Jogja or Djogdja – (5) – Taman Pintar


Taman Pintar

Taman Pintar

Seharusnya aku sudah menyelesaikan tulisan ini sejak lama, setidaknya beberapa hari setelah kami kembali ke Jakarta. Tapi kenyataannya aku hanya menyelesaikan draftnya dan berjanji pada diri sendiri untuk menyelesaikan semua.  Tapi kenyataannya lagi, aku  masih menulis tentang cerita di Jogja sementara  cerita perjalanan berikutnya terkesan terabaikan. Sebenarnya hal semacam ini, lebih cenderung untuk mendisiplinkan diri  untuk tetap konsisten menulis. Mari kita lanjutkan, karena  aku akan menyesal sekali sudah menulis draftnya tapi tidak menyelesaikannya.

Kami keluar dari museum kereta berbarengan dengan waktu Zuhur. Jadi mampir dulu di mesjid Raya dan makan nasi Gurih. Yaitu berupa nasi putih yang dimasak dengan cara khusus, ditambahi kacang kedele, irisan telur dadar dan krecek. Gendang gendut tali kecapi, kenyang perut senanglah hati. Setelah itu melanjutkan perjalanan, pada intinya ingin menjelajahi kota Jogja.

Terbersit juga rencana untuk ke Prambanan. Acara jalan-jalan kami sudah di luar rencana semula – jadi sekalian aja mengubah arah tujuan. Tapi, bukan takdirnya pergi ke Prambanan, kami dapat informasi jalan macet, ditambah lagi yang antri nunggu Transjogja banyak banget, tambahlagi jalur Transjogja dirobah karena bakal ada acara malam itu. Yo wes daripada balik malem, kami memutuskan untuk mencari objek yang dekat-dekat saja.

Dan sampailah kami di taman Pintar. Berupa taman bermain untuk anak-anak yanng semua wahananya sarat dengan unsur edukatif. Selain pajangan-pajangan yang bisa diamati dan dicoba anak-anak, juga ada pertunjukan dan kegiatan interaktif yang bisa diikuti. Temenku tertarik ke Planetarium, yang satu mungkin karena emang tertarik tapi yang satunya lagi alasannya biar bisa tidur selama pertunjukan. Lumayan setengah jam, limabelas ribu untuk membales tidur semalem,  pulang dari Dieng udah larut – oalaaah.  Ternyata, peminat Planetarium cukup banyak dan kami ga kebagian tiket. Pilihannya clay sama membatik.

Akhirnya, kami ikut membatik. Sayang banget udah dateng, ga nyobain membatik. Wah, ternyata yang ikut membatik juga banyak, dan kebanyakan anak-anak. Kalopun ada ibu-ibu atau bapak-bapak, itu karena mendampingi anak-anak mereka.

Disini anak-anak (oalah, peserta maksudnya) diajarkan bagaimana proses pembuatan batik mulai dari membuat pola di kain putih sampai terbentuk kain batik. Peserta dibebaskan berkreasi dengan motif dan warna sesuai dengan keinginan masing-masing

batikKarena rame, kami harus bersaing dengan anak-anak lain. Walaupun di desain untuk anak-anak (liat aja ukuran kursinya), ga ada salahnya kalau untuk mencoba kalau penasaran. Tapi kalau lagi rame, tergantung kita betah apa kagak bersaing dengan anak-anak nyari tempat duduk dalam pondok bambu untuk mencanting (membuat motif batik dengan menggunakan lilin panas).

 Setelah kami hitung-hitung bakalan lama, mulai dari menggambar motif dengan pensil, mencanting, dikasih warna, dikeringkan dan prosesnya itu ga hanya satu kali. Udah mulai mendung di luar. Sementara masih ada target berikutnya ke pasar Bering Harjo dan Malioboro. Kami memutuskan berhenti.

Ya sudah, kami  pergi dari taman Pintar itu, meninggalkan karya yang belum selesai di akhir tahun 2012 #dramatis🙂

**Rima**

Silakan Komen di sini :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s