Menanti Pelangi


2012-01-31 08.10.22Di sini, menanti kepulanganmu seperti menanti pelangi. Kalaupun mendung lama mengambang, jika hujan tak sudi turun, pelangi itu tidak akan datang. Sekalipun hujan tercurah dari langit dan menyisakan gerimis, jika mentari tidak tepat janji, dia juga tidak akan datang.

Menantimu, tiada punya ukuran waktu juga tiada pertanda pasti. Seperti pelangi yang berpatok pada musim, berpatok pada langit. Hanya yang pasti dia datang: tahun ini, tahun mendatang, atau abad mendatang.

***

Dulu, dimusim pertama…

Kembang-kembang biru dan ungu ceria, bertaburan di kemeja hijau muda. Kupu-kupu mungkin tertipu dengan semerbaknya. Tentu saja aku tidak bermaksud mempesonamu dengan hal semacam itu. Tapi kau pasti bisa menebak suasana hati yang berdetak dan bersorak.

 “Hai!”

“ Halo! Bagaimana kabarmu?”

 “Akhirnya kau pulang Juga!”

Berkali aku belajar mengeja kata itu, tetap tak bisa mengucapkannya dengan sempurna. Malah membuatku jadi tercekat dengan air mata menggambang.

Maka aku berencana sebaiknya diam. Tersenyum sudah cukup, menjelang kau menyapa.

“Habis itu percakapan juga akan mengalir dengan sendirinya!” Kataku menghibur diri sendiri. Apakah cerewetmu tidak berubah? Seperti waktu pergimu dahulu, bercerita tentang cita-cita.

Waktu itu kau sangat bersemangat, hingga cerita tentangku tak sempat untuk kusampaikan. Niatku untuk pergi ke Jakarta ini,  urung aku bercerita melihat semangatmu yang menggebu. Melihat semangatmu kecemasan dan ketakutan akan akan apa yang kuhadapi nanti sendirian, menjedi hilang. Kehidupan akan menjadi sulit bagi kita, setidaknya bagi aku dikemudian hari. Tapi karena semangatmu, aku menjadi lebih tenang.

Tidak berjanji saling bertemu, hanya saling berkirim kabar. Kau terbang bersama  mimpimu, aku dengan mimpiku. Kau ke tenggara aku ke barat daya.

Dalam rentang jauhnya, ada ruang di hati masing-masing harus terisi dengan yang lainnya.  Lalu kita punya rasa baru yang bernama rindu. Atau hanya aku?

Energi kepulanganmu membuat waktu tujuh hari, menjadi hitungan yang sangat lama. Dibanding rentang waktu yang sudah kuhabiskan menatap langit.  Inginkah kau bertanya kenapa aku hanya menghitung dua tahun? Sebaiknya aku jelaskan saja, tiga tahun sebelumnya aku masih menimbang-nimbang hati, mereka-reka rasa sampai akhirnya aku putuskan untuk menantimu.

Tujuh hari itu adalah enam ratus empat ribu delapan ratus detik, dan akan menjadi semakin lama jika pesawatmu delay satu detik saja. Jangan kau mengira aku terlalu berlebihan dengan menghitung satuan waktu dalam detik, tapi begitulah adanya terhitung dalam detak nadiku.

Tentu saja aku tidak akan menyalahkanmu, dengan kabar kepulanganmu yang tiba-tiba itu. Sehingga aku tidak sempat menyiapkan penyambutan yang lebih sempurna. Seumpama, mempersembahkan puisi indah bersama serangkaian bunga. Cuma sempat mencari ajimat anti gugup dan belajar mantra anti gagap .

Tapi tenanglah, aku sudah bersiap dan memastikan datang lebih awal,  aku akan berada di bandara sebelum kau datang.  Semoga siang itu tidak macet seperti biasa. Izin pulang kerja lebih awal, sudah aku dapatkan sejak hari kau mengabariku akan pulang.

Percayakah kau, kantorku yang kemaren-kemaren sempat kukutuk sebagai tempat paling membosankan, ternyata tidak benar adanya. Semua pekerjaan aku kerjakan lebih baik dan lebih cepat dari biasa. Aku tidak mengatakan sebelumnya bekerja lambat. Tapi sebagai penegasan, bahwa berita kepulanganmu membuat semuanya menjadi istimewa.

Oh iya, aku juga menyiapkan masker untuk menghindari asap rokok di ruang tunggu bandara nanti. Memakai masker, bisa sedikit mengurangi asap rokok yang bisa membuat kepalaku pusing. Paling tidak ketika tersenyum padamu, kepalaku tidak sedang pusing atau terlihat seperti orang meringis. Dan, kukasih tahu kau sebuah rahasia. Asap rokok itu membuatku mudah emosi dan gusar. Tentu saja aku tak ingin terlihat seperti orang bosan, apalagi gusar di saat menunggumu.

Aku sudah mengira-ngira tempat duduk yang paling strategis. Sehingga saat kau keluar dengan kereta dorongmu,  aku bisa langsung bisa melambai- jika aku sanggup. Jika tidak, seperti rencana awal, tersenyum saja. Ah, aku jadi sedikit malu, berharap sesuatu yang kau bawakan dari jauh.

***

Ketika hitunganku tinggal seratus tujuh puluh duaribu detik – tinggal dua kali matahari tenggelam. Ternyata pelangi urung datang, kau urung pulang. Aku tetap menangis, sekalipun berusaha mengerti musababnya.

Apa yang terjadi di sana? Sepertinya kehadiranku berupa baris-baris kata, atau suara yang terbata-bata atau sekelebat bayang di layar monitor, tidak cukup mengerti apa yang kau alami. Bisakah aku mengerti kau tiba-tiba berubah fikiran dan tidak jadi pulang. Entahlah! Tapi tau kah kau, ternyata rindu itu pilu.

***

Dimusim berikutnya…

Kemeja hijau muda dengan kembang-kembang ungu biru masih ceria, kusiapkan lagi untuk menantimu. Enam bulan dari musim pertama, jika dalam hitungan detik menjadi angka enam belas juta.

Kali ini aku lebih siap, bahkan lebih baik dari musim yang lalu. Juga tidak semerta-merta melupakan mantra-mantra dan ajimat itu. Bahkan juga berjaga-jaga kau urung pulang. Sehingga aku tidak harus menata keping-keping harap yang terlanjur berserak.

Tapi, beberapa hari sebelum aku pulang. Ternyata kau kabarkan urung pulang. LAGI!

Ah, terlalu sakit untuk tidak berprasangka terlalu mudah untuk  kecewa, terlalu naif menyimpan asa. Mendung tak berarti hujan bukan? Kalaupun huan belum tentu ada pelangi bukan? Aku paham takdir alam itu. Tapi aku tetap menangis.

***

Jika kau bertanya untuk musim-musim berikutnya. Apakah kembang-kembang ceria itu masih ada. Apakah pelangi itu indahnya masih akan mempesona. Aku tak tau jawabannya. Jika kau bertanya seperti apa rasanya menanti, aku tahu pasti. Kau juga harus tahu, rindu itu pilu.

***

*rindang*

Silakan Komen di sini :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s