#1 Untukmu Bahagia


Lagit biru bersih, seperti biasanya tengah hari. Awan berarak menjauh dari jam gadang, menuju gunung Merapi dan Singgalang. Cahaya matahari menyengat kulit, tapi hawanya tetap sejuk. Tepat sekali perumpamaan Merapi dan Singgalang memayungi kota ini.

Dua orang anak beranak itu sudah menjauh membelakangiku, tinggal dua titik warna ungu. Mereka sama sekali tidak berbalik dan melambaikan tangan sebelum berbaur dengan titik-titik keramaian. Sampai akhirnya aku tidak bisa menebak mereka yang mana.

Terakhir aku mendengar kabarnya waktu di Jakarta dulu, dia keguguran anak pertama. Sekarang sudah punya anak satu, dan mereka masih tinggal di Jakarta.

“Nanti kalau main-main ke Jakarta silakan mampir!” Aku tau itu sekedar basa basi sebelum pergi, tapi aku senang dia mengatakannya.

Pertemuan ini tidak disengaja, sebagaimana pertemuan-pertemuan tak terduga lainnya dalam hidupmu.

“Sudah berapa anggota sekarang?” Sudah lama berlalu, dia masih berusaha untuk tidak menyinggung perasaanku. Dia sengaja memperhalus, sebenarnya  ingin bertanya bertanya apakah aku sudah menikah atau belum.

(Bersambung)

*Rindang*

 

Silakan Komen di sini :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s