Frekuensi Natural


Hari itu aku agak telat pulang dari kantor, tapi memutuskan tetap berangkat ke kampus untuk kuliah. Selagi masih sempat, sebaiknya datang. Mengantisipasi jumlah ketidak hadiran kalau nanti  banyak pekerjaan atau tugas keluar Jakarta.

Ketika sampai di kampus suasananya sudah sepi, sudah pada masuk kelas. Buru-buru aku mengecek jadwal dan ruang kuliah (tapi ga mengecek mata kuliahnya). Yang pasti udah telat baget. Perkuliahannya ada di lantai dua, ruangan dua.  Untungnya dosennya ngijinin masuk. Aku berusaha secuek mungkin begitu beberapa mata tertuju padaku. Yah, gimana lagi namanya juga kerja sambil kuliah bukan kuliah sambil bekerja. Dalam hal ini sebenernya pengen waktu kuliah ya kuliah, waktu kerja ya kerja.

Rupanya semua bangku udah terisi, aku terpaksa keluar lagi buat ngambil bangku dari kelas lain. Aku berusaha setenang mungkin dan ga menarik perhatian. Sebelum duduk, sepintas aku melihat judul slide di depan kelas “Frekuensi Natural”. Kemudian aku duduk manis di deretan depan.

Sekarang jadwal kuliah apa ya? Berusaha mengingat-ingat. Pengen mengecek jadwal, tapi kertasnya tersimpan dalam ransel. Males banget ngeluarin isi ransel yang kebetulan lagi penuh, mana sudah ga dapat meja. Males juga bolak-balik ngambil meja lagi. Kebiasaan jelek, ga ada persiapan buat kuliah, dengan alasan sibuk. Kadang menyepelekan pertemuan pertama yang biasanya aku anggap masih “pengantar”. Ternyata akibatnya kaya gini, ga bisa langsung nyambung sama materi yang lagi terangkan.

“Frekuensi natural? Apa itu? “ Di slide depan kelas  yang terpampang hanya gambar dan rumus. “Makanya jangan telat!” Kataku menyalahkan diri sendiri.

“Ikuti aja! Ntar juga tau!” kata hatiku. Buru-buru aku mengeluarkan catatan, saat itu slide sudah berpindah dengan judul baru “Geratan Bebas Teredam”. Yang ditampilkan tetap gambar dan rumus.

“Kok pembahasannya sampai ke sini-sini sih?”  Aku merasa ada yang aneh. Tumben-tumben ada materi kaya ginian. Persamaan gerak?  Ga salah nih?

Aku mengecek kembali gambar “rangkaian” yang tadi pengen aku catet, tapi ga jadi karena merasa ga nyambung.

Bisa ga ngeh kalau gambar itu pegas dan beban, gara-gara gambar itu bagian dari gambar yang lebih "besar"

Parah: bisa ga ngeh kalau gambar pegas dan beban, gara-gara gambar itu bagian dari gambar yang lebih “besar”

“Pembahasannya sudah mulai serius, bagi yang baru datang kemungkinan ga bisa langsung nyambung. Kalau langsung bisa nyambung berarti daya serapnya tinggi!” Oalah, kena sindir juga. Tapi aku ga bisa nyimak apa yang diomongin dosen. “Bla! Bla! Bla! Contohnya pada schock breaker…!”  Hanya samar-samar yang bisa kutangkap,  beberapa kata terakhir. Schock breaker? Motor? Mobil?

“Eh, ini ruang dua kan?” Tanyaku pada anak yang sebelahku.

“Bener!”

“Dosennya Pak A bukan?”

“Bukan!”

“Tapi bener ini ruang dua?”

“Iya!”

Tidak mungkin aku keliru. Sumpah deh! Tadi aku ngeliat monitor pengumuman dalam keadaan sadar dan berulang kali. Biasanya aku kuliah bareng teman-teman, dan biasanya aku cuma merhatiin dosennya hadir apa kaga. Masalah ruang kelasnya, aku tinggal ngikuti mereka. Karena ga ada lagi teman yang ngambil kuliah yang sama hari itu, aku udah jaga-jaga agar jangan sampai salah masuk ruangan. Karena belum kenal sama dosennya dan teman-teman sekelas.

Aku mengurut dada dan berusaha tenang.  Yang tau aku salah masuk kelas cuma satu orang -yang tadi aku tanyai. Harus segera kabur!

Tapi setelah beberapa menit, aku tidak menemukan cara untuk keluar ruangan tanpa menarik perhatian. Dari cara dosennya ngomong, ga lama lagi kelasnya akan selesai. Mau nitip tas kesiapa, ga ada yang kenal! Sambil berfikir, slide-slide itu tetap berjalan. Ga cukup waktu juga harus ke lantai satu mengecek kembali dimana sebenarnya ruang kuliahku, trus balik lagi ke lantai dua atau malah ke lantai tiga. Dan saat itu aku ga yakin dosenku yang sebenarnya masih ada di kelas.

Akhirnya aku memutuskan tetap di ruangan itu. Mengingat-ingat kembali pelajaran fisika semasa SMA. Persamaan momentum? Mekanika? Beuh!

Akhirnya selesai juga, buru-buru aku ke bagian administrasi untuk mengecek kembali. Ternyata yang terjadi adalah: pas aku melihat monitor pengumuman, kebetulan yang ngatur jadwal kuliah lagi nyiapin jadwal pengganti minggu berikutnya. Dan dia tetap menampilkan jadwal itu dimonitor pengumuman dimana  kami biasa mengecek ruang kuliah sebelum masuk kelas.

“Pengalaman adalah guru yang sangat berharga!” Kataku menghibur diri begitu meninggalkan kampus.

Catatan:

  1. Persiapan dulu sebelum berangkat, fokus, fokus!
  2. Bisakan menganalisa sesuatu secara keseluruhan, jangan lanjutkan kalau dari awal sudah ada yang mencurigakan.
  3. Bersikap tenang akan membantu.
  4. Kenapa judul cerita ini “frekuensi Natural” karena itulah kata-kata yang pertama aku tangkap begitu masuk ruang kuliah.

*Rima*

Silakan Komen di sini :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s