#2 Untukmu Bahagia


“Dua!”  Jawabku “Yang sedang main layanga-layang  itu putra pertama!”

Aku menunjuk ke bagian lain, si sulung sedang main layangan.

“Dia aktif sekali, sampai yang menemani capek, dia masih mau main!”  Aku terheran kenapa buru-buru aku menjelaskan, kenapa aku lebih memilih duduk di bangku taman. Aku tersenyum dalam hati, kenapa aku khawatir kalau dia menuduhku orangtua yang tidak mempedulikan anaknya. TApi itu benar, ga di rumah ga dimanapun, kalau lagi main anak sulungku itu seperti tidak pernah kehabisan energi. Dia suka langit biru, hembusan angin dan layang-layang.

“Satu lagi ikut sama ibunya!” Yang ini sukanya main, yang itu malah tidak bisa pisah dari ibunya.

Dia belum berkata apa-apa sejak mengajukan pertanyaan itu.

“Maksudku, ikut istriku yang sedang belanja.” Aku melengkapi jawabanku, khawatir jawaban barusan memunculkan persepsi lain. Benar saja, semerta-merta jawabanku membuatnya lega.

“Mamaa…!”

Kami tadi mungkin akan bercakap lebih lama kalau si gadis kecil yang bersamanya mulai tidak sabaran. Lalu berbisik-bisik dengan malu-malu, sambil melirik ke arahku.

“Apa? Kaca mata?” Dia tersenyum melihat polah si gadis kecil. Aku menahan diri untuk tidak memandangnya lama, senyum itu yang sudah meluluhkan hatiku, Tapi itu sudah lama sekali, aku merasa bersalah mengingatnya kembali.

“Ituuu…” Aku ikutan tersenyum memperhatikan mereka bergantian, mata dan alis mereka sama.

“Tadi buru-buru berangkat, kacamatanya ketinggalan. Ini anak, kalau jalan-jalan harus pakai kacamata item sama topi.”

Mengerti sedang dibicarakan, gadis kecil itu membenarkan topinya. Topi pet berwarna pink dengan hiasan pita merah. Rambutnya diikat dan digulung masuk ke dalam topi.  Cantik sekali. Mungkin waktu kecil dia secantik itu.

“Mamaaa….” Rengeknya lagi

“Aku senang kamu bahagia!” Mimiknya bersungguh-sungguh, kemudian bergumam”Maaf!”

Aku hanya tersenyum, tidak bicara apa-apa ketika dia berbalik. Sudah sangat lama, dia masih ingin mengucapkan maaf. Aku menghitung tahun-tahun yang sudah berlalu, sementara percakapan mereka masih bisa aku dengar sembari punggung itu menjauh.

“Kaca matanya warna apa? Pink? Ungu?”

“Mau dua? Hohoho!”

“Iyaaa.. Mama beliin satu, papa satu, dua deh!”

“Hayo, kita ke papa dulu! Itu tuh!”

“Mana? Mana …? Kacamatanya dua ya ma?”

Mereka terus bercakap-cakap, dan aku mendengarkan sampai bisa aku dengar.

Senyumku belum sempurna aku sembunyikan, ketika di belakangku sudah ada seseorang dengan wajah yang tidak biasa. Pandangannya tepat di bola mataku, aku tidak ingat apakah dia pernah memandangku seperti itu sebelum-sebelumnya.

“Siapa bang?”

(Bersambung)

*Rindang*

 

One comment

Silakan Komen di sini :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s