Mengenang Ayahanda


Dulu, menjelang sore kami sering duduk bersama. Bercerita tentang banyak hal, atau kadang juga tanpa percakapan, duduk-duduk saja memandang senja
Di bulan Desember kami pernah memandang titik-titik hujan jatuh dari tuturan. Lalu pada sore yang cerah memandang burung-burung pulang ke sarang di langit merah.
Pernah sesekali ingin berkeluh kesah. Beliau langsung bilang kamu harus kuat, tidak boleh menyerah
Menjadi yang sulung, harus menjadi kuat. Apa jadinya kalau kamu rapuh.

Sore seperti itu sudah lama menjadi kenangan. Lama kami tidak bercerita seiring tubuhnya yang mulai renta
Karena mungkin Tuhan ingin mengajari tentang keihklasan, sehingga lebih kuat ketika orang yang sangat dicintai benar-benar pergi.

Perih rasanya ketika doa meminta kesembuhan berganti doa meminta kelapangan. Tidak akan ada lagi sapaan laki-lagi gagah itu yang akan menantiku ketika pulang nanti.
“He eh! Pulang anak wak …!”
Tidak akan ada lagi percakapan-percakapan pendek di telepon
“Bagaimana di sana? Baik? Hati-hati di sana ya nak…!”

Tapi aku harus kuat bukan?

Pada akhirnya nanti kami akan bertemu lagi. Seperti yang pernah aku katakan dulu, kematian itu hanya masalah waktu
Kita akan sama-ama menuju ke sana

***
Mengenang tujuh hari meninggalnya Ayahanda tercinta
Terimakasih atas doa, dukungan dan semangat dari karib kerabat dan teman-teman.

2 comments

Silakan Komen di sini :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s