JINKU –Cerita dari Negeri Jin


2013-10-10 06.12.48Ada sekelompok jin yang pekerjaannya membangun kuil yang dinamai Kelompok Jin Kuil yang biasa dipanggil Jinku saja.  Selain membangun kuil, mereka juga bertugas memelihara agar kuil tersebut terjaga, bersih dan berfungsi dengan baik.

Jinku tersebut bekerja dibawah pimpinan seorang komandan Jinku. Perintah pembuatan kuil bisa langsung dari raja atau para menteri melalui komandan. Biasanya raja hanya memberikan gambaran umum mengenai kuil yang akan dibangun, detailnya akan dibicarakan antara Jinku yang bertugas dengan para menteri dan Jiksu – jin pengelola kuil.

Walaupun itu sebuah kuil kecil, pembangunannya bukanlah hal sepele. Pertama-tama perlu pengkajian model kuil seperti apa yang dibutuhkan. Adakalanya raja  dan yang akan menggunakan kuil persisnya seperti apa kuil  yang mereka inginkan,  para Jinku akan melakukan wawancara dengan mereka. Kemudian Jinku tersebut memnerikan saraan-saran berdasarkan keahlian dan pengalaman mereka membangun kuil.

Tiap daerah tidak mempunyai kuil yang sama. Misalnya kuil yang berada di daerah tropis tidak sama dengan akan dibagun di negeri empat  musim. Kalaupun sudah ada contoh desain kuil di daerah empat musim, tidak bisa semata-mata langsung di implementasikan buat pembangunan kuil di tempat lain yang mempunyai musim yang sama.  Bahkan di Kotapraja, kuil yang dibuat tidak pernah sama.

Perlu digarisbawahi di negeri jin kuil tidak hanya sebuah bangunan pemujaan, tetapi merupakan sebuah sistem dengan fungsi kompleks. Ada kuil yang khusus untuk menyimpan jimat penduduk negeri, siapa saja bisa menyimpan jimatnya disitu, agar tidak terjadi kekacauan maka dibuatlah sistem khusus. Ada kuil penyimpanan benda keramat, dilengkapi daftar benda, pemilik pertama dan alhi waris, waktu penyucian, pemeriksaan keaslian dan sebagainya. Adalagi kuil untuk menyimpan kitab-kitab pusaka, kuil tempat tinggal Jiksu, kuil tempat tinggal Jiksu dan penyimpanan peralatan perayaan, ada kuil khusus pemujan dan sebagainya.

Pembangunan kuil besar merupakan proses panjang dan rumit. Selain pengkajian model juga dilakukan pengkajian pengelolaannya. Setelah dilakukan pengkajian, lalu dibuatkan contoh miniatur. Dari miniatur tersebut akan dikoreksi apakah sudah sesuai dengan alur peribadatan dan pelaksanaan acara lainnya. Misalnya untuk berapa buah pintu masuk, siapa yang boleh masuk melalui pintu tersebut, siapa saja yang dibolehkan masuk pintu utama, pemisahan jalur masuk dan keluar dan sebagainya. Yang tidak boleh ketinggalan juga mengenai keamanan dan kunci mengunci. Sebelumnya, Jiksu akan mendapatkan pelatihan mengenai kunci mengunci ini dari kelompok jin yang ahli di bidangnya.

Setelah pembangunan kuil selesai maka diserahkan kepada pengguna. Lalu para Jinku akan melatih para Jiksu yang akan mengurus kuil tersebut. Karena keterbatasan jumlah Jiksu yang ada, tidak jarang pengelolaan dan pengurusan kuil dititipkan pada Jinku. Hal itu bisa berupa perjanjian komandan Jinku dengen menteri atau karena titah raja.

Akhir-akhir ini Jinku yang berada di Kotapraja mendapat perintah pembuatan kuil lebih banyak. Untuk pembanguna jangka panjang, dibangunlah rancangan Mahakuil yang didalamnya akan dibangun miniatur-miniatur kuil yang ada disertai perumusan aturan-aturan untuk masa depan. Aturan-aturan tersebut dimaksudkan agar dalam pembuatan kuil mengikuti kaidah kelayakan bangunan, kemanan dan fungsi baik sekarang maupun yang akan datang.

Rancangan Mahakuil sudah terbentuk,  masih menunggu pengesahan dari raja. Pengesahan itu sangat penting untuk memberinya kekuatan sehingga Jinku, komandan, menteri dan raja tidak semena-mena membangun kuil sekehendak hati.

Permintaan pembangunan kuil bertambah  di Kotapraja. Sementara itu Jumlah Jinku yang ada di Kotapraja makin berkurang karena telah dikirim untuk membuatkan kuil di tempat-tempat yang jauh. Jinku tersebut tidak bisa semerta-merta didatangkan untuk mengerjakan kuil di Kotapraja.

Mau tidak mau, pekerjaan dilaksanakan dengan mengerahkan tenaga Jinku yang ada. Alhasil Jinku yang mengurusi kuil-kuil kecil sementara tugasnya dialihkan. Mereka jadi ketar ketir mengejar waktu. Mau tidak mau, perintah raja harus dituruti. Itu juga demi kepentingan penduduk negeri jin.

Pada suatu hari, terdengar desas desus Jinku akan mendapat bantuan tambahan jin. Kabarnya beberapa jin ahli dari kelompok jin yang bertugas dibagian kunci mengunci. Para jin tersebut akan menambah kekuatan Jinku, sehingga pekerjaan bisa dikejar sesuai tenggat waktu. Perlu dicatat, bahwa pembuatan kuil di negeri jin tidak akan pernah berhenti sampai dunia berakhir.

Desas desus itu membuat suasana pembangunan kuil lebih bersemangat. Orang baru dan suasana baru, cukuplah untuk membuat Jinku tidak merasa jenuh.

Tibalah saatnya para jin baru datang. Dari catatan yang diperlihatkan komandan jin, jin baru tersebut sudah cukup berpengalaman, mereka dikelompok kunci mengunci juga bisa membangun kuil. Jinku menebak-nebak apakah pengalaman membangun kuil yang sama dengan yang pernah mereka bangun atau pembangunan yang lain. Komandan Jinku meyakinkan bahwa jin-jin baru ini adalah jin yang dapat diandalkan dan dapat menyesuaikan diri dengan baik. Komandan Jinku memperlakukan mereka dengan spesial, bahkan melebihi beberapa Jinku senior – yang sudah lama bekerja di sana.

Jinku muda bertanya-tanya dalam hati, ada apa gerangan. Kenapa jin baru ini mendapat perhatian yang spesial, dia belum bisa menarik kesimpulan. Sebab dia juga tidak mendengar kalau di dunia jin ini terdapat kasta-kasta.

Ya sudahlah, kalau komandan Jinku sudah memutuskan seperti itu mau bagaimana lagi. Mungkin nanti akan kelihatan apa yang istimewa dari mereka. Selama masih bisa bekerja dengan baik untuk mencapai tujuan, kenapa tidak.

Haripun berganti, pekerjaan pembangunan kuil masih terus dilaksanakan. Jin-jin baru “yang ahli” kemudian langsung digabung dengan Jinku. Kemudian terlihat keanehan yang lainnya, ternyata beberapa dari  para jin yang baru tersebut sudah menjadi “jin mandor” di kelompok mereka sebelumnya.

Oalaaah! Itu yang namanya lain gatal lain pula yang digaruk.

Dalam kondisi sebenarnya, Jinku membutuhkan jin pekerja, kenapa yang didatangkan jin mandor. Jinku sudah memiki banyak jin senior yang bisa dijadikan “jin mandor”.  Kenapa masih mendatangkan “jin mandor”dari luar akan menjadi sebuah teka-teki. Apakah jin yang berstatus sebagai jin mandor rela turun pangkat (pangkat lho- bukan kasta) menjadi Jin pekerja, bisa dilihat dari hasil kerjanya. Bagaimana pembuatan kuil sebelum dan setelah mereka ada, jika melihat dengan pandangan yang jernih komandan Jinku seharusnya mengevaluasi keputusan tersebut.

Terdengar desas-desus, komandan Jinku mendapat tekanan bahwa Jinku yang dibawahinya tidak bisa mendapatkan pelatihan “kunci mengunci kuil” jika tidak menerima jin baru tersebut.   Perlu diketahui bahwa keahlian kunci mengunci hanya dimiliki oleh kelompok dimana jin baru tersebut berasal. sehingga harus menukar guling jin yang menjadi bawahannya untuk dapat pelatihan “kunci mengunci”.

Hal lain yang mungkin perlu diketahui, Jinku juga merekrut anggota tambahan.  Mereka bersal dari jin-jin yang baru lulus dari pergurun tinggi jurusan Teknik Pembangunan Kuil,  Sistem Pembangunan Kuil, Pengadministrasian Kuil dan Pengelolaan Kuil. Jin-jin tersebut diuji beberapa tahap pengujian sehingga dinyatakan sah untuk bergabung. Jin-jin baru tersebut kemudian dididik dalam jangka waktu tertentu yang berpangkat “jin pekerja”.

Kenapa hal yang sama tidak dilakukan pada jin baru dari kelompok “kunci mengunci”? Tidak ada penjelasan resmi tentang itu. Karena sudah terjadi,  para Jinku tidak dapat berbuat apa-apa.

Bagaimana kondisi pasca kedatangan jin baru dari “kunci mengunci”, Jinku muda tidak mau menceritakan. Silakan datang ke negeri jin dan lihat bagaimana kondisi kuil-kuil yang pernah dibangun,  kondisinya dulu dan sekarang. Silakan perhatikan bagaimana jin-jin baru itu bekerja dalam kelompok.

Bagaimana ending cerita Jinku tersebut. Hanya Tuhan yang tahu. Semua jin mengharapkan lingkungan kerja yang nyaman, teman yang saling mendukung dan pimpinan yang adil untuk kepentingan bersama. Sebab Jinku bekerja bukan untuk kepentingan Jinku semata, bukan untuk kepentingan menteri ataupun raja saja, tapi untuk seluruh penduduk negeri jin.

***

*Rindang*

4 comments

  1. Mudah-mudahan para Jinku tetap bahu membahu, menjaga kekompakan mereka, tidak terpecah belah sehingga kuil-kuil tersebut dapat selesai tanpa perlu mendatangkan lagi jin-jin dari tempat lain. Saya yakin, Jinku bisa menyelesaikan pembangunan kuil itu. Dan semoga maharaja mengetahui kondisi yang sebenarnya, serta melindungi para Jinku tersebut.

  2. Semacam pernah berada dalam lingkungan Jin, para jin berkumpul demi titah kepala jin, kepala jin pergi, dan anak buah kepala jin entah harus bersorak atau bermuram diri. mereka galau.

Silakan Komen di sini :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s