Sejarah Kecil “Petite Histoire”  Indonesia Jilid 2


Sejarah Kecil Petite Histoire  Indonesia Jilid IIRosihan Anwar, Penerbit Buku Kompas,

Jakarta, 2009, 348 Halaman

Buku Sejarah Kecil “Petite Histoire”  Indonesia Jilid I mendapat sambutan yang bagus dari pembaca.  Berikutnya pada jilid II Rosihan Anwar mengisahkan sejarah kecil yang lainnya. Secara garis besar isi buku ini dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama bercerita tentang sejarah pers, film, budaya serta pelakunya. Bagian berikutnya berisi kumpulan reportase, referensi dan promosi yang berisi “sejarah kecil” yang sangat berkaitan erat dengan sejarah besar bangsa Indonesia.

Rosihan Anwar yang kenal dekat dengan Usmar Ismail menceritakan perjuangan idealisme dan filmografi Umar ismail. Tersebutlah bapak perfilman Indonesia, Usmar Ismail yang memulai shooting pertama filmnya di Purwakarta. Judulnya “Darah dan Doa” – bertutur tentang long march tentara Divisi Siliwangi daji Jogja kembali ke Jawa Barat pada tahun 1948. Shooting tersebut diadakan pada 30 Maret 1950, dimana 30 Maret diperingati sebagai hari perfilman nasional.

Tulisan pers dan film yang disajikan tidak hanya sebatas sejarah dari sebelum sampai sesudah kemerdekaan. Tetapi kita juga bisa beroleh ilmu dari pak Rosihan yang juga menulis tentang profesionalisme dan kode etik wartawan. Beliau juga menyinggung tetang skenario dan damaturgi, nanda dan dialog, sulitnya mencari tema film dikala itu dan dimasa sekarang juga terjadi hal yang sama.

Adapun mengenai Konferensi Asia Afrika pada tahun 1955 , diceritakan seperti sebuah potongan novel sejarah yang enak untuk diikuti. Sebuah kutipan pidato presiden Sukarno yang menarik untuk dikutip lagi di sini “… Kolonialisme juga punya busana modernnya, dalam bentuk kontrol ekonomi, kontrol intelektual, kontrol fisik aktual oleh semua komunitas kecil, tetapi asing dalam suatu bangsa” .  Jika kita perhatikan sekarang ini, benar kata presiden Sukarno. Kolonialisme sudah berganti busana modern.

Mengenai kunjungan PM Uni Soviet – Nikita Khurshchev pada tahun 1960 juga diceritakan dalam buku ini. Tidak ketinggalan pernak-pernik cerita mengenai kelakuan para wartawan baik itu wartawan Amerika, wartawan Rusia dan wartawan Indonesia dalam mengejar berita, mengenai lead berita yang sama sekali tidak penting bagi wartawan Rusia. Kameramen, fotografer, pewarta radio, pilot dan kru Garuda Indonesia tak luput dari cerita pak Rosihan.

Cerita menarik lainnya ketika beliau bertemu pertama kali dengan merdana menteri Singapura Lee Kuan Yew untuk pertama kalinya. Yang memandangnya tajam, tersenyum tidak, menganggukpun tidak. Apa yang terjadi? Ceritanya baru terang setelah beberapa tahun setelahnya.

Masih mengenai Pers, adalagi tulisan lain yang memceritakan mengenai presiden Habibie membebaskan pers Indonesia dari keterpasungan. Dan kisah terakhir dalam buku ini mengenai Sheikh Yusuf dari Makassar di Capetown, Afrika selatan  pada Abad ke 17.

Kisah apa lagi yang menarik?  Sila baca bukunya …🙂

***

*rinrin*

Silakan Komen di sini :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s