#03-RH- Cek dan Ricek


Ketika ada berita dari kampung, bahwa seseorang mungkin akan menelepon (dan mungkin juga tidak). Aku bermaksud terlebih dahulu mencari tahu tentang dia. Tapi karena sesuatu hal, niat itu belum kesampaian. Dalam jangka waktu itu, dia tidak mengontak sama sekali. Kemudian terdengar kabar, dia sudah pulang kampung. Lalu cerita tentang itu begitusaja terlupakan.

Ketika ada lagi berita dari kampung, bahwa seseorang akan menelepon (dan mungkin juga tidak). Orang yang sama dengan yang dua tahun lalu. Aku bermaksud untuk mencari tahu tentang dia. Tapi apa alasannya untuk mengontakku sekarang?

Ceritanya jelas akan berbeda. Aku sudah menetap dan benar-benar akan tinggal di Jakarta. Tidak bisa pindah dan sama sekali tidak punya rencana pindah dari Jakarta dalam waktu dekat. Sedangkan dia berada di kampung sana. Kecuali dia berniat kembali ke Jakarta.

Tapi baiklah, tidak ada salahnya jga mencari tau. Sekiranya dia berubah fikiran dan tiba-tiba mengontak, sedikit banyaknya aku sudah tentang dia. Aku tidak semerta-merta menolaknya karena kesan pertama yang kurang berkenan. Aku juga tidak inin terpedaya sekiranya diawal pembicaraan sangan berkesan.

Yang aku tahu, dulu di sekolah dia bukan anak bandel bukan pula anak populer. Biasa saja. Sekarang, sedikit banyaknya pasti berubah. Kabarnya dia sudah merantau ke Pakanbaru sebelum ke Jakarta dulu. Selain rantau dan pergaulan, waktu juga akan merubah seseorang.

Aku mengenal Bapak dan Ibunya dengan baik, tapi tidak tentangnya. Pepatah buah apel tidak akan jatuh jauh dari pohonnya tidak bisa dipakai dalam kasus ini. Memang kalau jatuh tidak jauh dari pohonnya, tapi bagaimana setelah itu? Bisa saja apel itu nyasar jauh. Seumpama ditendang orang yang kebetulan lewat, dicuri binatang atau dihanyutkan air bah. Harus cek dan ricek dulu!

“Dia orangnya baik. Hormat pada orangtua, bahasa kitanya “saulah” alias tidak neko-neko. Cuma kamu harus memaklumi kondisinya sekarang belum bekerja lagi.” Meli – sumber pertama . Sahabat dekatku sekaligus sepupunya memberi info, menurutku akurat.

“Kayanya dulu sih punya pacar, trus bla bla…” Info pertama didapat, selanjutnya cari info lagi.

“Orangnya baik, gak neko-neko …!” tetangga – sumber kedua “Pokoknya didikan orangtuanya bagus. Kami suka kagum lho melihat anak pak tuo itu. Kalau hari Jum’at tuh, pasti udah pada keren-keren buat berangkat ke Masjid!”

“Dia rajin sholat! Selama yang ibu pernah lihat. Kalau masuk waktu sholat, dia pasti udah siap-siap!” Ibuku- sumber ketiga.

“Kalau merokok, iya! Saya pernah melihat dia nongkrong di simpang jalan sana sambil merokok!” Saudara- sumber berikutnya.

Begitulah info dari hasil penelusuran yang didapat. Penilaian itu bersifat subjektif , tapi paling tidak aku sudah punya gambaran.

Dia merokok! Rasanya ingin menitipkan pesan untuk orangtuanya bahwa tidak usahlah disruh anaknya menelepon. Rasa tidak akan bertemu ruas dengan buku. Selama ini aku mencari calon suami dengan syarat utama “tidak perokok”.

Haha, kenapa itu dipikirin. Belum tentu juga dia bakal menelpon. Sudah lupakan saja!

“Pokoknya suka atau tidak suka, tetaplah bicara baik-baik dengannya!” Pesan yang aku ingat. “Dia patuh pada ibunya, biasanya orang seperti itu penyayang. Dan tidak akan menyakiti orang yang dia sayang!”

Ada baiknya aku mencari tahu dulu. Jadi ketika dia menelepon, tinggal mencocokkan pendapat dari sumber-sumber terpecaya tersebut dengan dia yang sebenarnya.

Ketika dia menelepon, sejauh percakapan kami, belum ada yang meleset.

Ternyata setelah ngobrol sampai topik pembicaraan habis, aku tidak punya alasan untuk tidak melanjutkan perkenalan itu. Entah kalau dia punya niat yang sama, aku tidak tau.

Aku jawab terserah, ketika dia menanyakan tentang niat orangtua.

“Ya ga bisa terserah gitu, setidaknya kita harus ketemu dan ngobrol dulu…” Aku setuju dengan pendapatnya.

“Rindang tahu kan kondisiku sekarang bagaimana?”

“Iya, sudah diberitahu…!”

“Aku hanya punya niat baik. Sekarang katakan apa yang jadi fikiran Rindang, …!”

“Aku anak pertama dan bapak baru saja meninggal. Aku orangnya sedikit keras ….!”

Menurutku akan lebih baik menyampaikan apa yang jadi fikiranku, hal-hal yang mungkin perlu diketahui langsung dari aku. Biar dia tidak kaget. Kalau memang jodoh, maka Allah akan mempertemukan. Kalau tidak, agar urusannya segera diselesaikan.

***
Rindang
Bersambung || Cerita Sebelumnya

Silakan Komen di sini :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s