Hujan lagi di bulan Juni


Sekarang bukan musim hujan bukan? Musim hujan  ada di rentang Oktober sampai April. Oh tentu saja aku tidak bermaksud protes mengenai  hujan yang masih sering turun akhir-akhir ini.

Aku tidak sedang ingin menyalahkan hujan untuk suasana hatiku ini. Hujan sama saja seperti biasa. Jalan-jalan tergenang air  cokelat, macet dan berisik. Orang-orang berubah jadi garang. Setelah reda, sampah menumpuk, air masih menggenang. Hidup harus berjalan bagaimana adanya. Membosankan, tapi aku tidak bisa mengusirnya pergi.

Kadang aku sedang suka melihat jarum-jarum kecil itu jatuh, terpantul di air gelap. Sekalipun aku sedang senang memandang embun yang terbentuk dibalik kaca dimana kita bisa menulis nama dengan jari telunjuk. Sekalipun aku sedang senang memandang daun-daun yang kekuningan jatuh di atas kepala dan menghirup udara sedalam-dalamnya yang aku bisa. Aku tidak bisa menahannya berlama-lama.

Cerita apalagi tentang hujan kali ini?  Sepotong senyum sudah terbawa angin tenggara. Aku tidak sedang bersemangat, bolehkah kukutip sajak ini?

payungHujan Bulan Juni – Sapardi Djoko Damono

tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu

***

*rindang*

 

2 comments

Silakan Komen di sini :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s