bapak, sedang baik atau tidak baik. Tekanan darahnya yang tidak berubah.Bapak merajuk karena tidak boleh makan pantangan.

Sekarang pertanyaan-pertanyaan itu sudah tidak ada lagi. Aku kehilangan bahan pembicaraan. Pertanyaanku  dan jawabannya hampir sama tiap hati. Kondisi ibu baik dan sehat, sudah makan, di rumah baik-baik saja!”

“Hanafi menelpon!” Aku memutuskan membuka percakapan. Agak canggung membicarakan hal yang belum aku anggap penting untuk meminta pertimbangan ibu. Tapi biarlah, aku perlu membebani beliau dengan sedikit pikiran lain agar tidak merasa tidak ada hal yang akan dipikirkan dan dikerjakan lagi.

“Oh, dia menelpon?” Suara ibu jelas sekali terdengar gembira.  Padahal ku berusaha bicara dengan nada senetral mungkin. Tidak menunjukkan emosi apapun, bahwa aku senang atau tidak senang dengan hal itu.

“Hmmm, kapan?” Ada rasa canggung juga dari pertanyaannya. Di suatu sisi mungkin beliau ingin tau tapi di sisi lain, kami tidak terbiasa saling bercerita.

“Minggu lalu…!”

“Bicara apa saja?”

“Biasa, seperti teman yang sudah lama tidak bertemu!”

Ibupun sama denganku, canggung. Hingga beliau tidak meneruskan pertanyaan berikutnya. Walaupun ga bilang terus terang, ibu berharap banyak dari perjodohan itu. Aaa…k!!! Akhirnya aku tetap menulis istilah perjodohan untuk perkenalan kami ini.

Aku berusaha memahami kekhawatiran ibu tentang umurku yang sudah dianggap kritis untuk segera menikah. Aku juga berusaha memahami keinginan terbesarnya untuk mendapat menantu bukan orang seberang. Tapi aku tidak mau karena alasan tersebut menjadi gegabah dalam mengambil keputusan. “Iya, masih cerita yang biasa-biasa saja!”

Aku juga mengabari ni Riri, tetanggaku yang sebelumnya pernah menanyakan pendapatku tentang perjodohan itu.

“Jadi Iyo inyo manalepon?” Sambutan sangat dramatis dengan nada orang kaget seperti di sinetron, aku bisa membayangkan senyum ni Riri. Yang dua tahun lalu cerita kalau orangtua Hanafi berharap kami berjodoh. Padanya aku pernah bilang tidak mungkin Hanafi akan menguhubungiku.

“Berarti dia mau sama kamu…!”

Aku langsung menjelaskan bahwa itu masih pembicaraan biasa.

“Asal kamu tahu ya, sudah banyak yang dijodohkan dengan dia tapi ditolak semua…!”

Akupun berusaha menetralkan suasana. Tidak boleh mengambil kesimpulan apapun sebelum ada kesepakatan. Kalaupun aku berani mengira-ngira kemungkinannya 60:40. Tetapi tidak untuk disampaikan pada mereka. Cukuplah nanti jika keputusanku dan Hanafi sudah final.

“Sebenarnya Ibumu dan Ibunya sudah bercerita pada Uni kalau Hanafi menelepon. Angeeek bana hati mereka…!”

Seorang laki-laki menghubungi nomor telepon perempuan yang diberikan oleh orangtuanya, lalu berkenalan bukan berarti dia mau dijodohkan dengannya. Begitu sebaliknya, kalaupun yang perempuan menerima telepon dan berbicara baik-baik dengannya bukan berarti juga dia mau dijodohkan laki-laki tersebut.

“Apalah itu, pokoknya mereka sangat senang mendengar kabar itu!”

Baiklah! Akhirnya aku mengurut dada, entah cemas entah ikut bahagia mendengar kabar kebahagiaan ibuku dan orangtuanya mengenai dia yang menelponku di bulan Januari.

Hal yang paling aku takutkan, memutuskan iya hanya karena orangtua sudah terlanjur bahagia.

***
Rindang
Bersambung || Cerita Sebelumnya
Iyo inyo manalepon? : Apa benar dia menelpon?
Angek bana hati : Bahagia sekali

2 comments

  1. Gileee… Seru abisss… Menikmati kata demi kata yang menghempaskanku ke dalam rasa penasaran…

    Hmm.. di sindang Rindang sekali yah… #eh..:mrgreen:

    Keep writing sis! Can’t wait for the next chapter…🙂

Silakan Komen di sini :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s