JINKU-TERIMA UANG SAKU


Para Jinku sedang berbahagia, karena kabarnya mereka akan menerima uang saku. Mengenai Jinku dan siapa mereka, ada dipostingan sebelumnya.

Uang saku? Uang macam apa pula itu? Ada yang bilang uang yang selalu ada di saku, semacam uang cadangan. Uang yang tidak akan diambil bilamana tidak benar-benar perlu. Ada yang bilang, uang yang begitu saja dikasih ke saku, seperti anak-anak yang dikasih sangu. Semuanya orang dapat bagian, tanpa melihat anak patuh dengan yang ga patuh, anak bandel dengan yang ga bandel juga ga ngeliat prestasi anak, paling-paling ngeliat umur si anak. Tentu saja semua yang diomongkan itu sekedar bahan lelucon saja.

Rupanya uang saku Jinku dimaksudkan adalah uang tambahan selain upah agar pekerjaan para jin semakin optimal. Kebijakan dari raja, salah satu cara untuk menghindari ulah jin-jin nakal yang suka menggelapkan uang di negeri jin. Tidak hanya Jinku yang mendapat uang saku itu, tetapi juga jin dari kelompok lain. Termasuk kelompok kunci mengunci yang sudah mendapat uang saku terlebih dulu. Jadi merugilah kiranya jin dari kelompok kunci mengunci yang dipindahkan ke kelompok Jinku. Tapi kalau pertimbangannya bukan sekedar uang saku, tidaklah akan rugi.

Mengenai Jinku bertugas yang jauh dari kotapraja, diatur dengan mekanisme sendiri. Sedangkan bagi Jinku yang bekerja diluar wilayah kekuasaan raja jin, belum ditetapkan apakah akan mendapatkan uang saku serupa itu pula. Kata menteri dan juga disampaikan oleh komandan Jinku, diusahakan pembagiannya adil dan tidak ada Jinku yang merasa dirugikan. Baiklah, mendapatkan uang saku siapa yang tidak mau, tinggal ikuti saja aturan mainnya.

Yang bikin para jin gemes itu adalah penghitungan berlaku mundur. Maksudnya pembagian uang saku pertama ini merupakan jumlah dari uang saku enam bulan lalu. Bagi yang tidak ikut aturan main, uang sakunya akan berkurang sangat banyak. Sebenarnya desas-desus tentang uang saku itu sudah ada setahun sebelumnya. Tapi setelah berjalan beberapa bulan aturan datang tepat waktu dan pulang juga tepat waktu tidak berpengaruh apa-apa.

Ada perkara yang lain lagi, karena tidak ada bau-baunya tentang uang saku itu, para Jinku tidak begitu peduli. Soraknya saja yang heboh berkata uang saku, tapi tidak tampak bayangannya. Apalagi kalau mendapat bagian bertugas menjaga kuil sampai malam, besoknya susah sekali untuk datang pagi. Untunglah ada pengampunan, membuat pernyataan di daun lontar bahwa terlambat karena beberapa alasan akan mendapat ampunan. Kalau mereka tau bakal benar-benar dihitung, tentu saja kejadiannya tidak akan seperti itu.

Ada yang gembira, ada yang miris melihat potongan banyak, tapi ada juga yang biasa-biasa saja. Beruntunglah Jinku yang selama ini tepat waktu.

Sekalipun Jinku rajin, bekerja lebih banyak tapi kalau dia tidak bekerja diwaktu yang ditetapkan oleh menteri, dia tidak akan beroleh uang saku. Hanya upah seperti biasa. Ada yang protes, kenapa Jinku pekerjaannya sedikit bisa dapat sama banyaknya dengan yang pekerjaannya banyak. Kenapa Jinku yang pangkat ke-jinannya lebih tinggi dapat lebih sedikit dari yang pangkat ke-jinannya rendah. Ada kabar beredar, nanti mengenai peghitungan dan penetapan besaran akan terus dilakukan penyempurnaan. Semoga saja itu benar.

Begitulah, uang saku jadi bahan pembicaraan. Mereka sedang disuruh mengumpulkan pundi-pundi. Tidak lama lagi akan dibagi. Jimu si Jinku muda, menggaruk-garuk kepala melihat beberapa catatan potongan uang sakunya. Yang namanya rejeki, sedikit banyaknya pasti disyukuri.
***
*Rindang*