SEWINDU- Cinta Itu Tentang Waktu


Waktu itu niatnya nyari buku sastra, tapi aku belum menentukan judul bukunya apa. Kadang perlu untuk menentukan judul untuk berjaga-jaga biar nyampe toko buku ga bingung atau malah berubah fikiran. Soalnya buku-buku itu kaya punya suara yang suka manggil-manggil “Bawa aku pulang!”

Apalagi kalau buku yang ada di rak dengan label “sastra”, mereka bakal berisik berbisik “Aku ga selalu ada lho di rak ini, mumpung ketemu bawa aja sekalian!” atau ada yang bilang gini “Dulu kan baru baca sekilas, pasti udah ga inget lagi isinya!” Trus ada juga yang bilang “Ini karya penulis terkenal lho, belum baca kan?” Adaaa aja bisikannya. Karena saat ini belum memungkinkan buat ngebawa pulang semua, jadinya harus selektif milih.

sewindu (2)

Nah pas milih-milih, aku ngeliat sampulnya lucu! Berwarna hijau, pohon yang pola daunnya berbentuk bola dunia, rumah, matahari, awan dan hujan. Lupakan dulu tentang “jangan menilai buku dari sampulnya”. Judulnya yang puitis seolah menjanjikan kisah yang menarik. Aku juga udah pernah mendengar nama penulisnya Tasaro –  walaupun belum pernah baca karya-karya Tasaro sebelumnya aku mengambil kesimpulan sepertinya bagus. Tentunya pihak toko buku yang meletakkan novel ini di kategori sastra juga menambah bahan pertimbangan. Setelah membaca sampul belakang akhirnya memutuskan untuk membeli. Hal ini memang diluar kebiasaanku. Apalagi pas membayar di kasir aku lupa ga ngecek harga sebelum membayar. Kirain limapuluh ribuan, eh rupanya delapan puluh ribuan. Hmm, aku tidak bisa menaksir harga dari sampul buku🙂

Cerita di buku ini terdiri dari dua bagian, bagian satu yang bercerita mengenai awal kehidupan berkeluarga yang dituliskan dalam dua puluh dua judul serupa cerita pendek. “Memahami kekurangan suami atau isteri adalah sebuah fase mencengangkan. Sedangkan menerima kekurangan itu kemudian mengusulkan kompromi logis untuk sebuah perbaikan adalah sebuah tahap yang spektakuler” – merupakan kutipan dari cerita yang judulnya “Just The Way I Am”.

Kemudian bagian kedua, ceritanya lebih serius. Kisahnya lebih cenderung kepada dunia tulis menulis yang digeluti Tasaro dan Impiannya setelah sewindu kemudian.

Tasaro bercerita dengan ringan, mengalir  kadang kocak tetapi menyentuh. Cinta yang terlihat sederhana tetapi mempunyai kekuatan yang luar biasa. Saling mencintai dan berkomitmen menjalani hidup bersama, tidak menjamin bisa terbebas dari konflik. Walaupun itu terkesan sepele, seperti kebiasaan rapi yang berbenturan dengan yang biasa berantakan kadang akan berakibat fatal. Katanya Tasaro, yang penting bagaimana bisa menyelesaikannya dengan cantik.

Aku lebih menyukai cerita di bagian, membacanya berkali-kalipun ga berasa bosan. Entah karena ringannya atau karena mengalir, atau karena kocak atau malah karena menyentuh? *bertanya-tanya sendiri. Yang pasti kali ini aku ga menyesal menilai buku dari “desain” sampulnya.

*rinrin*

Silakan Komen di sini :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s