MANDIRI PANGAN SEJAHTERAKAN RAKYAT : Sumpah Gandum


Prof. Dr. Ir. SUHARDI MSc cover

Penulis : Zaky Al Hamzah

Penerbit : KMAG Book

Cetakan I,  Jakarta, Juni 2011

Makasih banget buat Narisnana yang udah minjamin buku koleksinya.   Saya ga tau apa buku ini dijual bebas dan beredar di Gramedia, Gunung Agung atau toko buku lainnya. Buku ini “disponsori” (semoga padanan katanya tepat) oleh partai Gerindra, tentu saja memuat hal-hal yang berkaitan dengan partai tersebut. Namun  dalam ulasanku ini tidak menyinggung tentang Gerindra, tapi tentang sumpah gandum yang dijalankan oleh  Prof. Dr. Ir. Suhardi MSc.

Pernah mendengar sumpah gandum sebelumnya?  Sebuah ikrar untuk tidak akan memakan gandum dan produk turunannya, hingga masyarakat Indonesia sejahtera dan tidak bergantung pada gandum.

Kalau kita perhatikan gandum (tepungnya terigu), sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan kita. Padahal gandum sama sekali tidak tumbuh di Indonesia dan harus diimpor dari luar negeri.  Lihat saja aneka kue dan makanan kecil, sebagian besar menggunakan terigu sebagai bahan baku. Coba cek komposisi snack yang ada di pasaran, hampir sebagian besar terbuat dari terigu. Lalu mie instant, roti, biskuit, gorengan juga bahan dasarnya terigu.

Secara tidak sadar, kita memang sulit dipisahkan dari gandum. Seberapa besar kita bergantung pada gandum? Yang  jelas lebih besar dari ketergantungan kita pada kedelai.

Masih ingat kelangkaan kedelai di Indonesia beberapa waktu itu karena kebutuhan impor tidak tercukupi.  Tahu dan tempe jadi langka, menjadi heboh di media (masyarakat juga),  menjadi isu nasional, pedagang merugi dan konsumen mengeluh. Apalagi kalau kasusnya terjadi pada gandum, kebayang dampaknya bakal lebih besar dari pada itu.

Ga lucu banget terjadi gejolak dalam negeri karena negara pengekspor gandum  menghentikan pasokannya ke Indonesia, tapi hal itu mungkin saja terjadi. Ketergantungan yang tinggi pada negara lain, melemahkan posisi Indonesia dalam hubungan bilateral maupun multilateral sehingga dalam isu-isu tertentu, dengan senjata pasokan gandum ini negara lain bisa saja menekan Indonesia.

Kalau kita bisa mandiri kenapa harus bergantung pada orang lain? Hanya akan melemahkan diri kita sendiri.  Begitula inti dari sumpah gandum. Toh makanan lokal tidak kalah dibandingkan dengan gandum. Berikut tabel yang saya salin ulang, mengenai perbandingan kandungan gizi beberapa sumber pangan yang dimuat dalam buku tersebut , bersumber dari direktorat Gizi depkes RI.

No. Kandungan Gizi

Banyaknya dalam

Beras

Gandum

Ubi kayu

Garut

Ubi jalar

1 Kalori (kal)

360,0

365,0

363,0

355,0

136,0

2 Protein (gram)

6,8

8,9

1,1

0,7

1,1

3 Lemak (gr)

0,7

1,3

0,5

0,2

0,4

4 Karbohidrat (gr)

78,9

77,3

88,2

85,2

32,3

5 Kalsium (mg)

6,0

16,0

84,0

8,0

57,0

6 Phospor (mg)

140,0

106,0

125,0

22,0

52,0

7 Zat Besi (mg)

0,8

1,2

1,0

1,5

0,7

8 Vit A (SI)

0,0

0,0

0,0

0,0

900

9 Vit B1 (mg)

0,1

0,1

0,0

0,1

0,1

10 Vit C (mg)

0,0

0,0

0,0

0,0

35,0

11 Air (gr)

13,0

12,0

9,1

13,6

40,0

12 Bagian dimakan (%)

100,0

100,0

100,0

100,0

100,0

Dari kombinasi angka di tabel di atas, panganan lokal Indonesia tidak kalah dengan gandum. Mengenai beras tidak terlalu ditekankan karena  jika konsumsinya ditingkatkan, produksinya juga harus ditingkatkan. Hal ini bisa dilakukan dengan meningkatkan efisiensi lahan yang ada. Mengambil opsi peningkatan lahan untuk penanaman padi berarti mengurangi area hutan (ga mungkin perumahan atau perkebunan dialihfungsikan menjadi sawah), karena padi hanya bisa ditanam di lahan yang khusus untuk padi, sama halnya dengan gandum.

Trus kita harus berhenti mengkonsumsi gandum  gitu? Ciyus? *meminjam pameo yang lagi populer.  Kalau bisa kenapa ga? Tapi tentu saja tidak semerta-merta bisa berhenti mengkonsumsi gandum  (apalagi untuk masyarakat di perkotaan).  Secara makanan yang terbuat dari gandum  dan olahannya lebih bervariasai, lebih praktis, lebih banyak beredar di pasaran, dan bagi kalangan anak muda dan anak-anak lebih menarik dan populer.  Dibanding ubi, ketela, talas, ganyong, garut (malah nama dari dua spesies terakhir juga banyak yang ga tau) yang udah jarang-jarang ada, mengolahnya pun susah, paling-paling direbus, dikukus atau digoreng.

Sedangkan ketela, ubi, ganyong, garut bisa ditanam secara tumpang sari, tidak merusak ekosistem hutan dan bahkan bisa meningkatkan zat hara dalam tanah. Sehingga Prof. Dr. Ir. Suhardi MSc yang mendalami ilmu mengenai kehutanan ini, sangat gencar mengkampanyekan konsumsi makanan lokal tersebut.

Sepintas lalu memang seperti ga punya pilihan kalau ga makan gandum  apalagi untuk snack dan makanan kecil.  Tapi sebenarnya ada, hanya saja tidak sepopuler makanan berbahan baku gandum yang beriklan besar-besaran dan kreatif.  Makanan tradisional, misalnya rengginang, opak, gethuk, winko, tape (ga pernah tuh muncul iklannya di tivi). Berbagai jenis kerupuk : karupuak sanjai, karupuak kaliang, kerupuk palembang, kerupuk bangka (paling-paling iklannya di radio atau tivi lokal). Kalah populer dan kalah menarik, untung saja masih ada karena masih menjadi oleh-oleh khas daerah.

Bersyukur sekarang ini ada usaha kreatif yang mulai populer misalnya berbagai olahan ubi ungu, tela tela, tela krezz, mak icih, karuhun, kribo, produk javara, egg roll ubi ungu, dll.  Semoga makin banyak variasinya, bisa menjadi pilihan saat masyarakat ingin beralih dan menggalakkan konsumsi produk olahan dari panganan lokal. Walaupun saat ini belum bisa menggantikan produk gandum dan turunannya yang sudah terlanjur ada, semoga bisa membantu meningkatkan kemadirian pangan.

Jadi, sumpah gandum  sama sekali bukan hal yang sepele. Konsisten dengan hal tersebut adalah hal yang sangat luar biasa dan tidak bisa dipandang sebelah mata, salut buat Prof. Dr. Ir. Suhardi MSc.  Sudah berapa lama beliau melaksanakan sumpah gandum? Siapa sebenarnya pencetus Sumpah gandum itu? Bagaimana perjalanan hidupnya? Apa saja sepak terjangnya selain sumpah gandum? Kita bisa membaca lebih lengkap dalam buku ini.

Terimakasih sudah mengispirasi.

 ***

3 comments

  1. klo emang niat kampaye ya ga usah dijual bukunya, ini mah sumpahnya buat nyari kekayaan bukan pengorbanan.
    BASI..>!!!

Silakan Komen di sini :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s