MENUNGGU MATI


2013-10-09 07.07.06Aku berdiri di sini sudah bertahun-tahun. Ah sepertinya aku tidak menghitungnya dengan tepat. Tapi benar, sudah beratus purnama kulewati di sini. Sehingga akarku, kurasa sudah menghujam dalam, dan rimbunku sudah harus merimbun jalan. Aku ingin mengumpamakan diriku seperti judul buku Taufik Ismail, “Mengakar ke bumi menggapai ke langit”. Seseorang pernah membacanya di bawah rindang daun-daunku.

***

Baiklah, kuceritakan lagi ihwalku disini. Awalnya aku gamang, tercampak jauh  dari sanak saudara. Terdampar di belantara yang sama sekali asing, bising dan sangat tidak ramah.

Aku dan teman-temanku, kami tahu akan mengalami nasib yang tidak jauh berbeda. Menggigil tubuhku, bukan lantaran hembusan angin yang meniup kami sepanjang perjalanan dengan mobil bak terbuka, tapi cemas yang menusuk-nusuk hati.

Mereka-mereka yang membawa kami- aku sama sekali tidak mengenalnya dan sama sekali tidak berniat untuk mengenal mereka. Mereka menggali tanah cepat-cepat sebelum matahari terbit sempurna.

Mereka menyebut tanah sebidang ini sebagai taman. Aku sempat heran, kemudian aku paham, maksud mereka akan dijadikan taman walaupun sampai bertahun-tahun aku di sini, sedikitpun tidak seperti taman dalam bayanganku, juga bayangan orang-orang.

Taman ini tidak begitu luas sehingga cukuplah untuk kami bertujuh. Akar-akar kecil kami dibenamkan pada lobang galian dangkal dengan jarak sekitar satu meter mengelilingi taman. Tidak ada tanaman lain selain kami dan rumput-rumput kering itu.

Masing-masing kami diberi pelindung empat pancang kayu  yang dihubungkan oleh delapan papan melintang, sehingga membentuk kerangka sebuah prisma segi emppat yang membuat kami sedikit aman.

Sebelum pergi orang-orang itu berbaik hati memberi sedikit bekal makanan dan menyirami tanah dengan sedikit air. Tetapi yang diujung kelupaan, ketika matahari baru naik dia sudah lemas dan hari itu dia layu, besok-dan besoknya lagi dia berangsur-angsur mati.

Taman itu hampir berbentuk segitiga sama kaki. Seharusnya kami aman, karena sisi kanan dan kiri taman itu adalah jalan raya.  Dan ada trotoar untuk pejalan kaki melintas, menghubungkan zebracross di kiri kanan kami.

Tapi sama sekali tidak, yang ada di mata kami setiap hari hanya mati. Kematian pertama dimulai dari ujung, temanku yang kelupaan diberi pupuk itu.

Aku hampir juga mati ketika orang mabuk menubruk sangkarku hingga ambruk. Secara teori aku yang akan menempati posisi kedua dalam urutan kematian tersebut. Dan teman-temanku hampir percaya, ketidak beruntungan tercepat akan menimpa mereka yang berada di sudut segitiga. Tapi untunglah besoknya pagi-pagi sekali ada seorang malaikat kecil menyebrang jalan, membantuku menegakkan tubuh.

 “Malang benar nasib kita, Kalaupun kita berdesak-desak tumbuh di persemaian Pak Badrun itu, paling tidak kita diberi makan yang cukup dan disiram tiap hari!” Kata si Subur sambil menerawang, merindukan galeri bunga di pinggir kota.

 “Bersyukur sajalah, paling tidak kita sekarang melihat orang-rang yang berbeda, tidak melulu Pak Badrun, pembeli dan calon pembeli. Juga tidak melulu tukang siram dan tukang beri pupuk yang selalu mengangguk-angguk ketika diberi petunjuk. Pernahkah kalian melihat mobil berseliweran kanan kiri seramai ini, selain mengintipnya dari rimbun pagar kembang sepatu yang jarang sekali berbunga? Kita menemukan sesuatu yang baru di sini, memberi kesejukan di tengah gersangnya kota!” Hibur Si Tinggi, dialah yang paling bersemangat ketika kawan-kawan lain putus asa mendengar kabar akan dibawa ke kota.

Mungkin pengaruh masa kecilnya yang tumbuh di dekat jendela. Setelah agak tinggi dia bisa pula melihat televisi, dari situlah dia tahu semua dunia yang asing ini.

“Teorinya saja begitu, kita semua tahu kalau kita akan mati sebelum sempat menaungi bumi. Kalian lihat aku, si Subur yang merana!”

Kami tahu tidak ada lagi si Subur, karena daunnya tidak lagi hijau dan lebar, semuanya mengkerut dan berkurang satu-satu. Begitu juga teman-temanku yang lain dari hari ke hari.

Hujan tidak pernah datang di waktu yang dinanti. Orang itu benar-benar sudah menyiksa dengan tidak pernah datang lagi padahal mereka pasti tahu sudah memindahkan kami bukan dimusim yang tepat.

Tidak lama berselang, dua orang temanku lagi, mati karena kekeringan. Sejak itu percakapan tentang nasib sedapat mungkin kami hindari,

“Coba lihat anak-anak yang berkeliaran di sana! Mereka tumbuh seperti kita!” Aku heran, bagaimana si Tinggi yang semakin kering itu masih tertarik melihat yang ada di sekitarnya sedangkan daunnya hanya tinggal empat lembar.

Kami seperti kerakap tumbuh di batu, hidup segan mati tak mau. Bukan tanah yang kami persalahkan, juga bukan putaran hari. Tapi memang kami sudah ditakdirkan untuk mati.

“Kita semua akan mati, apa yang harus dicemaskan?” Kata si Tinggi diaminkan oleh Si Pendiam. Dia jarang sekali mengeluh walaupun posisinya paling tidak menguntungkan. Sebelum matahari begitu panas, juga sebelum matahari sempurna tenggelam, anak-anak jalanan bergerombol duduk di  tempatnya, tanah di sekitar akar dan daunnya hampir botak, licin!

 Sebelumnya, antara aku dan si Subur yang sama-sama menghuni sudut, ada dua batang, tapi kini tinggal si Pendiam. Tiga dari tujuh penjaga taman kematian itu sudah mati.

Belum genap lima purnama, Si Pendiam akhirnya menjadi pendiam selamanya. Salah satu anak jalanan itu mematahkan pucuknya. Membuatnya seperti pancang kecil, tidak bernyawa. Dua hari kemudian salah satu dari mereka mematahkan pangkal batangnya. Anak itu memotongnya jadi dua, menjadikannya pemukul gendang dari bekas kaleng roti dan membawanya kemana-mana untuk mengamen.

Aku jadi benci anak-anak jalanan itu, seperti benciku pada orang yang membawaku ke sini.

“Sudahlah! Besok atau kapan-kapan kita akan mati kan? Itu semua hanya masalah waktu! Jangan buang waktumu untuk memendam dendam kepada mereka!” Si Tinggi tidak bosan-bosannya menasehatiku.

Setelah kupikir-pikir benar juga. Tidak karena mereka, karena tanah disini, atau karena apapun kami semua juga akan mati.

“Lihat ke seberang sana,di lampu merah! Anak-anak itu  berkejaran merebut uang receh yang mungkin keluar dari hati manusia-manusia yang berhenti di sekitar mereka beberapa menit!” Kata si Tinggi mengalihkan perhatianku, saat itu Si Subur juga sudah tiada, bukan tanpa sebab. Tapi daunnya sudah rontok semua.

Aku memperhatikan arah pandangannya. “Memang tidak ada yang peduli pada kita  ataupun pada mereka, apakah tumbuh dengan baik atau menderita. Tapi kita lebih beruntung, Siapa yang mengharapkan mereka? Apa bisa mereka, selalin menyanyikan lagu yang mengganggu pendengaran telinga, merusak pemandangan mata. Kalau sampai dewasa mereka seperti itu, manusia bisa menyebutnya sampah masyarakat. Sama dengan artinya manusia tidak berguna! Kalau kita, tanaman lindung! Tidakkan kau bangga?”

“Ya! Hal yang harus kita lakukan adalah bersyukur, bukan meratapi nasib!” Begitu nasehat terakhir si Tinggi, yang selalu harus kuingat sebelum mengikuti parade kematian.

Bersamanya dua kali pergantian musim setidaknya memberiku banyak pelajaran. Keingintahuanku tentang orang yang membawa kami kemari mungkin tidak akan terjawab lagi.

“Mungkin mereka orang yang butuh uang, membawa kita ke sini lalu menjual kembali jatah pupuk untuk kita agar mereka bisa makan!” Begitu penjelasan Si Tinggi pada hari sebelumnya,aku berusaha percaya sebab aku tidak tahu apa-apa. “Mereka tidak sembarangan membiarkan kita terlantar, mungkin mereka memang butuh lebih banyak uang sebab di kota semua kebutuhan harus dibeli. Mungkin saja biaya perawatan taman mereka pakai untuk kebutuhan yang lebih penting!”

Aku sudah tidak berusaha mencari tahu perkataan Si Tinggi itu benar atau tidak, toh selama ini dia memang lebih banyak tahu dari kami.

Untuk mengusir kesepian, aku mengalihkan perhatian ke sekeliling. Menyanyikan lagu kematian ketika angin bertiup. Mengenang teman-temanku yang kurang beruntung. Sebab aku menganggap hidup ini sebuah keberuntungan dari menunggu kematian.

Beberapa keberuntungan menyelamatkanku. walaupun tidak semuanya menyenangkan, seseorang pernah buang air kecil di akarku ketika aku hampir mati. Pernah juga membuang botol minuman, tapi isinya tidak tumpah  lalu ada seseorang lain menendangnya, hanya sedikit saja menetes di tanah tempat aku tumbuh, yang lainnya tumpah ke trotoar.

Beberapa hari lalu seorang bertampang baik-baik, membawa sebuah kertas putih dengan tulisan berwarna hijau,dibungkus plastik. Kaget juga ketika dia memakukan kertas itu ke pangkal batangku tapi tidak sampai menembus ke belakang, sekarang lingkar batangku sudah hampir sebesar lengan orang dewasa.

Save our green earth!”

Mungkin itu nama keren yang diberikannya padaku. Atau mungkin juga semacam pengumuman.

Tapi besoknya lagi, seorang gelandangan memandangi label itu.  Diejanya satu per satu sambil mengerinyitkan kening.

“Orang semakin kebarat-baratan sekarang, nama pohon kok susah-susah amat!” Lalu dia mencopotnya dengan garang. Aku ingin berteriak tapi tertahan, selain dia tidak akan mendengarkan. Akupun jadi bertanya-tanya dalam hati, sejak kapan pula aku peduli pada nama.

Setiap hari berlalu begitu saja, aku berusaha menghibur diri. Menyanyikan lagu ceria bersama angin, tanpa burung-burung. Menyaksikan ulah manusia yang berbagai macam, mengeja kehidupan yang membosankan. Tapi aku tidak ingin mati seperti mereka, teman-temanku dulu.

“Besok atau kapanpun kita akan mati, jadi apa yang harus dicemaskan…!” Itu pesannya yang selalu aku ingat.

***

*Kumpulan Cerpen lama*

Karawaci

Selesai, 14 Des 08

Silakan Komen di sini :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s