Dirgahayu Indonesiaku


Merah Putih

Merah Putih

Ada hal yang mengganjal di hati, sekarang ini kita merdeka tapi belum sepenuhnya merdeka.  Merdeka tidak semata bebas dari belenggu penjajahan, tapi juga bermakna bebas dari berdiri sendiri atau tidak bergantung pada orang lain. Sebagai negara, kita tidak bisa mengatakan kita mandiri. Ingatkah tentang kasus kelangkaan kedelai, kelangkaan danging yang membuat kita harus kalang kabut dan kita “sungguh” membutuhkan pasokan dari negara lain. Negara yang tongkatpun dilempar bisa jadi tanaman, tinggal dalam lagu.

Sudahkah semua rakyat Indonesia merasakannya? Kita tidak bisa menjawab “SUDAH!” Berapa banyak kita mendengar berita tentang anak-anak yang putus sekolah karena tidak ada biaya, kasus anak kurang gizi, masyarakat yang tidak mendapatkan fasilitas kesehatan yang selayaknya karena tidak ada biaya, masyarakat di perbatasan yang lebih memilih pindah kewarganegaraan karena alasan kesejahteraan. Seolah kemerdekaan hanya milih orang yang punya uang. Sungguh miris jika Sementara kita mendengar berita tentang koruptor yang ditahan, dapat satu koruptor muncul lagi koruptor yang lain dan segala carut marut kasusnya.

Apa yang salah dengan negara ini? Apakah kita memilih orang-orang yang salah untuk mengurus negara ini. Apakah kita tidak punya orang yang kompeten untuk memimpin negara? Saya berharap tidak pernah mengajukan pertanyaan yang ke dua.

Di hari kemerdekaan ini, saatnya kita mengistropeksi diri. Kita tidak bisa hanya menyalahkan para pemimpin itu. Sudahlah! Setiap kisah pasti selalu ada pemeran antagonisnya. Nah sekarang kembali kepada diri kita sendiri, peran apa yang kita ambil untuk mengisi kemerdekaan ini.  Pastikan kita tidak mengabil bagian diantagonis itu.  Pesan guru saya di waktu sekolah dulu, seumpama kita dihadiahi rumah oleh para pendahulumu, jikalau tidak sanggup membangunnya menjadi lebih kuat, luas dan bagus setidaknya bisa memberi penyangga jika tiangnya mulai condong atau menambal atapnya yang bocor. Bukan orang yang mencopoti dindingnya satu persatu sehingga rumah itu roboh.

Jika kita mengharapkan perubahan pada negara kita, kita tidak bisa hanya mengandalkan orang lain. Bukankah Allah berfirman bahwa Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, jika kaum itu sendiri tidak merubah nasib mereka. Hal-hal yang positif jika dilakukan secara bersama, isyaallah akan memberikan dampak yang besar. Kalaupun tidak sekarang, pasti nanti. Jangan sampai melupakan bahwa sesungguhnya kita adalah negara yang besar dengan segala potensinya. Percayalah, diantara berita-berita negatif yang kita dengar sekarang ini, masih ada yang ihklas membangun negri dan kita tidak akan sendirian.

Pada akhirnya saya mengucapkan dirgahayu Indonesia, semoga ke depannya lebih baik karena sesunguhnya saat ini saya sendiri belum bisa mempersembahkan apa-apa. Semoga nanti, jika tidak sanggup membangun paling tidak, bisa menjaga dindingnya agar tidak keropos.

 *rinrin*

//

Silakan Komen di sini :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s