Selimut Debu


Image

Judul Buku    : Selimut Debu
Penulis          : Agustinus Wibowo
Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama, 2010
Jumlah Halaman : 461

“Di sini semua mahal. Yang murah cuma satu: nyawa manusia.” Begitulah tertulis di sampul depannya. Kemudian didalam buku dituliskan lagi sebuah lelucon Kandahar (termasuk di daerah yang paling berbahaya di  bagian selatan Afghanistan). Menggelikan sekaligus mengerikan.

Pembeli : Berapa harga kepala kambing ini?
Penjual : Lima puluh afgani
Pembeli : Lima puluh? Terlalu mahal! Dua puluh saja.
Penjual : Apa? Dua puluh afghani? Kamu gila? Kamu kira ini kepala manusia?

Karena perang yang berkepanjangan, banyak orang Afghanistan yang menungsi keluar dari negeri mereka.  Walaupun sudah berhasil lari dari “kepulan debu”, tidak berarti hidup lalu menjadi mudah bagi mereka.

Buku ini ditulis oleh seorang traveler Indonesia, yang tinggal tiga tahun di Afghanistan. Menjelajahi negeri perang tersebut sendirian, dengan kekuatan dan keteguhan hati serta mengesampingkan ego. Membaca bukunya, seperti ikut dalam petualangannya.

Yang terbayang pertama adalah, sebuah negeri  yang didominasi oleh warna cokelat tanah. Khaak (Debu) yang beterbangan sudah menjadi satu dengan penduduknya. Selimut debu tersebut ikut terhirup bersama udara. Debu menjadi makanan sepanjang hari . Khaak berarti juga tahah kelahiran. Jika kita menyebut tanah air untuk negeri kita. Orang Afghan menyebut negerinya kepulan debu (khaak).

Dibalik kepulan debu inilah tersimpan misteri. Tentang negeri dan peradabannya, yang muncul dan hancur juga yang tersisa sejak ratusan tahun yang lalu. Mempengaruhi keberagaman etnis, dengan kebudayaan serta segala pandangan superioritas dan inferioritas masing-masing.  Tentang keindahan alam dan ketenangan yang tersembunyi dibalik pegunungan yang tinggi. Tentang dimana waktu berjalan begitu lambat. Tentu saja tidak lupa diceritakan tentang perang, tentang hidup dan mati.

Buku tersebut menceritakam petualangan pemulisnya pada rentang 2003 – 2006. Afghanistan sekarang cenderung lebih aman.
Afghanistan bukan semata negeri perang yang muncul di televisi karena pengeboman, ranjau meledak, bentrokan dan segala macam. Dibalik kepulan debu, tersimpan impian dan kebanggaan rakyat Afghan. Selamat membaca…🙂

*rinrin*

Silakan Komen di sini :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s