#01-RH-Ada yang menelepon di bulan Januari


faula

Foto ilustrasi: nola

Sebuah nomor baru muncul di layar ponselku. Melihat sekilas, semerta-merta aku ingat dua angka terakhir di belakang.

Seseorang sudah berpesan, jika nomor itu menelpon jangan langsung ditutup. Suka atau tidak suka, bicaralah baik-baik dengannya.

Bus yang aku tumpangi tidak sedang penuh, cukup nyaman untuk mengangkat telepon walau sambil berdiri. Aku berfikir sebentar. Daripada menelpon balik , daripada nanti bingung untuk bicara apa, Jadi lebih baik mengangkat telepon itu agak sebentar.

“Ini siapa?” Aku bertanya, sekedar formalitas sekaligus memastikan siapa yang bicara.

“Hanafi!”

“Oh, siapa yang ngasih nomor hp? Pak Tuo ya?”

Aaaak, kenapa nanyain itu sih? Tapi ya sudahlah, daripada ga ada yang ditanyain. “Pak Tuo” adalah panggilanku untuk bapaknya.

“Iya!”

“Nanti ditelpon lagi ya, ini lagi di bus…!”

Ada angin apa ini? Kenapa dia memutuskan untuk menelepon?

Pesan seseorang yang aku ingat, kamu harus bicara baik-baik. Oke sip, aku sudah bicara dengan baik. Malah dengan ramah seperti biasa. (Beneran lho aku aslinya ramah, kalo telpon gak jelas baru deh jutek). Beliau mungkin merasa bersalah memberikan nomor hp tanpa persetujuan terlebih dulu.

Masa-masa kritis sudah lewat. Kalau dulu memang, ditanya baik-baik aja aku udah sensi banget. Apalagi kalau yang bertanya atau cara bertanya tidak berkenan di hati, akan aku balas dengan tindakan atau kata-kata yang tidak menyenangkan. Kalau aku  masih punya rasa hormat pada yang bersangkutan, paling kurang ngedumel dalam hati .

“Kamu siih, terlalu banyak milih! Makanya ga nemu-nemu…!” Hellow, bagaimana ga mlih orang yang bakal menemani kita buat menjalani separo hidup ini? Keset aja buat diinjak-injak masih dipilih-pilih sebelum dibawa pulang.

“Jangan mikirin karir melulu, gitu perempuan kalau sudah bekerja ….!” Siapa bilang? Sok tau banget deh! Emang dia  yang tau apa yang ada di kepalaku? Emangnya aku curhat sama dia?

Kalau hidup ini bisa seperti apa yang kita inginkan, dulu aku tidak pernah berkeinginan menikah melewati umur duapuluh lima.

Kalau kenyatannya sekarang berbeda, aku harus bagaimana? Ketika umur sudah duapuluh tujuh, apa aku harus marah sama Tuhan kalau belum diberi jodoh? Ketika lewat lagi dari itu, apa aku harus ngamuk-ngamuk sama Tuhan? Apa aku harus meminta siapa saja yang bersedia menikah denganku ketika target umur sudah mendekati? No! *Haha, jadi emosi nih.

Akhirnya masa sensitif itu segera berlalu, setelah mencoba beberapa jurus yang disarankan oleh teman. Daripada marah-marah, mending tarik nafas dan ucapkan kata-kata minta doa. Umpamanya begini:

“Rindang, kamu kapan nih ngasih undangan? Si Anu tuh, yang sama SMA sama kamu. Anaknya sudah mau tiga. Jangan lama-lama…!”

“Mohon do’anya ya tante, siapa tahu karena do’a tante saya ketemu jodohnya!” Sambil tersenyum dengan manis. Awalnya mungkin susah, tapi anggap saja belajar akting, lama-lama jadi biasa.

“Apa juga yang masih ditunggu? Nunggu yang mana lagi? Sudah jangan pilih-pilih!” Kalau yang seperti ini benar-benar tidak peka. Tentu saja sedang menunggu calon suami Perasaannya lagi diumpetin ke dalam perut bumi. .

“Mohon do’anya bu, ini masih nunggu calonnya!” Sambil berusaha tersenyum dengan ikhlas  “Saya juga menunggu do’a dari ibu, mungkin karena do’a Iibu saya bisa dapat jodoh!”

Atau yang agak ekstrim sekalian “Ya monggo diajukan calonnya pak, bu, biar saya pilih…!” Hahaha

Awalnya susah minta ampun, bermanis-manis sama orang sama sekali tidak mengerti. Orang yang asal menghakimi. Tapi lama-lama jadi terbiasa dan akhirnya tidak terbebani dengan pertanyaan itu lagi.

Eh kembali ke cerita dia yang menelpon di bulan Januari.  Waduh! Kenapa tadi saya yang janji nelpon balik sih?

Terpaksa deh nelpon balik, padahal lagi ada acara. Pas istirahat makan siang sekedar menepati janji, aku menelpon. Kami ngobrol sebentar. Menurutku tidak masalah kalau melanjutkan obrolan nanti-nanti. Sementara aku masih bertanya-tanya dalam hati.

Bukankah ceritanya sudah hampir basi? Dulu waktu sama-sama tinggal dan bekerja di Jakarta, dia tidak mengontakku samasekali. Sekarang angin apa yang datang bertandang?

“Mengingat kondisi sekarang, punya nyali apa dia menelpon?” Begitulah sangkaanku.

***

*Rindang*

Bersambung

2 comments

Silakan Komen di sini :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s