CERITA WALIKOTA KOTAPRAJA


Kotapraja Sudah menjadi pemakluman umum tentang Kotapraja yang semerawutnya melebihi benang kusut yang terendam kedalam dasar kali yang dalam. Pelik sekali. Jika ditarik satu, yang lain semakin terjepit. Jika diurai yang lain semakin mengikat kuat. Jika diputus, benang itu tiada berguna lagi.

Banjir tidak lagi banjir musiman yang datang sekali setahun, tapi banjir sembarang yang datang berbarengan dengan hujan datang.

Masalah transportasi serba susah. Naik angkutan umum, berjejer berdempet-dempet seperti ikan asin disusun ke dalam karung  setelah dijemur.   Naik mobil pribadi, bikin stress. Naik motor juga bikin stress  Motor –motor suka seenaknya menyempil sembarangan. Bus kota  berhenti sembarangan.

Sebenarnya di Kotapraja ada kendaraan umum yang bagus, pakai ac, tidak ada orang yang merokok, berhenti di tempat yang sudah ditentukan tapi yang mengantri banyak sekali, bisa tua di jalan kalau hanya mengandalkan angkutan itu.

Jalan kaki bukan pilihan yang tepat di Kotapraja, cuacan panas, nyawa selalu terancam karena tidak ada jalan khusus. Sekalinya ada,  diambil oleh pengendara sepeda motor, sesekali mobil  atau malah dipakai untuk lahan parkir dan tempat berjualan.

Lalu pad suatu ketika  saat pemilihan calon walikota, muncullah seorang calon yang aneh nyeleneh. Pada awalnya dari tujuh pasang calon walikota, sang calon itu tidak tampak menarik.  Dia membawa jargon sederhana. “untuk Kotapraja, untuk hidup kita, mari curahkan cinta!”  Jargon  yang lebih cocok ditulis di kartu valentine atau kartu ucapan kelahiran.

Menurut analisa pengamat politik, calon ini menyebarkan rasa optimisme untuk perubahan Kotapraja.  Menawarkan hal yang lain daripada yang lain dan belum pernah ada sebelumnya.  Kalau orang berjualan, dagangan seperti itu kalau tidak ditolak oleh pasar,  pasti laku keras.

***

Kalau calon walikota makan bersama rakyat di warung pinggir jalan saat kampanye, itu sudah biasa terdengar. Di Kota tetangga, hampir semua calon walikota melakukannya, bahkan pernah dua orang calon walikota bertemu di warung yang sama, mereka berebutan saling ingin mentraktir. Akhirnya yang punya warung mengratiskan keduanya, hitung-hitung untuk biaya iklan.

Kalau calon yang ini  malah mengajak tim sukses, relawan beserta penduduk pinggir kali melakukan gotong royong pembersihan kali.  Tema kampanyenya disebut “Kampanye Bersih”. Bisa diartikan sebagai kampanye yang dilakukan dalam rangka bersih-bersih.  Bisa juga dengan artian, kampanye tersebut bersih, tanpa ada embel-embel uang atau sogokan. Yang dibayar mereka yang pekerjaannya berat dan wajar untuk dibayar dan semuanya tercatat. Misalnya yang masuk ke dalam kali, mencangkul endapan endapan sampah dalam kali dan memanggulnya ke atas truk.

Di  Stasiun itu banyak sekali gelandangan, pengamen dan orang-orang yang tinggal di rumah-rumah kardus. Hari itu mereka bisa punya pekerjaan dengan bayaran wajar dan makan enak.

Para relawan dibebaskan untuk melakukan kegiatan sesuai dengan kemampuan. Sekedar menyaring sampah yang hanyut dengan galah atau memungut sampah dibantaran.

Panitia menyediakan masker, lima biduk kecil dan truk besar pengangkut sampah. Tiap setengah kilo ada koordinator dan pengawas. Calon walikota mengambil tempat dekat stasiun.

Daerah yang dijajal pertama kali adalah kali Besar Dekat Stasiun di sebelah barat  Kotapraja. Jaraknya sekitar sembilan kilo dari muara, dengan tiga kali kampanye.

Persyaratan untuk jadi peserta yaitu relawan dan pekerja, cukup memakai kaos berwarna merah, tidak ada alasan spesifik untuk pemilihan warna ini, biar lebih terlihat mencolok.

Satu buah warung makan besar -yang mengusung tema makanan sehat tanpa pengawet dan bahan kimia buatan mendirikan tenda untuk sarapan dan makan siang didepan warungnya yang berhadapan dengan stasiun. Tidak  mau kalah, dua warung kecil dibelakang stasiun juga menyediakan sarapan pagi . Warung-warung makan di sepanjang aliran kali sudah sepakat untuk menyiapkan makan siang.  Simbiosis mutualisme, kalau kali itu bersih dan bebas bau, orang akan betah makan di warungnya.

Sebelum acara dimulai sang calon walikota berpidato yang isinya masyarakat yang tinggal ada di sekitar lingkungan tersebut akan memperoleh manfaatnya. Walaupun nanti dari hulu dihanyutkan lagi sampah-sampah, paling tidak aliran kali itu sudah lancar, tidak ada lagi yang menggenang, meluap dan menjadi sarang nyamuk.

Melihat sang salon walikota bersemangat, orang-orang ikut bersemangat, walau satu dua orang ada juga yang sekedar mengharapkan akomodasi dan bersenang senang. Tim suksesnya perlu dipuji berhasil mengerahkan massa. Karena sudah adatnya di Kotapraja,  orang miskin  kalau tidak kerja tidak makan,  orang kaya waktu selalu jadi uang.

Acara mendapat diprotes oleh tiga pasang calon lain,  sebagai kegiatan money politics. Tentunya tidak masuk akal, orang bekerja dan dibayar sesuai dengan pekerjaannya adalah wajar. Yang lebih wajar, donatur dan penerima uang kampanye itu jelas dan hasilnya jelas.

Pada kampanye  tahap kedua,  lebih banyak donatur yang mendaftar, pekerja yang mendaftar juga banyak, dan relawan juga membludak. Kampanye bersih itu lebih cepat dari target  yang ditetapkan.

Akhir pemilihan dapat ditebak, calon itu menang telak.

***

Hari pertama dilantik, dia melakukan silaturahmi dengan semua orang di kantornya dan memberikan pidato langsung pada rakyat yang sudah tumpah ruah di Balaikota. Diikuti dengan makan bersama di halaman depan kantor walikota. Usut punya usut, sang walikota sudah menganggarkan dana makan-makan ini dari kantongya sebagai nazar kalau dia terpilih jadi walikota.

Penduduk kotapraja yang sempat datang, tumplek tumpah ruah. Pelan-pelan orang-orang golongan menengah ke atas- yang awalnya ikut antri makanan sekalian untuk bersalaman dan  mengucap selamat atas terpilihnya walikota,  pelan-pelan undur diri dari antrian makan dan ikut antrian salam-salaman saja. Mungkin karena merasa malu hati, harus ikutan berdesak-desakan dengan pengemis, gelandangan, pengamen dan orang-orang yang jarang makan enak seperti yang sedang disajikan.

Hari berikutnya, Walikota melaporkan secara resmi kekayaan yang dia punya.  Sebuah rumah tinggal yang cukup bagus di kompleks elit, dua buah kendaraan satu motor satu mobil, kepemilikan saham di beberapa perusahaan kecil bergerak dibidang jasa periklanan, perdagangan hasil pertanian dan ekspor kopi. Kepemilikan saham terbesar nilainya di perusahaan perkebunan karet dan kelapa sawit di pulau lain.

Dia berkelakar itu semua cukuplah sebagai cadangan kalau  masa jabatan habis, diberhentikan atau meminta berhenti sebagai walikota dan kembali menjadi pengusaha.

***

Satu bulan kemudian sang walikota memperlihatkan sepak terjangnya.  Menertibkan Jalan raya utama, supaya lancar.

Yang menjadi masalah adalah, sang walikota tidak membolehkan kendaraan pribadi melewati jalan utama kecuali angkutan umum, angkutan barang dan mobil pribadi atau motor yang mempunyai nomor polisi dengan digit terakhir yang sama dengan digit terakhir tanggal hari itu. Misalnya tanggal satu, mobil pribadi atau mobil dinas yang boleh lewat  yang nomor belakangnya satu. Kalau ada yang berani lewat, polisi berhak menyetop dan melobangi ban kendaraan itu. Tanggal tiga puluh satu ditetapkan sebagai hari bebas dari kendaraan pribadi.

Kendaraan pribadi yang akan dijadikan kendaraan umum dipermudah administrasinya. Untuk itu pengawasan kepolisian ditinggatkan, baik untuk menjaga keamanan naik kendaraan umum maupun menindak mereka yang membandel.

 Peraturan itu diberlakukan kepada semua yang ada di  Kotapraja. Kecuali peraturan yang berada di atas peraturan seorang walikota misalnya peraturan yang dikeluarkan oleh presiden.

Beberapa pejabat kesal, orang kaya kasak kusuk, tidak ada orang yang merasa diuntungkan oleh kebijakan itu, kecuali kendaraan umum yang penumpangnya langsung meningkat.  Sang walikota ikut berlarian berdesak-desak seperti ikan asin di atas angkutan umum.

Seorang ahli pemerintahan  bicara di Televisi sebaiknya walikota bersikap bijaksana,  semuanya tidak mungkin bisa diraih dengan cara instan. Harus dengan pendekatan yang tepat, metoda yang tepat sehingga tidak menimbulkan gejolak dalam masyarakat. Urusan angkutan bukan hal yang sederhana, bisa melumpuhkan bisnis di Kotapraja.

Setelah ditimbang-timbang, masa ujicoba dua bulan dipotong jadi satu bulan, ujicoba berikutnya dilakukan terhadap kendaraan dengan pembedaan nomor genap dan nomor ganjil. Pada tanggal ganjil tiap bulannya, kendaraan bernomor ganjil boleh lewat, begitu juga dengan kendaraan bermotor genap.  Hari ke tiga puluh satu tetap sebagaimana sebelumnya.

Kebijakan ini dinilai cukup masuk akal oleh yang sebelumnya protes, kebijakan ini berjalan lancar, diikuti dengan kebijakan lainnya tentang penyesuaian syarat kepemilikan kendaraan bermotor menjadi lebih sulit.

Dalam  waktu satu tahun banyak kebijakan kontroversial yang dibuat oleh sang walikota. Tidak sedikit yang menimbuklan gejolak.  Bahkan kadang mengancam jabatan walikota itu sendiri.

“Jabatan adalah barang titipan, suatu saat pasti dikembalikan atau diambil oleh yang punya.  Saya siap setiap saat. Semoga lima tahun kedepan permasalahan Kotapraja bisa tuntas, paling tidak menjadi berkurang!” jawabnya.

Begitulah cerita sang walikota Kotapraja.  Apakahdia jujur? Apakah dia tidak korupsi?  Belum ada endingnya.

*rindang*

Silakan Komen di sini :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s