JINKU – Saran dari Jikusan


JikusanPara Jinku – Jin Kuil yang sedang bertugas di luar negeri Jin, dipanggil pulang ke kota Praja. Komandan Jinku bermaksud mengenaikan peralatan kunci terbaru dan beberapa latihan tambahan lainnya guna meningkatkan pengetahuan Jinku. Beberapa Jinku yang bertugas di kota praja juga diikutkan latihan.

Jimu tidak ikut, kebetulan saja dia bertemu dengan Jikusan di kuil Utama.

“Jalan antar kuilnya masih lancar?” Tanya Jikusan, Jimu dulu pernah satu kelompok dalam pekerjaan berbaikan jalan antar kuil di kota Praja. Dia ditugaskan ke negeri Lanun sebelum pekerjaan itu selesai.

“Sepertinya lancar…” Jimu menebak-nebak saja, sebab dia juga dipindahkan sebelum pekerjaan itu selesai dan tidak tertarik mengikuti perkembangannya. Di tempat mereka bekerja, pindah-pindah tugas (lebih tepatnya dipindahkan) memang sudah biasa. Waktunya tak tentu, bisa sebulan, dua bulan, setahun atau dua tahun, tergantung kebutuhan dan pertimbangan dari komandan Jinku.

“Bagaimana pekerjaan baru?” tanya Jikusan.

Akhir-akhir ini Jimu memang tidak bersemangat membicarakan pekerjaan dengan siapapun. Sama sekali bukan pembahasan menarik. Hampir sama dengan tidak menariknya dengan pemilihan raja di negeri Jin. Raja kok dipilih? Bukannya diangkat karena keturunan? Begitulah di negeri jin mereka.

Tapi karena bertemu Jikusan juga sekali-sekalinya, tidak apa-apalah membicarakan pekerjaan.

“Sepertinya keluar dari negeri Jin membuatmu senang…” Tebak Jimu, melihat Jikusan terlihat lebih segar. “Ada apa saja di Negeri Lanun?”

“Ada pekerjaan!” Jawab Jikusan, Jimu mencibir.

“Tapi tidak sebanyak di sini, hehehe…!” Jikusan tertawa, rupanya sengaja mengganggu Jimu. Jimu mau marah saja, sudahlah bosan, ditertawakan pula. Tapi sebagaimana dia bilang tadi, bertemu hanya sekali-sekali. Tidak apalah membicarakan hal macam ini.

“Aku sedang tidak bersemangat, suasana kota Praja sedang tidak mengenakkan. Kau tahu San, di kuil utama ada alat untuk mencetak pesan yang lebih bagus dan lebih cepat. Tapi komandan jin malah menyuruh mencetak di kuil-kuil kecil ini dengan peralatan yang lebih sederhana”

“Pasti ada alasannya…” Jimu menatap geram pada Jikusan, tapi mengingat karena sekali-sekali bertemu. Jimu tidak jadi marah, malah lanjut “nyerocos” karena yakin Jikusan akan mendengarkan dengan baik.

“Alasannya biar semua pekerjaan tidak melulu terpusat di kuil utama. Agar Pegawai Negeri Jin yang berada disekitar kuil kecil ini bisa lebih terbantu menerima pesan dan keperluan lain cepat.”
“Bagus itu …”

“Dengar dulu! Kenyataannya tidak disertai perhitungan yang matang. Jumlah Jinku yang diutus dan pekerjaan tidak dipertimbangkan. Tidak ada perhatian bagaimana jika pesan terlambat disampaikan. Yang penting di kuil kecil ada Jinku, masalah mereka bisa mengerjakan pekerjaan sesuai yang dijanjikan pada penguasa di sekitar kuil kecil tersebut, tidaklah menjadi perhatian….”

“Jadi untuk mempercepat kamu bisa mencetak di kuil utama…”

“Sudah pernah dicoba, lama-lama capek juga membawa hasil cetakannya. Kadang penyimpanan jimat, pengambilan dan perawatan tidak bisa terlayani, menunggu pekerjaan rutin selesai dulu. Sampai tak habis pikir, para Jinku menyikat pekerjaan Jin lain sedangkan pekerjaan sendiri terbengkalai…”

“Menyikat pekerjaan Jin lain?”

“Lha iya, dulunya ada jin tersendiri yang bertugas menyampaikan pesan, sekarang malah diambil sama Jinku. Jinku disuruh woro-woro mengumpulkan data Pegawai Negeri Jin di Kuil utama. Padahal tugas Jinku adalah menyediakan sarana. Apa coba?”

“Sudah berusaha mengajukan keberatan?”

“Kepada komandan belum, tapi aku sudah pernah bilang pada Jin kepala kalau ditempat ini termasuk banyak pekerjaannya. Dan yang membatku urung bicara pada komandan Jinku, ada dua kuil kecil yang pekerjaannya lebih banyak, belum mendapat pertimbangan.“

Jikusan mangut-mangut.

“Kau tau, yang bikin tidak enak itu, pernyataan Jinku-jinku yang ada di Kuil utama ketika ada pekerjaan tambahan, – mari kita berdayakan Jin kuil kecil. Maksudnya kami yang ada di kuil-kuil kecil ini. Apa dikiranya selama ini kami tidak punya daya apa-apa, dikiranya pekerjaan kami ini belum penuh sepanjang hari…”

“Mungkin memang ada yang pekerjaannya tidak banyak …”

“Kalau begitu jangan disamaratakan, hitung yang jelas julu baru dikasih tambahan pekerjaan. Jangan ditambah dulu pekerjaan, nanti baru dihitung atau dilihat hasilnya. Kau tahu? Beberapa hari lalu komandan Jinku memberikan pengarahan, bakal ada tambahan pekerjaan. Jinku di kuil-kuil kecil diharapkan untuk membantu. Pernyataan komandan Jin yang teringat adalah ada pekerjaan bakal ada uang tambahan. Komandan dengan mudahnya menebak kalau diiming-imingi dengan uang semuanya akan lancar. Tak terfikirkankah, kalau tugas itu tidak berjalan dengan lancar karena keterbatasan waktu, karena pekerjaan rutin yang selalu ada. Akan menjadi beban bagi yang mengerjakan. Komandan juga menyatakan, kalaupun dari kuil pusat sudah diberi upah, sekiranya dikasih lagi sama jin di sekitar kuil jangan menolak karena itu berbeda. Rejeki jangan ditolak. Apa maksudnya coba?” Jimu bicara dengan berapi-api. Jikusan tak tega memotong cerita Jimu.

“Singkatnya boro-boro untuk peningkatan kesejahteraan panduduk negeri jin, yang ada difikiran Komandan Jinku hanya ada tiga: kekuasaan, kehormatan dan uang. Untuk kekuasaan, dia berusaha memperlihatkan kepada pejabat Negeri Jin kalau dia memperhatiakan kuil-kuil kecil dengan mengirim kami-para Jinku. Kemudian membuat pernyataan dan janji pemanis mulut bahwa kami bisa menyempaikan pesan, mencetak pesan, melakukan peayanan penyimpanan dan pengambilan jimat beserta barang keramat lebih cepat. Kenyataannya, di kuil kecil untuk mencetak pesan –pesan sudah menghabiskan waktu.

Kedua, disetiap ada kegiatan yang diusahakan adalah agar Jinku terlihat baik dimata pejabat negeri Jin. Perlu digaris bawahi -yang penting terlihat baik, bukan bekerja dengan baik .

Hal kedua yang menunjukkan Komandan Jinku hanya memikirkan kekuasaannya, tidak berusaha bersikeras kepada Jin yang menguasai kunci-mengunci, untuk memberi pelatihan kepada jinku. Padahal dalam peraturan Negeri Jin diperkuat dengan Peraturan perkuncian sudah jelas, kalau para jin yang memenuhi syarat bisa diberi pelatihan perkuncian. Untuk jinku, walaupun sudah memenuhi syarat, komandan Perkuncian tidak mau memberikan pelatihan kecuali jika ada anggota jin kunci mengunci yang bekerja di lingkungan Jinku. Istilahnya tukar guling antara Jin Kuil dengan Jin kunci mengunci. Ini menimbulkan lingkungan kerja yang tidak sehat. Jinku yang hendak dilatih soal kunci mengunci, diseleksi ketat. Sedangkan Jin kunci mengunci yang ditempatkan di kuil Jinku tidak harus melewati seleksi yang menjadi persyaratan bagi seorang Jinku.

Apa pasal komandan Jinku tidak bisa menentang peraturan yang salah yang diada-adakan itu? Karena kalau komandan Jinku menentang, alhasil kekuasannya tidak akan bertahan lama, akan banyak yang tidak senang dan mengguncang kekuasaanya. Kkomandan tidak merasa kuat untuk itu. Daripada tidak berkuasa, lebih baik menurutkan kata yang lebih berkuasa.

Mengenai kehormatan, kau jangan coba-coba membantah komandan jin. Walaupun dia berkoar-koar menerima masukan apasaja dari Jinku dengan tangan terbuka. Lain di mulut lain di hati. Kenyataannya, yang tidak sejalan dengannya diam-diam akan tersingkir. Jika berpandai-pandai dengannya bisa saja mejadi orang kesayangannya. Walaupun begitu jangan bilang, semua yang menjadi kesukaannya adalah yang pandai mencari muka. Kalau orang yang pandai dan cakap dalam bekerja, komandan manapun pasti suka. Kecuali jika sudah mengancam kekuasaan, kehormatan dan uang yang masuk ke kantongnya, itu urusan lain.

Nah mengenai uang, aku sudah menceritakan sebelumnya. Kau perhatikan saja, kalau ada uang masuk, dia akan senang. Kalau ada dua kali uang masuk akan lebih senang, walaupun untuk pekerjaan yang sama. Caranya, yang penting diusahakan untuk tidak cacat administrasi. Perkara lain mengenai uang , ada kecurigaan lain tapi aku belum mau menyampaikannya sekarang.

Perihal kesejahteraan para Jinku –sedikitnya diperhatikan tapi caranya menyamaratakan seolah jikalau diiming-iming uang semuanya akan berjalan lancar.

Pendek kata, pimpinan macam itu akan menjadi penghancur Jinku dari dalam. Karena lama-lama anak buah akan muak dan dia akan kehilangan dukungan. Dari luarpun, walaupun gencar melancarkan jurus pencari muka, lama-lama wajah aslinya juga akan terlihat. Menjelang itu terjadi, kita sudah tersiksa…”

Akhirnya Jimu menarik nafas setelah selesai mengeluarkan uneg-unegnya. Benar perkiraannya, Jikusan sebagai teman yang baik mendengarkan cerita itu sampai habis.

“Jadi rupanya kau tidak tenang dalam bekerja?” Tanya Jikusan kemudian.

“Begitulah! Saat ini sedang berusaha untuk tetap bekerja sebagai Jinku yang baik. Jangan sampai ketidaksukaan pada komandan membuatku melalaikan tugas. Karena satu hal yang perlu kita ingat juga, Jinku sebagai pegawai Negeri Jin, yang menggaji adalah kerajaan dan itu berasal dari upeti rakyat negeri jin.”

“Setuju!” Jawab jikusan. Melihat Jimu bercerita berapi-api, Jikusan tidak jadi bercerita tentang negeri Lalun.

“Kau terlihat begitu tenang, padahal aku mendengar kabar di negeri Lanun juga tidak sedikit permasalahannya. Kau punya rahasia?” Akhirnya Jimu sadar diri.

“Begitulah…” Jikusan memang terlihat tenang. “Karena ada yang bertanya, aku akan menjawab. Bagiku ada tiga pertimbangan terhadap pekerjaan sebagai Jinku. Pertama, jika tidak memungkinkan untuk tetap bertahan mungkin keluar dan mencari pekerjaan lain. Kedua Jika sebagai Jinku punya kekuatan untuk merubah keadaan, pelan-pelan kumpulkan kekuatan dan rumah keadaan itu nanti. Ketiga, jika harus tetap sebagai Jinku dan tidak punya kekuatan untuk melawan, belajar untuk menerima keadaan. Aku sedang mempertimbangkan tiga hal itu, mungkin sudah mengarah pada satu pilihan, hanya saja tidak dapat memberitahu sekarang.”

Jimu mangut-mangut mendengar perkataan Jikusan. Dicernanya ketiga pilihan itu sambil mangut-mangut. Pada akhirnya mendapat kesimpulan, pantas saja Jikusan terlihat lebih tenang.

“Oh iya, tadi aku sebenarnya ingin bertanya bagaimana kabar dari negeri Lanun, tapi malah aku yang berceloteh panjang lebar” Karena sadar mereka tidak bisa bercakap-cakap terlalu lama, Jimu kembali ke pertanyaan awalnya.

“Di Negeri Lanun sudah maju…” Jikusan memulai ceritanya

(bersambung)

*Rindang*

Silakan Komen di sini :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s