Setelah Hujan Reda


IMG_20140121_124654”Ibu yakin tetap berangkat? Gelap sekali!” 

“Jangan lupa ikat kuat-kuat plastiknya ke kaki gerobak! Ambil tali rafia hitam di pojok dapur! Sebelum hujan turun, harus sudah sampai di jalan besar…!”

Aku memilih  membantu apa yang bisa aku kerjakan, daripada bujukanku tidak dihiraukan.

Setelah membuka pintu menuju halaman, dia tertegun sebentar. Sekelebat, cahaya petir membantuku melihat ekspresi wajahnya.Garis-garis keriput itu tidak terlihat mengurangi semangatnya.

“Bu! Tolong seluncurannya dipasang di tangga!” kataku sambil mengambil kuda-kuda. Gerobak itu punya satu roda ditopang oleh dua kaki. Dua tangkai yang panjangnya sekitar setengah meter berfungsi sebagai pegangan untuk mendorong. Untuk membuatnya berjalan, tangkai itu diangkat sehingga dua kakinya ikut terangkat, kemudian dorong.

Dia ragu –ragu melihat aku mendorong gerobak melalui papan kecil yang dipasang pada dua anak tangga yang menghubungkan ruang tengah kami dengan halaman. Setelah meletakkan kembali papan seluncur di samping tangga, dia mengambil alih. Aku mengalah.

Satu kilatan cahaya kembali menyapu wajahnya.  “Tidak usah ikut!” Katanya.

Aku berbalik, masuk lagi ke rumah. Lalu berlari-lari kecil di belakangnya setelah mengunci pintu.Setelah itu kami berjalan beriringan, cepat-cepat. Lampu-lampu dari teras rumah yang kami lewati cukup membatu menerangi jalan.

“Kau masih keras kepala!”

“Ibu juga tidak berubah, bapak juga…Mengingat bapak dan mendung subuh ini, sepertinya menggiring kami pada kejadian beberapa tahun lalu.

***

Sudah menjadi kebiasaan bapak, begitu ada pertandingan bola di televisi, entah itu pertandingan antar klub daerah, klub nasional, klub eropa, apalagi piala dunia, Bapak selalu tidak di rumah. Tempat favoritnya balai desa bergabung dengan bapak-bapak dan pemuda kampung. Aku tidak tahu persis apa klub favoritnya, aku pernah melihat tambalan Juventus di celana jeans tuanya.

“Bantulah aku berjualan, nanti kalau uangnya terkumpul kita bisa beli lagi televisi!” Malam itu, ibu dengan suara letihnya berusaha membujuk. Aku sengaja menguping karena tidak mau melewatkan kejadian terbesar dalam hidupku. Ibu bisa mengungkapkan kemarahannya pada kami, tapi tidak pada Bapak. Aku berharap sekali-sekali ibu melakukan perlawanan.

“Aku dulu juga ikut iuran beli televisi di balaidesa itu!”

“Kalau Bapak di rumah anak-anak juga senang…”

“Mereka belajar kalau malam. Jangan kau ajarkan mereka menuntut macam-macam!”

“Apa salahnya di rumah, aku masih bekerja sampai malam begini…!”

“Kau tidak lihat aku juga bekerja? Pergi ke hutan, mencari kayu, memikulnya pulang. Tidak tiap hari orang butuh kayu bakar! Makanya tidak tiap hari aku punya uang!” Suara bapak mulai meninggi. Aku bersiap di balik pintu, diam-diam menarik sebuah balok kayu.

“Kalau capek seharian bekerja. Kenapa tidak istirahat?” Suara ibu tidak kalah kerasnya. “Kau lihat anakmu di dapur sana! Dua hari lagi ujian akhir! Apa yang akan dia jawab untuk ujian nanti? Untuk memasak ketupat itu butuh waktu empat jam? Butuh enambuah kelapa untuk menghasilkan dua panci gulai Nangka yang enak?”

“Kalau capek, berhentilah! Aku tidak memaksa!” Suara bapak masih tinggi, aku masih menggenggam erat balok di tanganku.Beberapa hari yang lalu, ibu salah seorang temanku masuk sakit karena dianiaya bapaknya.

“Kenapa tidak bantu aku berjualan?”

“Hah! Aku tidak pernah meminta uang padamu! Aku tidak pernah memintamu untuk bekerja!” Suara pintu dibuka, lalu dibanting dengan keras. Untunglah adikku sudah tertidur. Sayangnya, pertengkaran itu berakhir begitu saja.

Begitu ibu ke dapur, aku pura-pura mengaduk kuah, balok kayu tadi sudah aku masukkan ke dalam tungku. Aroma wangi masakan sama sekali tidak menerbitka seleraku.

“Matamu merah, kau tidurlah duluan!”Kata ibu, mengambil alih pekerjaanku. “Sudah lewat tengah malam, sebentar lagi juga matang!”

Aku menuruti perintah ibu.

Ketika mendengar omelan ibu diniharinya,  dapat ditebak bahwa pertengkaran semalam tidak berlanjut. Kemungkinan ibu sudah tertidur ketika bapak pulang.

“Kelak kalau kau sudah dewasa, harus bisa menghidupi sendiri. Jangan pernah semata-mata bergantung pada suami!” Aku membiarkan ibu mengomel biar lebih lega. “Kau tahu! Akibat terlalu bergantung pada orangtua! Bapakmu itu, semasa muda sampai sudah menikah masih dimanja nenekmu! Sekarang tidak mengerti apa-apa!”

Aku membantunya menungkan gulai Labu Siam ke panci besar di atas gerobak.

“Orang terlihat baik tidak selamanya bisa diandalkan jadi kepala keluarga. Jangan sampai terpedaya karena banyak hartanya. Carilah orang bisa diajak hidup susah. Sekiranya nanti hidupmu susah, kau tidak berjuang sendirian. Walaupun begitu, aku ingin kau hidup lebih baik dari yang aku jalani sekarang. Makanya, kau harus sekolah, lulus dengan nilai baik. Dengan begitu, kau tidak akan susah-susah sseperti aku sekarang! Oh! Mengingat kau akan ujian sebaiknya tidakusah ikut…!”

“Aku ikut!”

Aku tidak tau apakah ibu berhenti karena kalimatnya segera aku potongatau karena suara guntur. Oh Tuhan, apakah dibuku Geografiku disebutkan bahwa bulan April masih sering turun hujan di daerah tropis? Ibuku tidak boleh tahu kalau aku tidak tahu jawabannya. Bisa-bisa dia memaksaku tinggal di rumah.

Beberapa menit kemudian, dua gerobak merayap di jalan kampung yang masih lengang. Kami sama-sama tertawa ketika mendengar suara orang mengorok dari sebuah rumah yang kami lewati. Dulu, aku pernah takut pada bayang pohon-pohon. Jika mengingatnya kemudian, hal itu terdengar lucu.

“Kenapa ibu mau menikah dengan Bapak?” Akhirnya aku membuka percakapan setelah ibu berhenti mengomel. “Benar bukan karena bapak dulunya anak orang kaya?”

“Ibu mencintainya!”

“Sekarang?”

Ibu tidak menjawab, satu –satu tetes air hujan jatuh di punggung tangan yang dingin. Kami sama-sama mempercepat langkah.

“Mencintai itu seperti apa bu?”

“Dimana kau merasa nyaman berada di sisi orang itu dan segala hal terlihat indah saat bersamanya!”

“Sebenarnya ibu tidak mencintainya!”Tuduhku “Atau bapak tidak mencintai ibu!”

“Tidak sesederhana itu!”

“Tapi ibu sudah tidak nyaman dengan Bapak!” Bahkan aku sampai tidak ingat kapan mereka tertawa bersama. “Artinya tidak cinta kan?”

Setelah meninggalnya nenek-ibu bapakku . Yang aku ingat, setelah itu pelan-pelan aku tidak bisa lagi meminta apa yang aku ingin. Adikku-jarak umur kami lima tahun, tidak pernah ingat merasa bagaimana hidup cukup. Dan ibu, sekali saja tidak pernah terlihat bahagia seperti sebelum itu.

“Jadi ibu masih cinta?”Aku berusaha lebih kuat mendorong gerobak yang semakin berat.

“Jadi cinta itu apa ibu?”

Ibu sudah meninggalkanku beberapa langkah. Baru kali itu kami membagi beban jadi dua gerobak karena lebih banyak. Panci-panci kuah itu sudah diikat sedemikian rupa. Kalaupun bergoyang-goyang, tidak akan tumpah. Paling-paling minyaknya meresap disela-sela ikatan.

Tetes hujan pecah di atas topi capingku. Aku menguatkan lagi doronganku. Ibu memperlambat langkahnya begitu aku berusaha menyusul.

“Apa cinta itu  membuat ibu begini?” Rasanya gerobakku semakin berat. Air hujan  meninggalkan suara-suara berisik di atas plastik penutup gerobak. Kilatan cahaya di langit membuat jalan remang itu menjadi terang benderang, sesaat.

“Cepatlah! Nanti bajumu basah!” Bajuku sudah basah. Lima ratus meter lagi kami akan sampai di pondok kecil dekat jalan besar, tempat biasanya menunggu angkutan pedesaan. Aku mengikuti ibu  yang memilih bagian jalan berbatu, walaupun goncangan gerobak terasa lebih kuat. Lebih mudah ketimbang terjebak dalam lumpur.

“Apa cinta itu membuat ibu seperti ini?”

Aku masih ingin bertanya, sementara batu-batu itu mengikat roda gerobakku. Aku mencondongkan tubuh ke depan, sedikit mengangkat tumit, sehingga serat badanku tertumpu pada tangan dan telapak kaki bagian depan. Pelan sekali, gerobak itu berjalan maju.Padahal sebelumnya ibu sudah memastikan, dia membawa gerobak dengan beban yang lebih berat. Apa karena cinta membuatnya lebih kuat? Aku tidak percaya! Cinta itu membuat ibu menangis diam-diam.

“Kau besok mau ujian, apa perlunya membahas cinta itu bagimu? Hayooo, cepatlah!”

Aku berhenti, menepukkan keduatangan  di depan dada, percikan airnya sampai di pipiku. Lalu meniup kedua tangan itusebelum mendorong kembali.

Ibu mendorong gerobaknya cepat-cepat meninggalkanku. Tanganku terasa panas sekali. Sekuat apa aku mendorong,  sepertinya sekuat itupula batu-batu jalanan mencengkeramnya.

Aku menangis di tengah hujan. Sumpah! Aku tidak bermaksud membuat ibu kesal.

“Apa yang kau lakukan?” Beberapa saat, ibu berbalik menyusulku.

“Aku tidak kuat lagi Ibu!” aku membuka suara dengan tangis ditahan.

“Sini!” Mendorongku dengan tangan kanannya sehingga aku mundur beberapa langkah. Ibu tidak pernah memperlakukanku seperti itu. Apakah pertanyaan tentang cinta itu sudah membuatnya marah. “Astagaa, kau tidak tahu bannya kempes?” Ibu memandangku tidak percaya.

Aku menggeleng “Tadi hanya susah didorong! Aku fikir…”

“Kau fikir apa? Kau tidak tahu yang salah adalah gerobaknya, bukan dirimu?”

“Aku tidak tau ibu…”

“Hah! Hal ini saja kau tidak tau!”Aku membantunya menarik gerobak. Butuh waktu lama hingga sampai ke pondok. Ibu memaksaku untuk pulang. Aku tetap bertahan. Akhirnya kami saling diam. Bibirku bergetar karena kedinginan. Kami belum bisa mengganti pakaian kering. Kondisi mobil angkutan tidak terlalu bagus, kami akan basah lagi setelah sampai ke kota.

 “Kau tidak usah ikut! Belajar di rumah! Tidak usah bawa gerobaknya!”

“Ibu..!” Aku membayangkan nanti-kalau sampai di kota masih hujan, ibu sendirian menggelar dagangannya yang duakali lipat dari biasa.

“Kalau masih bersikeras ikut, ikut sekalian! Tidak usah sekolah! Tidak Usah ujian! Kau mau berjualan seperti ini sampai tua?” Tampaknya ibu pernah main-main dengan ancamannya. “Berjanjilah nilai ujianmu bagus!”

Aku tidak mengangguk, berbalik dan lari. Aku membuka topi caping yang tadi melindungi kepalaku. Membiarkan hujan benar-benar lalu meresap sampai ke kulit kepala. Aku ingin  hanyut, tapi aku harus pulang.

“Oh, kau kehujanan! Kelupaan bawa payung tadi?” Bisa ditebak siapa yang menegurku begitu sampai di rumah.

Seharusnya teguran itu terdengar manis di telingaku. Tapi malah membuat mataku menyala-nyala karena marah. Harus aku apakan laki-laki yang berdiri di depanku ini? Membiarkan ibuku sendirian di sana. Aku cacimaki? Aku pukul sekalian?

“Keringkan dulu badanmu dan ganti pakaian!” Dia memberikan handuk.Ingi rasanya aku tepis dan membuang kemukanya, lalu mengata-ngatai seperti niatku semula.“Oh, aku sedang merebus air! Kau bisa merendam kakimu dengan air hangat nanti!”

Aku mengeringkan badanku bukan karena mematuhinya, lalu ke kamar mencari baju yang paling hangat yang kupunya juga bukan karena mematuhinya. Ketika bapak masuk dengan panci air hangatnya, aku sudah menyiapkan perlawanan.

***

           “Jadi kapan kau berencana menikah?”

Embun yang turun membuat tubuhku semakin menggigil, membawaku kembali pada masa sekarang. Aku menggerak-gerakkan tangan sambil berjalan menjejeri langkahnya. Ah! Seharusnya aku mengajaknya berbicara tentang hal lain. Misal, aku bisa saja bertanya kapandia berhenti. Toh tiap bulannya kami –aku dan adikku selalu mengirimkan uang, walaupun tidak banyak tapi cukup untuk mereka berdua. Atau aku akan menanyakan, adakah pelanggan setianya sejak pertama berjualan dulu yang datang sampai sekarang.

“Kau melamun! Jadi kapan kau akan mulai berfikir untuk menikah?”

Bisakah aku tidak menjawabnya, sekarang maupun nanti.

“Ibu, biar aku bantu tarik dari depan ya?”

Aku memegangi bagian depan gerobak. Kilatan cahaya dari langit menyapu wajahnya.

“Tidak usah ditarik. Kau jawab saja pertanyaanku!”

Terjebak sudah! Jika sekarang aku berhasil tidak menjawabnya, tidak aka ada lagi kesempatan buat ibu beranya sampai aku pulang lagi entah kapan.

“Apa sebenarnya alasan Ibu menikah dengan bapak?”Ini bukan trik untuk menghindar, bagaimanapun aku sudah terjebak. “Bukan karena bapak anak orang kaya?”

“Bukan itu, tapi karena Ibu mencintainya!”

“Kenapa?”

“Bapakmu orang baik!”

“Ibu bahagia?”

Percakapan itu berjalan lambat sekali.  Melebihi lambatnya puratan roda gerobak di subuh itu.

Ibu menepuk-nepuk bahuku. Air hujan yang tertinggal, jatuh ke lantai tanah memantul, membawa pasir halus ke kakiku. Begitu kami sampai di pondok.

“Ibu bahagia, karena memiliki kau! Adikmu! Kalian bahagia sekarang bukan? Kalian bersemangat merubah hidup, karena tidak ingin melihat Ibu menderita.  Kau pernah mendengar kata bijak bahwa Tuhan itu memberi apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan!” Ibu merangkul kepalaku begitu kami sudah duduk di balai-balai bambu. “Kalau kau menganggap bapakmu sebagai tokoh jahat yang hadir dalam hidupmu, setidaknya kau akan berterima kasih!”

“Aku tidak…!” 

Setelah kejadian sehari sebelum ujian akhir itu, aku sebisa mungkin tidak bicara dengan Bapakku. Aku merasa tidak perlu berterimakasih padanya karena itulah yang seharusnya dilakukan seorang bapak. Aku tidak perlu berterima kasih begitu menemukan segelas teh panas ketika bangun pagi. Juga terhadap uang jajan yang sekali-sekali dia selipkan di bawah gelas itu. Aku juga tidak mengucapkan terimakasih menemukan tasku yang putus sudah bagus kembali.

“Pernahkah Bapakmu memarahimu? Memukulimu?” Ibu memelankan nada suaranya, seolah menekankan bahwa aku harus menjawab jujur. “Atau berselingkuh?”

Aku menggeleng.

“Atau melakukan yang tidak seharusnya dia lakukan padamu…?”

Aku menggeleng lagi. Aku yang melawan pada bapak. Akulah yang melempar panci air hangat yang diantarkan bapak untukku waktu itu. Mengambil dengan kasar dari tangannya, lalu melemparkannya melalui jendela. Melempar gelas berisi teh hangat yang dia buatkan ke tempat cuci piring.

Kami jarang bicara, dan  jarang sekali bertemu sesudah itu, sampai aku pindah ke kota untuk kuliah dan pindah ke kota lain untuk bekerja. Ketika aku diwisuda, aku tetap mengajak bapak- sebagai prosedur standar karena aku masih memliki keduanya.

“Bisakah kau tidak membencinya…!” Masih redup, aku tidak bisa memandang ke mata ibu “Karena sekarang Ibu bahagia, karena dia, karena kalian!”

“Apa cinta itu begitu ibu?”

“Nanti kau akan tau sendiri. Kau masih punya waktu untuk menjawab” Aku kembali terjebak dengan pertanyaan itu. “Tidak selamanya kami bisa bersamamu. Nanti adikmu, teman-temanmu, ada saatnya mereka punya kehidupan sendiri. Ibu tak ingin kau sendirian!”

“Apa aku akan bahagia ibu?”

Ibu mengelus kepalaku lembut, hujan sudah reda. Kami masih sama-sama bersabar menunggu angkutan yang akan membawa kami ke kota.

***

* rindang*

Silakan Komen di sini :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s