Mudik – Antaro Merak Jo Bakauheni


Sengaja aku menulis judul  “mudik” bukan “pulang kampung” karena saat ini dalam fikiranku mudik itu identik dengan pulang kampung dalam suasana lebaran.  Walaupun dalam KBBI disebutkan bahwa keduanya mempunyai pengertian yang sama sama. Mudik : mu·dik  yang artinya 1.   (berlayar, pergi) ke udik (hulu sungai, pedalaman)  2. pulang ke kampung halaman.  Apalah itu namanya, yang pasti lebaran Idul Fitri kemaren aku pulang ke kampungku di pulau Sumatera sana.

pageSebenarnya aku ada rencana lain sebelumnya dan tidak merencanakan mudik pas lebaran Idul Fitri tahun ini. Ternyata rencana tersebut tiba-tiba berubah. Beruntung juga tawaran pulang bareng temanku dan saudaranya masih tersedia.

Beberapa hari sebelum pulang, berasa udah ga sabar. Kami mengemas barang-barang yang ternyata lumayan banyak. Namanya juga sekali-sekali pulang, wajarlah bawa bawaan banyak gitu. Apalagi ga naik pesawat jadi ga perlu mikirin kelebihan bawaan.

Tanggal dua agus, terakhir masuk kerja. Kami berangkat sekitar jam sepuluh malam dari Jakarta. Dari kosan sampai masuk tol Cipularang (CIkampek – PUrwakarta – PadaLARANG) mataku masih bisa bangun, memperhatikan kesibukan orang-orang yang juga mau mudik. Tapi setelah itu blas ketiduran dan bangun-bangun pas sahur udah keluar pintu tol. Kami kejebak macet menuju pelabuhan. Alhasil setelah bersabar dengan macet sepanjang jalan dan antri naik kapal, kami baru menyeberang dari pelabuhan Merak sekitar jam setengah delapan.

Menjelang terompet panjang dibunyikan kami melihat-lihat anak-anak pencari koin berenang di sisi kapal. Para penumpang melemparkan koin ke arah laut, lalu mereka akan berenang dan menyelam untuk mengambil koin-koin yang dijatuhkan tersebut. Ada juga penumpang yang melempar uang kertas, yang kemudian ditiup angin ke arah dermaga. Mereka berpacu-pacu di air untuk mengambilnya. Hal tersebut menjadi hiburan tersendiri bagi penumpang kapal.

Pagi begitu cerah begitu kami  pelan-pelan meninggalkan dermaga, kami duduk-duduk di geladak memperhatikan suasana selat sunda yang tenang. Terlihat pulau-pulau kecil dan kapal-kapal lain yang bergerak di sekitar kami.

Terkenang lagu Yan Guci  yang judulnya Merak Bakauheni:

rinDi ateh kapa nan sadang bajalan 
Denai manangih mangatai diri
Karantau urang bukannyo denai bagadang hati
Di kampuang salamo ko oi dun sanak hati den ibo
Antaro Merak jo Bakauheni
Antaro saba jo gadang hati
Den tinggakan kampuang nan denai cinto
Dek harok ka batuka untuang jo parasaian

Tapi kali ini kami sedang berbahagia hendak mudik menuju kampung halaman. Lagu itu mungkin cocok waktu berangkat lagi nanti, jadi aku ga menyelesaikan liriknya hehehe.

Aku minta tolong pada teman untuk mengecek kecepatan kami dengan telepon genggamnya.

“Tigabelas kilo perjam!”

Perjalanan Merak Bakauheni, ada sekitar dua setengah sampai tiga jam. Aku ga menghitung persisnya berapa. Di kapal, kami disuguhi suasana baru yang lain banget dari rutinitas keseharian. Belum nyampe kampung, rasanya udah langsung fresh.

Ketika kapal yang kami tumpangi hendak merapat di Bakauheni, kami menyempatkan diri berfoto-foto terlebih dahulu. Sebelum turun dan melanjutkan perjalanan yang belum sampai sepertiga dari keseluruhan.

“Maaak, anak amak pulang!”

 *Rima*

 

Silakan Komen di sini :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s