Anak Daro


anak daro ilustrasianak daro2anak daro ilustrasiGadis kecil itu duduk dengan anggun sambil tersenyum. Dia menikmati gemersik bunyi yang berasal dari untaian sunting  ketika dia menggerakkan kepalanya. Sesekali dia tersenyum pada kamera yang entah benar-benar mengarah padanya atau tidak. Di sebelahnya sang marapulai melakukan hal yang sama.

Tamu-tamu berdatangan mengucapkan selamat dan menyalami anak daro dan marapulai. Sesekali ada yang mencubit pipi anak daro dan marapulai kecil dengan gemas.

“Anak siapa ini?” Cantik sekali!” Puji mereka, sang anak daro kecil tersipu-sipu. Dan marapulai tertawa kesenangan seperti dia disandingkan dengan putri paling cantik di seluruh dunia.

Seolah merekalah bintangnya pada hari itu. Tapi lama-lama keduanya menjadi bosan pada orang-orang dewasa yang tidak mereka kenal itu. Lalu sadar yang diberi selamat adalah anak daro sungguhan. Sedangkan dua pasang anak daro dan marapulai kecil itu adalah pelengkap, orang-orang tua membiarkan mereka memainkan rumbai-rumbai pelaminan.

 “Kasihan sekali, anak daro itu pasti capek!” Kata gadis kecil itu bersimpati. Membayangkan kepalanya diberi beban sunting yang besar dan beratnya mungkin berlipat-lipat daripada sunting kecil yang dia pakai sekarang ini, rasanya sangat menyakitkan.

 “Kalaupun capek sepertinya Tek Marni senang sekali jadi anak daro!” Kata sang marapulai kecil. “Dari tadi anak daro dan marapulai itu tersenyum terus pada orang-orang!”

“Tapi suntingnya kan berat! Aku tidak mau jadi anak daro kalau sudah besar!” Gadis kecil menggelengkan kepalanya hati-hati, sambil cemberut.

“Setiap anak perempuan pasti akan jadi anak daro…!” Kata sang marapulai kecil.

“Tapi teman-teman di sekolahku tidak jadi anak daro, ibu mereka juga tidak pernah jadi anak daro!”

“Tetap saja Vivin harus jadi anak daro, kan Vivin orang Minang!”

“Ibu juga bilang begitu!” Gadis kecil masih cemberut.

“Tidak usah khawatir! Nanti aku mengatakan kepada Etek,  kalau kamu sebaiknya tidak usah memakai sunting yang berat! Lagi pula, jadi anak daro kan cuma satu kali!”

Ketika tamu baru datang atau akan pulang, anak daro dan marapulai berdiri dan bersalaman dengan mereka. Ketika tamunya sedang makan, anak daro dan marapulai itu duduk kembali di pelaminan. Mereka mungkin bercakap-cakap, gadis kecil itu hanya bisa melihat gerak bibir mereka.

Dia memonyongkan bibir ke arah kedua mempelai. “Anak daro sungguhan harus menerima selamat dari tamu, tidak memaikan jumbai-jumbai! Pasti membosankan!”

 “Tek Marni tidak bosan. Lagipula nanti kalau bosan, aku akan menceritakan cerita lucu!”

 “Kalau sudah dewasa kamu masih jadi marapulaiku?”

“Tentu saja!”

“Tapi setelah libur aku kembali lagi ke Jakarta!”

“Nanti kita bertemu di sana!”

“Janji?”

“Janji!”

*

Itu adalah cerita dua puluh tahun lalu. Hari ini dia memenuhi sebagian dari janjinya. Menjadi marapulaiku!

Dia duduk dengan gagah, memakai baju berwarna merah yang bersulam benang emas. Di kepalanya melingkar sebuah destar bersulamkan benang emas. Entahlah dia masih mengingatnya atau benar-benar sudah melupakannya, yang jelas aku tidak berniat memintanya menceritakan cerita lucu walaupun aku sangat bosan. Karena dialah pesta pernikahan ini menjadi sangat membosankan.

Di Pelaminan itu hanya ada kami berdua, karena aku tidak mau ada anak daro dan marapulai kecil. Rumbai-rumbai bersulam benang emas tidak menyemarakkan hatiku.

Kalau saja dia mau sedikit saja tersenyum menatapku, kalau saja dia sedikit saja mau mengeluarkan suaranya sekedar menanyakan, bagaimana perasaanku. Mungkin aku tidak akan dilanda bosan yang teramat parah ini.

Kami seperti sepasang robot anak daro dan marapulai yang sudah disetel oleh nasib untuk tetap tersenyum pada tamu. Berbeda sekali dengan Tek Marni dan marapulainya ketika aku masih kecil dulu. Mereka tertawa berdua.

Dia tersenyum dan akupun tersenyum, tapi dalam hati kami menyimpan ranjau duka yang sebentar lagi akan meledak. Menunggu sampai pesta sepi, para tamu mulai pulang, para orangtua sudah merasa bahagia, perang akan segera dimulai.

Aku memuji keberhasilannya menyembunyikan perasaan. Tidak ada yang janggal dalam tingkanya, sedangkan aku sudah beberapa kali ditegur ibu karena menampakkan wajah cemberut.

“Eh anak daro, kenapa dengan suntingnya? Berat sekali?” Canda ibuku.

Aku mengangguk lebih cemberut lagi, untunglah ada logam ringan berwarna emas di kepala yang bisa dipersalahkan menjadi penyebab kegalauan di hatiku. Walaupun beratnya tidak sampai satu kilogram.

“Beruntunglah Upik, ada sunting model baru sekarang. Tidak seperti saya baralek dulu. Suntingnya berat dan memakainya juga rumit, sampai sekarang masih ada sebaris rambut saya tidak bisa tumbuh karena kulit kepala terluka oleh penjepitnya!”

 “Apalagi upik, waktu baralek itu saya masih di kampung. Bahagia sekali rasanya di arak dari rumah Ibuku ke rumah suamiku. Semua orang menatap bahagia. Tidak salah orang menyebutnya menjadi raja dan ratu sehari, berjalan tiga kilo dengan tarompa tinggi dan sunting yang berat tidak ada apa-apanya bagi anak daro, karena dia sudah bertemu dengan junjungannya. Yang akan membawanya berlayar mengarungi hidup, seperti aku terdampar di rantau orang, di pulau Jawa ini, kami bahagia!”

Tukang rias itu berhasil juga aku tipu, sehingga dia terus menerus membicarakan masalah sunting.

Tapi lelaki di sampingku ini lebih bisa lagi menipu. Dia sama sekali tidak membuat kesalahan melafalkan akad, sama saperti ayahku.

Tapi dia benar-benar hebat, dan menyempatkan diri untuk tersenyum ketika melingkarkan cincin ke jari manisku. Senyum pertama padaku sejak Ayah membicarakan pernikahan kami. Aku tahu itu palsu dan kubalas lagi dengan senyum, palsu!

Mungkin sebentar lagi dia akan menumpahkan semua kekesalannya padaku, Semua yang tidak pernah diungkapkannya akan diledakkannya sekuat tenaga, karena dia sama sekali tidak peduli dengan pernikahan ini.

“Terserah Mamak dan Etek, bagaimana pestanya! Walaupun acaranya sederhana saja, saya tidak keberatan!”

Begitulah yang diucapkan saat keluarga berunding mengenai pesta pernikahan. Sebuah sindiran halus, yang sebenarnya ingin dia katakan adalah: “Terserah ada pesta atau tidak, saya tidak peduli! Karena bukan keinginan saya menikah dengan anak kalian!”

Mungkin dia lebih ingin tidak ada pesta pernihakan. Mungkin yang diinginkannya hanyalah menikah secara sederhana, lalu di suatu saat bisa menceraikanku dengan sederhana.

*

 “Izinkan saya menumpang disini Mamak, untuk mencari penghidupan. Kalau nasib mujur saya berniat melanjutkan pendidikan!”

Aku teringat janji kecilnya yang akan membebaskanku dati kutukan anak daro. Aku merasa kedatangannya waktu itu adalah serangkaian dari pelaksanaan janji kecil itu.

Ibunya adalah adik kandung ayahku. Sebelum dia datang ke Jakarta, aku dan Hamdan hanya satu kali berjumpa  sewaktu janji jadi anak daro dan marapulai itu terucap. Waktu liburan sekolah di acara pernikahan tek Marni, adik ayah yang paling bungsu.

Ayah bersaudara enam orang. Yang tertua adalah Pak Tuo Ramli, aku hanya mendengar namanya. Kabar-kabarnya dia sudah jadi orang kaya besar dan tidak pernah pulang kampung karena sudah beristrikan “orang seberang”. Para keluarga selalu menyebut seperti itu.

Yang nomor dua adalah Mande Hasanah, beliau punya dua orang anak perempuan. Ayahku yang nomor tiga. Nomor empat adalah Pak Cik Labai, beliau beristri orang Bukittinggi. Punya dua orang anak perempuan yang mungkin saja menjadi sainganku kalau saja kartu Hamdan tidak di tangan ayah.

Yang nomor lima adalah Mande Rabiah, Ibu Hamdan.  Sedangkan yang bungsu adalah Tek Marni.

Diantara saudara-saudaranya Ayahlah yang dianggap paling berhasil di rantau. Karena Pak Tuo Ramli adalah pengecualian. Ketidakpulangan Pak Tuo Ramli membuat keluarga tidak setuju jika ada yang  bersuami atau beristri orang seberang.

Diantara saudara Ayah, Mande Rubiah yang hidupnya paling susah. Ayah Hamdan meninggal sewaktu dia masih kecil.

Setelah menamatkan sekolah menengah atas, yang biayanya dibantu oleh ayahku. Hamdan pergi merantau ke Jakarta.

Hanya tiga bulan dia menompang di rumah kami. Kemudian dia berniat hidup mandiri. Dia berjualan baju bekas di Pasar Senen sambil mengambil kuliah malam hari. Ayah yang  membiayai kuliahnya dan memberi uang saku tiap bulan yang awalnya ditolaknya.

 Ayah, sangat memegang teguh adat, menurut pandangannya anak laki-laki harus belajar mandiri . Ayah melarangku bergaul terlalu dekat dengan Hamdan karena kami bukan muhrim.

Kami jarang sekali bertemu. Hanya sesekali saja dia menelepon menanyakan kabar dan berbasa-basi menanyakan kuliahku.

Ketika dia wisuda, kami datang bersama sama, juga dengan ibunya dari kampung. Dia memperkenalkan seorag gadis sebagai calon pendampingnya.

“Lebih baik cari orang kampung untuk kau jadikan istri, biar tiap tahun bisa menjenguk ibumu pulang! Aku tidak setuju kau beristrikan orang seberang, seperti mamakmu yang sudah hilang seperti batu jatuh ke lubuk, tidak pernah pulang-pulang lagi! Aku takut kau akan seperti itu Buyung!”

Aku yakin Hamdan tidak benar-benar menuruti nasehat ibunya. Yang pasti setelah dia bekerja, tidak ada lagi percakapan tentang gadis seberang.

Di umurku yang ke dua puluh enam, aku sudah mulai bosan dengan pertanyaan Ayah dan Ibu yang kenapa aku tidak pernah punya seseorang yang istimewa. Mereka menginginkan aku menikah, setidaknya punya rencana untuk menikah.

Sebenarnya bukan aku menutup pintu hati (ledekan dari beberapa teman yang tidak bosan biang buka mata dan buka hati). Masalahnya Hamdan sudah menarik simpatiku dan memenangkan hatiku sejak dulu. Sedangkan aku tidak punya cara untuk memenangkan hatinya dan tidak punya nyali untuk mengatakannya.

Sampai suatu hari aku menyadari sesuatu, Hamdan tidak mungkn menolak permintaan Ayahku.

“Bagaimana kalau Ayah dan Ibu menjodohkanku dengan salah seorang dari kemenakan atau siapa saja yang menurut ayah cocok…!” Kataku pura-pura menyerah. Aku sudah memperhitungkan dan meneliti silsilah keluarga. Di pihak Ibu, aku adalah  cucu tertua. Sedangkan di pihak ayah, hanya ada Hamdan yang laki-laki.

“Vivin sudah saya anggap sebagai adik Mamak, bagaimana mungkin kami menikah!” Itu adalah jawaban yang keluar dari mulutnya.

“Ah Mamak sudah bisa menebak jawaban itu, makanya dari dulu mamak tidak membiarkan kalian bergaul terlalu dekat!” Kata ayah “Mamak dan Etekmu-Ibunya Vivin dulu juga teman sepermainan semasa kecil, tidak ada yang janggal ketika kami sudah berumah tangga!”

 “Saya akan fikirkan lagi mamak!”

*

Semua sudah usai. Sekarang hanya ada aku dan dia. Tidak perlu lagi senyum manis yang dibuat-buat untuk menunjukkan kepada semua orang bahwa kami sepasang mempelai yang berbahagia.

Aku sudah siap menunggu semua kata-kata yang akan keluar dari mulutnya. Tapi dia hanya diam, berdiri dekat jendela, tidak beranjak sedari tadi. Seolah serangkaian pagar hidup yang tertimpa cahaya bulan adalah pemandangan istimewa. Mungkin sesekali dia melirikku- ku kira.

“Maafkan saya, tidak bermaksud merusak hubungan siapapun. Tidak bermaksud menghancurkan cinta siapapun. Sejak dulu aku sudah cintakan engkau…!” Kalimat itu yang ingin sekali kuucapkan padanya, tapi hanya menggantung di angan-angan.

Waktu berjalan teramat lambat. Sepertinya aku sudah menua, duduk bertahun-tahun dalam kebisuan. Aku tidak boleh membiarkan ini terjadi.  Tapi tidak satupun pilihan kata yang sudah aku fikirkan mampu untuk dikeluarkan.

Aku mengangkat kepala. Berbarengan dengan mata itu menatapku. Dia tersenyum. Sebuah senyum kemenangan telah berhasil menyiksa batinku sebagai anak daro.

Kuberanikan diri menatap dalam ke bola matanya, kendatipun hatiku bergetar, semua rasa sudah bercampur aduk di sana. Bahagia, kesal, sakit hati, tak tahu mana yang menjadi dominan sekarang.

Bagaimana aku bisa menjalani bahtera rumah tangga, sedangkan sejak awal aku sudah gamang terombang-ambing oleh perasaanku sendiri. Kenapa dia tidak menolak saja menikah denganku. Aku memang sangat mencantainya tapi toh aku tidak mengancam untuk bunuh diri kalau dia tidak mau menikah denganku. Kalau dia marah, aku juga marah.

“Dengar Vivin, kalau tidak karena aku yang berhutang budi pada Ayah dan Ibumu, tidak akan mungkin ada pernikahan ini. Kau adalah gadis yang baik, tapi aku tidak mencintaimu. Kalaupun pernikahan ini sudah terjadi, sebenarnya tidak lebih dari kepura-puraan. Kalau tahu begini, dari awal aku akan menolak kebaikan orangtuamu. Aku tidak mengira akan seperti ini. Aku fikir kalian orang-orang yang tulus tapi ternyata kalian sama saja dengan yang lain. Tidak peduli pada hati, tidak peduli pada perasaan yang kalian tahu uang bisa membeli segalanya. Kalau tidak menenggang Ibuku, lebih baik aku dianggap orang tidak membalas guna!”

Dari awal, aku sudah mempersiapkan diri menerima semua kemungkinan kata-kata yang sangat menyakitkan. Tapi dia hanya diam, kalau dia diam, aku juga diam.

Dia menatapku lekat. Kemudian dia bergumam, jelas sekali aku mendengarnya. Karena kami hanya berdua dalam keheningan.

Kemudian airmataku berlinang, lidahku tercekat.

 “Vivin sekarang adalah istriku, aku akan mencintaimu!”

Membuatku ingin menjadi anak daro sekali lagi. Mengucapkan terima kasih pada tamu-tamu yang datang seribu kali. Aku rela dikepalaku dipakaikan sunting yang beratnya sepuluh kali lebih berat.

***

Anak daro    : Anak dara, lebih sering dipake untuk menyebut penganten perempuan yang memakai sunting

Marapulai    : Pasangannya anak daro

Baralek          : Pesta pernikahan

Mamak          : Paman

Pak Cik           : Pak Lek

Pak Tuo          : Pak De

Tarompa        : Sandal

Karawaci, Agustus 2008

*rindang*  #repost

One comment

Silakan Komen di sini :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s