#3 Untukmu Bahagia


“Bang, siapa?”

Sikecil sudah pulas dalam gendongannya. Tangan kirinya menenteng kantong belanja kecil.

“Dapat kainnya?”

“Kakak iparmu benar-benar  deh! Meminta aku mencarikan kain dengan bordiran yang pernah dilihat tahun lalu. Kalau warnanya putih, krem atau mukena bordiran okelah. Tapi warna yang diminta hujau tosca pula. Walaupun aku hafal tiap sudut toko di pasar atas ini, tetap saja aku kerepotan!”

Aku menungunya lebih dari satu jam. Dengan wajah kelelahan seperti itu, aku memaklumi jika dia akan mengomel panjang lebar tentang perburuannya siang itu. Tapi dia tidak mengomel sama sekali. Bahkan aku berharap kalau dia bisa mengomel lebih panjang dari biasanya, agar aku tidak perlu menjawab pertanyaannya.

“Yang tadi itu siapa bang?”

Aku fikir dia akan segera mengambil duduk , memindahkan si kecil dari gendongannya padaku, lalu menyelonjorkan kaki. Aku seperti tidak mengenalnya, ketika dia tetap memilih berdiri, dan menanyakan untuk ketiga kalinya. Dia terbiasa mengomel dengan kemampuan dan kecepatan per kata yang luar biasa.

“Emm… !”

Sekarang wajah yang kulihat sangat berbeda. Yang kuingat wajah seperti itu ketika memergoki aku merokok, dan itu sudah kami bicarakan sebelum menikah. Dan sekarang mimiknya semakin serius seperti hendak menerkamku ketika tidak kunjung menjawab pertanyaannya.

“Mantan pacar!”

Bisa saja aku menjawab, teman lama, teman sekolah, tetangga waktu kecil, tetangga waktu di Jakarta, atau apalalah yang efeknya tidak sedramatis ini. Toh kecil sekali kemungkinan akan bertemu dia lagi, kami sudah menetap di sini. Dia di jakarta, anaknya sudah besar, akan masuk sekolah pula, pasti akan makin jarang pulang. Tapi nyatanya aku tidak bisa.

Wajahnya yang semula merah berubah menjadi lebih merah, hijau, kuning, kelabu. Lalu dia duduk, memindahkan sikecil dan menyelonjorkan kaki, tapi tidak mengomel.

Bukan perasaannya saja yang berkecamuk, tapi juga aku. Di suatu sisi aku lega, dia cemburu. Perasaaan yang nyaris tidak pernah muncul selama pernihakan kami. Tapi aku juga mengkhawatirkan rekasinya yang terlihat sangat tenang. Sebenarnya tidak, dia mengpas-ngipaskan tangan seolah-olah cuaca kota Bukittingi tiba-tiba menjadi sangat panas.

Lama aku diam saja, menunggu perkataan apa yang akan keluar dari mulutnya. Anak kami yang sulung, yang tadinya bermain layang-layang sekarang sedang kecapek-an. Duduk di bawah pohon seri yang rimbun, simana rumputnya sudah jarang bekas terinjak-injak. Dalam kondisi biasa bundanya, maksudku istriku akan cerewet sekali mengingatkan celananya jangan kotor. Kasihan bunda capek mencuci .

Tapi kali ini dia pasrah sekali, mungkin kalau anak itu sedang kambuh isengnya, berguling-guling di tanah. Akan dibiarkan saja.

“Kamu menatapnya lama sekali bang!” Suaranya pelan. Jelas sekali ditahan-tahannya biar terdengar biasa.

“Cerita lama dek, sudah habis ceritanya…!” Aku  berusaha tertawa sehingga hal itu bukanlah seperti kejadian luar biasa yang patut dicemburui.

“Lakonnya masih ada bang!” Dia memotong perkataanku dengan kejam.

(Bersambung)

*Rindang*

 

Silakan Komen di sini :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s