Terowongan Surowono


Pintu masuk area terowongan

Pintu masuk area terowongan

Goa/ Terowongan Surowono ini merupakan salah satu dari tiga objek wisata yang bisa dikunjungi di Desa Surowono. Goa Surowono lebih cocok di sebut terowongan, lebarnya sempit dan memanjang. Karena sempitnya, kita ga bisa merentangkan tangan. Terowongan ini merupakan terowongan air bawah tanah yang menghubungkan lima sumur dengan panjang masing-masing  lebih kurang 50-100 m. Terow0ngan ini dibangun sejak masa Majapahit.Pertama, liat dulu pintu masuknya. Kita perlu turun melewati anak tangga menuju ke dalam sumur. Tinggi sumur menurut perkiraan saya delapan sampai sepuluh meter. Pintu terowongannya ada di dalam sumur. Sumur tersebut dikelilingi rumpun bambu yang teduh.

Ada pemandu yang akan menemani kita menelusuri terowongan. Kalau berani masuk, kalo ga berani bisa duduk –duduk di balai-balai dan dangau bambu sambil menunggu rombongannya keluar. Tempat ini juga untuk menunggu rombongan, biar bisa masuk terowongan bareng-bareng ditemani pemandu.

Kebetulan waktu kami sampai, sudah ada rombongan yang sudah duluan datang. Kami bisa bergabung dengan mereka. Disarankan untuk memakai sandal atau sepatu yang nyaman dan ga mudah copot. Sebaiknya dompet dan HP ga dibawa, karena bakalan basah kecuali disimpan dalam kantong kedap air.

Sumur Pertama

Sumur Pertama

Pintu masuk ada di dinding sumur. Aku agak deg-degan begitu merendamkan kaki ke air, dingin! Apalagi pas merasakan airnya ternyata sepinggang. Kami berdoa sebelum masuk dan anggota rombongan dihitung dulu. Aku lupa persisnya berapa orang waktu itu, mungkin duabelas orang. Aku dapat bagian belakang, persisnya nomor tiga dari belakang.

Paling depan pemandu membawa senter, satu senter lagi di tengah dan terakhir di belakang. Apesnya pas di dalam senter di bagian belakang mati. Karena gelap, kita jadi awas merasakan dasar terowongan apa berbatu atau berpasir, merasakan arus air mengalir, tetesan air dari atas mengenai tubuh yang sekali-sekalinya deras, dinding goa yang lembab, sesekali ada cahaya senter dai depan atau belakang. kami saling pegangan. Kami juga mengecek, apakah orang di belakang masing masing-masih mengikuti, bia tidak ada yang tersesat.

Pemandu yang berada di depan akan memberi petunjuk, belok kanan atau belok kiri yang disampaikan dari depan ke belakang. Ada penasaran, waswas jadi nyampur. Apalagi pas persimpangan, ada yang bisa “Ambil kanan! Jangan ke kiri” * di kiri ada apa ya?  mau gelirik gelap*. Di torowongan pertama ini, kami semua masih bisa jalan dengan berdiri tegak .

Sekitar dua pertiga perjalanan di terowongan pertama, ada ibu-ibu yang ga kuat. Ternyata beliau punya asma mau balik ke pintu masuk. Tapi dikasih tau pemandu kalau kami udah hampir keluar di sumur ke dua. Buru-buru dibawa keluar. Sebenarnya diluar sudah ada pengumuman kalau yg menderita asma sebaiknya ga masuk. Setelah di luar ibu ini cerita, benar dia asma tapi baru kali ini kambuh walaupun dia pernah juga masuk goa sebelumnya. Sempat khawatir juga waktu itu, untung ibunya aman.

Pas keluar terowongan dan sampai di sumur kedua, kami merasa lega sekaligus takjub melihat ke atas , rimbun mambu, air keluar dari dinding sumur seperti pancuran. Ibu-ibu yang asma tadi sudah dibawa naik melalui anak tangga di sumur kedua tersebut. Sayangnya pemandangan bagus-bagus ada yang mengganggu, sampah kresek dan plastik nyangkut di akar pohon dan daun-daun di dinding sumur.

Perjalanan kami lanjutkan, memasuki terowongan kedua. Kali ini dengan sedikit menunduk karena dinding terowongan bagian atas lebih rendah. Airnya lebih dangkal dari yang tadi. Udah di terowongan kedua ini, senter dipindah ke belakang, giliran yang tengah gelap- gelapan.

Karena kami berjalan menuju hulu, arus air sedikit berkurang. Karena mata air yang keluar sepanjang terowongan dan sumur, membuat bagian hilir yang sudah kami lalui tadi lebih deras dan tinggi. Kami berjalan menunduk, hingga keluar di sumur sumur ke tiga.

Dari sumur ketiga ini, bersiap untuk memasuki terowongan ketiga yang diding bagian atasnya lebih rendah lagi. Kami disuruh jalan jongkok. Makin was-was aja, mau berenti naggung, mau lanjut kok ngeri. Aku memutuskan ikut lanjut , ga ada juga anggota rombongan lain yang mau berenti. Terowongan ini ketiga arusnya udah berkurang, tapi harus hati-hati biar kepala ga kepentok.  Dalam terowongan ketiga ini kami harus jalan jongkok dan setengah jongkok (jongkok terus capek) hingga sampai ke sumur ke empat.

Perjelanan berakhir di sumur ke empat ini, kami kembali ke atas. Wisatawan dilarang memasuki terowongan yang menghubungkan sumur kekempat dengan kelima karena jarak antara permukaan air dengan dinding atas terowongan dirasa tidak aman.

Sumur keempat ini terletak di perkampungan. Basah-basahan kembali ke tempat semula berangkat. Yang tadi masuk ga bawa sepatu/ sandal, lari berinjit-injit . Sudah mau tengah hari, jalan sudah panas, pakai lewat jalan aspal pula.

Sayang banget aku cuma itu foto yang bisa aku ambil🙂

*rima*

Silakan Komen di sini :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s