Sebuah Gosip


“Apa benar si Johan sudah menikah?” Tanya ibuku dari seberang sana, ada nada penasaran dari suaranya. Padahal aku sudah dengan jelas mengatakan kalau si Johan sudah menikah,  waktu menelpon pulang dua minggu lalu. Apa yang harus dipertanyakan lagi?

IMG-20120617-00746“Kenapa Bu?”  Aku mengira-ngira. Apa bapakku  pernah punya rencana untuk menjodohkan aku dengan anak saudaranya itu, sehinga  menjadi penting untuk dibicarakan. Padahal aku ingin bercerita mengenai pekerjaan yang aku jalani dua minggu belakangan. Menghibur mereka untuk tidak terlalu mengkhawatirkanku di Jakarta.

“Bapakmu saja belum tau si Johan sudah menikah!”

Terdengar deheman bapakku dari seberang sana. Seperti biasa jika dia tidak suka mendengar obrolan kami di telepon.

“Kapan dia menikah?” Ibu masih bertanya dengan penasaran.

“Saya ndak bertanya …”

Suara kokok ayam  saling bersahut.  Juga nyanyian burung balam dari jendela. Hampir empat bulan aku meninggalkan kampung,  sepertinya bapakku belum memindahkan tempat menggantung kandang burung itu dari depan jendela, dimana dia biasa menikmati kopinya.

“Namanya juga saudara jauh Bu. Memangnya Bapak marah, kalau dia tidak diberi tahu?” Seperti halnya kebanyakan wanita, kadang ibuku agak suka membesar-besarkan sesuatu.

“Beliau tidak marah, tapi yang namanya kabar bahagia setidaknya dikabarkan juga pada kerabat…!”

“Bagaimana pekerjaanmu Nak?” Bapak segera memotong pembicaraan, merasa dehemannya tidak digubris ibu.

“Lancar pak! Orang-orangnya juga menyenangkan!”

“Bapak si Johan itu sendiri,  juga belum tahu kalau anaknya sudah menikah di Jakarta!” Kata ibuku, sebelum memberikan telepon ke Bapakku. Lalu pembicaraan tetang si Johan terputus.

Seperti biasa  bapak  tidak bosan-bosannya menasehatiku. Hati-hati di rantau orang dan pandai-pandai hidup menumpang.  Jangan suka banyak bicara, apalagi urusan orang lain. Kalau berita di rantau kompor meledak, sampai di kampung kabar yang diterima bisa menjadi rumah hangus terbakar. Seperti biasa, akupun tidak bosan mendengar nasihatnya yang hampir sama.

Sehabis bicara dengan bapak, yang dikatakan ibuku, cukup menganggu pikiran. Ternyata ayah si Johan sendiri tidak tahu kalau anaknya sudah menikah?

Apa masalahnya? Apakah dia nikah diam-diam karena tidak direstui?

Dulu kami sama sekolah sampai kelas enam SD. Lalu tidak pernah lagi satu sekolah sampai tamat SMA dan mungkin –seingatku tak pernah bertemu lagi setelah itu. Aku tidak terlalu dekat dengannya, nakalnya alang-kepalang. Di sekolah ada-ada saja yang membuat guru marah, anak-anak perempuan diejek sampai menangis. Anak-anak laki-laki yang tidak mau tunduk akan jadi bahan latihan tinjunya. Karena masih saudara jauh dan mungkin juga dia takut pada bapakku, aku tidak pernah jadi korban kenakalannya.

Aku tidak ingat lagi kapan terakhir bertemu di kampung. Aku juga tidak tahu kabar terakhir tentang si Johan.  Pernah sekali kudengar kabar dia terlibat narkoba semasa aku SMA. Aku juga tidak tahu pasti, apakah dia menyelesaikan sekolahnya di SMA.

Aku bertemu dengannya setelah beberapa hari tiba di Jakarta.  aku melihat dia sudah sangat berubah dari zaman sekolah dulu. Mungkin – menurut perkiraanku karena dia sudah menikah, sudah punya tanggungan keluarga.

Aku bertemu kalau kebetulan berkunjung ke pasar, dimana pamanku berjualan. Atau kebetulan Sering juga mereka pulang dari pasar bersama, mampir dulu untuk ngobrol dan makan malam. Si Johan pernah cerita kalau orang rumahnya lahir dan besar di Jakarta. Seberapapun dia berusaha memasak masakan Padang. Kata si Johan, rasanya tetap tidak seenak yang dimasak oleh orang Minang.

“Nanti kalau sudah punya suami, sebaiknya tetap kerja!”  Katanya suatu kali pernah menasehatiku. Sepertinya hari itu, dagangan mereka sedang sepi. “Biar bisa saling mendukung. Coba dalam keadaan sulit seperti ini, paling tidak masih ada dukungan keuangan!”

“Orang rumahmu bekerja di mana?” Tanyaku.

“Si Johan enak, orang rumah bekerja.  Tempat tinggal gratis, mertua punya kontrakan pula! Sekali-sekali  tidak dapat uang, tidak apa-apalah. Namanya juga hidup!”  Potong mamakku. “Kalau kamu nanti berkeluarga, pastikan anak terurus dengan baik. Uang dapat dicari, tapi kalau keluaga sekalinya tersia-siakan, seumur hidup akan menyesal…!” Seperti halnya bapakku, mamakku akan memberi nasehat sepanjang makan malam itu.

Perkara si Johan tidak pernah kami bahas, walaupun aku juga heran kenapa Bapaknya sampai tidak tau kalau dia sudah menikah di jakarta.  Tidak pernah juga terfikirkan olehku untuk menanyakan kapan tepatnya dia menikah. Menikah di mana? Siapa saja yang datang? Pesta di mana? Dan segala macamnya sampai ibu menanyakan lagi tentang itu.

Kabar pernikahan sesalu aku asumsikan dengan kabar bahagia.  Awalnya ibuku menanyakan, bagaimana kabar mamak dan istrinya dan bertemu siapa saja di jakarta. Lalu kukatakan kalau kami tinggal berdekatan dengan famili bapakku, namanya Johan. Mungkin  Bapakku ingat dan dia sudah menikah.

Sama sekali tidak bermaksud bergosip. Sama halnya seperti mengabarkan kalau anak mamakku, yang tiga tahun lalu lahir di kampung, sekarang sudah lincah. Sudah masuk playgroup dan dia senang sekali menggambar  matahari dengan warna merah.

Kalau benar si Johan menikah diam-diam, kenapa dia tidak berusaha merahasiakannya dariku? Bukankah aku punya peluang untuk membocorkan hal itu ke kampung.  Aku bisa bicara ke siapa saja, kalau aku ingin. Walaupun pada kenyataannya aku baru mengatakannya pada ibuku, lalu ibuku bilang pada bapakku. Dan bisa saja bapakku bilang ke orang lain, lalu dia bilang ke orang lain dan seisi kampung bisa tahu kalau si Johan menikah tanpa memberi tahu orangtuanya.

Coba aku terka, mungkin saja dia pernah minta izin untuk menikah. Tapi karena orangtuanya tidak merestui. Tapi dia malah diam-diam menikah.

Karena merasa tidak tenang, aku menelpon Ibu dan memastikan dulu bapak tidak ada.

“Apa Ibu memberi tahu kalau si Johan sudah menikah pada Bapaknya?”

“Tidak, Ibu hanya bilang kalau kau bertemu dengannya di Jakarta!”

“Terus?” tanyaku tidak puas “Kenapa ibu bisa mengambil kesimpulan kalau bapaknya si Johan tidak tahu?”

Sekarang giliran ibuku yang penasaran, karena aku berubah jadi antusias. “Ibu  Cuma menanyakan, cucunya sudah berapa orang. Bapaknya bilang, punya menantu saja belum!”

“Ibu dan Bapak tidak bilang siapa-siapa kan?”

“Memangnya kenapa?”

“Takut kalau aku salah bicara, tapi bilang bapak jangan katakan pada siapa-siapa!” Aku masih belum bisa merasa lega, walaupun aku tahu bapakku bukan tipe orang yang suka membicarakan oranglain. Siapa tahu dia juga keceplosan seperti yang aku lakukan.

Aku tidak heran kenapa aku bisa panik seperti ini.  Pertama, di kampung yang luasnya tidak lebih dari sejauh toa kumandang azan di surau. Semua berita, sedikit saja sumbang terlihat atau janggal untuk di dengar  mudah sekali untuk menjadi bahan pembicaraan.

Bukan! Bukan reputasiku yang aku khawatirkan, yang lebih aku takutkan adalah hubungan Bapak dan anak. Bagaimana pula kalau ibunya sama macamnya dengan ibuku, begitu mendengar kabar buruk bisa tidak makan berhari-hari. Atau  kalau orangtuanya mendapat penyakit jantung,  berarti aku yang patut dipersalahkan walau pangkal persoalannya ada pada mereka.

Akhirnya, aku bertanya juga pada Etekku.

Etek juga tidak mengerti, dia memang sudah tinggal di rumah si perempuan! Yang perempuan masih ada orangtuanya. Entahlah kalau orangtua yang perempuan membiarkan mereka berlaku semaunya!”

Pelajaran baru: kalau orang bilang orang rumah bukan selalu berarti istri, kalau orang bilang mertua belum tentumertua, kalau orang bilang tinggal serumah, belum tentu suami istri.

Apa aku harus mengabari ibuku lagi dan merevisi kabar yang mungkin sudah beredar dengan kabar baru “ternyata si kahirul belum menikah, tapi dia sudah tinggal di rumah yang perempuan” dan di akhir kalimat itu perlu ditambahkan kalimat penjelasan lagi “sebaiknya kita tidak berprasangka buruk, karena itu bisa menjadi fitnah dan fitnah itu lebih kejam dari membunuh!”

Seminggu-dua minggu. Aku berusaha untuk konsentrasi dengan pekerjaanku. Si Johan tidak pernah pula bertandang ke rumah.

Mamakku dan istrinya menyarankan agar aku tidak memikirkan ataupun membahasnya. “Sudahlah, itu urusannya!” kata mereka.

Tapi sungguh, aku merasa cemas, bagaimana kalau kabar itu menyebar dan apa tanggapan orang pada si Johan. Buatku dan juga buat si Johan, mungkin tidak akan merasa efeknya. Tapi buat orangtuanya, yang tiap hari menjalani kehidupan di kampung sana, dimana kesalahan terkecil dan hal sekecil apapun pada diri kita akan menjadi bahan pembicaraan. Kampung heboh, tidak akan mungkin Bapak si Johan akan membiarkan anaknya jadi bahan gunjingan. Dia akan mencari tahu sumbernya, dan kalau dia tahu kabar itu adalah fitnah, aku tahu pembalasan paling ringan yang akan didapatkan Ibu dan Bapakku.

Untuk meluruskannya aku malah lebih tidak berani. Aku – mungkin dengan fikiran terbuka bisa mengatakan apa salahnya tinggal di rumah perempuan, orangtua yang perempuan juga mengizinkan, asal tidak menyalahi aturan agama.  Aku bisa berkilah, di sini di jakarta cing! Tidak harus peduli pada urusan pribadi orang lain. Bukan di kampung , kalau laki-laki dan perempuan berjalan berdua, agak lain polahnya  akan jadi pembicaraan orang.

***

“Kok mendadak sekali?”

“Keluarganya sudah mendesak sejak sebulan lalu!”

Sore  itu, menjelang Magrib, aku sampai di rumah. Aku mendengar suara si Johan bercakap-cakap dengan mamak dan etekku dari luar.

“Lama tidak kelihatan!” Kataku, basa-basi setelah mengucapkan salam.

“Hari minggu besok saya menikah! Datanglah! Syukuran sederhana saja…” Katanya dengan senyum dipaksakan.

“Saya mengira kamu sudah menikah … !”  Kataku sambil aku memikirkan beberapa kata yang tepat untuk minta maaf.

“Seharusnya sudah!”

Dia pamit, beberapa hari kemudian kami datang bersama-sama ke pernikahannya. Aku lega, entah karena berita yang aku sampaikan bukan gosip entah karena temanku menjalani kehidupan sebagaimana yang kami anggap bagaimana seharusnya.

– *rindang*-

Silakan Komen di sini :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s