Semua Ada Karena Tiada


Hari itu sibuk sekali, aku baru sempat mengecek telepon genggam setelah sholat Zuhur. Ada empat panggilan tak terjawab dari dua orang yang berbeda tapi keduanya masih merupakan kerabat. Karena mereka menelpon saat hampir bersamaan aku mengambil kesimpulan kalau keduanya mengabarkan hal yang penting dan kabar yang sama.

Kabar tersebut bisa saja baik, juga kabar buruk. Anehnya mereka tidak mengirim pesan, sebagai antisipasi saat aku mengecek telepon genggam aku bisa langsung tau tentang kabar itu. Begitu senggang aku telepon kembali, tapi tidak ada jawaban. Aku kembali meneruskan pekerjaan, berharap itu adalah kabar baik.

Menjelang Ashar aku coba menelepon kembali. Seseorang sudah meninggal, anak dari seorang bapak yang masuk rumah sakit beberapa bulan lalu karena penyakit jantung. Sekarang beliau sudah tidak di rumah sakit, tapi yang meninggal adalah anaknya. Yang membuat lemas adalah, almarhumah sebaya denganku. Walaupun kami sangat jarang berinteraksi, tapi aku menganggapnya teman. Antara percaya dan tidak, aku menghubungi kerabat yang lain untuk memastikan siapa yang meninggal, karena yang aku telepon sebelumnya sedang sibuk dan terdengar buru-buru. Dan berita itu tidak keliru.

Aku menimbang-nimbang apakah akan melayat sore itu. Aku agak ragu karena bertepatan dengan jam macet, sedangkan rumah duka ada di daerah Jakarta Timur. Walaupun pekerjaanku masih banyak, kalau aku minta izin pasti atasanku juga tidak keberatan. Aku hanya mempertimbangkan kalau kemalaman sampai di sana dan harus balik lagi ke ke kosan. Setelah ditimbang-timbang, aku memutuskan tidak jadi ke sana.

Karena berniat menyelesaikan pekerjaan aku ga jadi pulang. Aku mikirnya besok yang ngerjain bakal aku juga, daripada besok diburu-buru mending diselesaikan. Eh! Rupanya datang lagi pekerjaan tambahan, jadinya di kantor sampai malam. Sementara itu aku mendapat kabar beberapa kerabat dan saudara sudah berada di sana. Almarhumah akan dikuburkan malam itu, aku minta maaf tidak bisa datang karena masih ada pekerjaan.

Sebelum pulang, aku membaca sekilat status teman lain yang berada di rumah almarhumah “Semua ada karena tiada” . Kemungkinan karib kerabat dan orang-orang yang mengenal almarhumah sudah ada di sana. Menyelenggarakan jenazah; memandikan, mengafani dan menyalatkannya. Tidak lama,  ibuku menelepon, memberi kabar dan mengingatkan untuk melayat.

Beberapa hari kemudian, di hari Minggu. Kami- aku dan beberapa orang pergi melayat bersama. Aku menimbang-nimbang dalam hati. Bagaimana aku mengharapkan saat aku meninggal nanti masih ada keluarga, karib kerabat  dan teman yang tidak menunggu hari Minggu untuk melayat?

*unin*

2 comments

  1. Yah, namanya umur ataupun ajal tidak ada yang tahu, dan harta benda tidak dibawa ke liang lahat. Oleh karenanya, perbanyaklah amal kebajikan, dan perluaslah persaudaraan, serta hindari perselisihan dengan orang lain. Karena kita tidak akan pernah tahu siapa yang akan mengurus jasad kita setelah terbujur kaku.

    Demikian pesan almarhum Bapakku.😥

Silakan Komen di sini :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s