Sunyi di Tegowangi


Surowono atau Candi Tegowangi? Sepertinya pagi itu kami harus memilih. Karena kemungkinan ga akan keuber mengunjungi dua tempat tersebut menggunakan sepeda. Barang-barang yang akan dibawa balik ke Jakarta belum semuanya diberesin. Kemungkinan sore bakal turun hujan, jadi harus berangkat ke stasiun lebih awal kalau ga ingin kehujanan pas balik ke Jakarta.

Pilihannya jatuh ke candi Tegowangi. Menurut informasi, jaraknya hanya empat kilometer dari  desa Tulungrejo Kampung Inggris.  Perkiraan waktunya sekitar setengah jam sambil sepedaan nyantai.  Masalah lokasi, bisa ditanyakan pada penduduk.b_petunjuk

Harusnya kami berangkat lebih pagi, biar ga terlalu panas sepedaan. Lagi pula untuk masuk ke lokasi candi ga ada jam khusus kok.  Sawah-sawah, ladang jagung, ladang cabe yang subur semuanya menghijau. Ga berasa bersepedaan sekitar setengah jam  kurang akhirnya kami sampai pada papan petunjuk pertama.

Untuk selanjutnya tinggal mengikuti papan petunjuk menuju candi yang jelas terpajang di tiap-tiap persimpangan meuju candi.

Taraaa! Inilah candinya.

b_sepeda

“Ini doang? Setelah capek-capek sepedaan, ternyata tumpukan batu aja!” kekeke … Mungkin ada yang beranggapan seperti itu. Tapi itu batu bukan sembarang tumpukan batu. Berdasarkan keterangan yang ditempel pada pintu masuk dituliskan bahwa:

Cadi Tegowangi secara administratif terletak di desa Tegowangi, Kecamatan plemahan, kabupaten Kediri. Propinsi jawa Timur. Menurut kitab Pararaton candi ini merupakan tempat Pendharmaan Bhre Matahun. Sedangkan dalam kitab Negara Kertagama dijelaskan bahwa Bhre Matahun meninggal tahun 1310 C (1388 M).  Maka diperkirakan dibuat tahun 1400M dimasa majapahit karena Pendharmaan seorang raja dilakukan 12 tahun setelah raja meninggal dengan upacara srada.

Secara umum candi ini berdenah bujur sangkar menghadap ke barat. Berukuran 11.20 m x 11.20 m. Tinggi 4.35 m. Pondasinya terbuat dari bata, sedangkan batu kaki dan sebagian tubuh yang tersisa terbuat dari batu andesit  dst … (ntar tak ketik lagi di file terpisah ya …)

Suasananya adem dan sejuk banget,  sekelilingnya banyak pepohonan.

 Masih dekat lokasi candi, ada peternakan lebah milik penduduk. Beruntung sekali pas kami datang, ketemu sama mas-mas yang sedang mengecek kondisi kandang lebah.  Lebih beruntung lagi, kami boleh ngeliat dari dekat dan mengambil foto. Asal ga berisik dan mengganggu, kebahnya ga bakalan mengigit.  Ternyata di sini untuk peranakan, bukan untuk produksi madu.

Pulangnya mampir buat beli madu. Madu yang dihasilkan oleh lebah berbeda-beda berdasarkan madu bungan yang dimakannya. Ada madu karet, madu mangga, ada lagi yang lain (ntar kalo jalan kudu nyiapin catatan kecil biar kaga lupa) .

Walaupun jauh banget dengan Borobudur (hayooo, kapan ke Borobudur?), tapi kalo  udah di kampung Inggris sempatkan berkunjung ke sini.

b_madu b_lebah2 b_lebah b_kotakmadu

Sekian aja liburannya ke Tegowangi kali ini, ga sempet ke Surowono. Musti balik ke Jakarta. Mendung sudah bergelayut ketika kami beres-beres. Hujan mulai  turun satu-satu  ketika  becak  membawa kami ke ujung jalan Brawijaya.  Ternyata dari Pare, ga ada angkutan langsung menuju stasiun Kediri.  Kalau tau dari kemaren, pasti aku milih pulang lewat Jombang. Dari simpang di ujung jalan Brawijaya, Cuma satu kali naik angkot langsung bisa turun di stasiun Jombang. Yo weslah, balik ke Jakarta lagi. Kapan-kapan main lagi.

Episode berikutnya: Jogjaaaaaa !!!!🙂

*rima*

One comment

Silakan Komen di sini :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s