Setelah Bus Kesepuluh


——————————————- apakah itu aku diwaktu itu?

Jam berapa? Aku tak peduli. Yang jelas aku memastikan cukup aman berjalan sendirian menuju halte bus trans Jakarta di dekat stasiun. Jalanan mulai sepi begitu aku keluar dari gerbang kantor. Sesekali aku ditawari bajaj yang kebetulan lewat, aku melambaikan tangan tanda tidak.

Habis hujan, aku menyukai suasana itu. Kecuali saat harus menghindari genangan air bekas hujan. Aku tidak suka, tapi tetap memutuskan naik ke atas tembok setinggi lutut. Tembok itu merupakan bagian luar pagar yang bagian tengahnya ditanam bunga. Hanya untuk menghindari genangan air di trotoar yang rusak, membentuk cekungan.

Tidak sepenuhnya gelap, tidak juga terang benderang. Kali yang barusan aku lalui, baunya menguap sampai beberapa lagkah. Penjual sate dipinggir jalan mengipas-ngipas potongan daging berbumbu itu dengan penuh semangat. Wanginya adalah hadiah  yang diberi Tuhan karena berhasil melewati bau yang tidak sedap tadi. Aku lupa apa sudah makan atau belum, tapi tidak berniat untuk mampir.

Angin menjatuhkan daun-daun tua dari sebuah halaman bangunan lama. Ada tetesan air hujan di daun-daun itu menetes lagi ke pipiku, lembut.  Aku mencurigai seseorang  yang berjalan ke arahku,  beberapa meter di depan. Dia menceracau tidak jelas, orang gila! Aku berpura-pura tenang, sedang tanganku sudah menggengam erat tas yang akan menjadi beban jika harus berlari sewaktu-waktu. Dalam jarak tiga atau dua meter, aku lebih tenang setelah menyimpulkan dia tidak berbahaya.

Di bagian lain, persis di depan stasiun sebelum menyeberang aku harus menghindari genangan air lagi. Trotoar rusak itu seluruhnya digenangi air, jadi harus ke jalan raya yang agak tinggi. Entah karena selesai hujan, mood orang-orang sedang baik, aku dibiarkan berjalan beberapa detik di jalan raya tanpa di klakson apalagi disenggol bajaj dan motor yang berjalan di belakangku. Aku kembali ke trotoar dengan aman. Biasanya di jalan itu selepas jam kantor sampai Isya, kerasnya kehidupan Jakarta sangat berasa.

Pulang lebih malam di akhir minggu, tidak terlalu masalah jika tidak terlalu sering dan memang ada pekerjaan yang harus diselesaikan.  Yang aku benci kali ini membuatku aku harus melewati stasiun,  mengingatkan di mana aku harus berada saat itu, besok dan besoknya lagi.

Aku tidak suka bunyi peluit kereta, bunyi lokomotif, derak rodanya menggilas rel, suara petugas memanggil penumpang, kasak-kusuk, orang berteriak, orang terburu-buru. Aku tidak mau dingatkan kalau seharusnya sedang duduk di salah satu bangku (apapun itu di dalam kereta) menjenguk adikku. Dia sedang berada di rumah sakit  yang jaraknya mendekati seribu kilo dari tempat aku berada sekarang. Nyatanya aku tidak sedang di sana dan tidak bisa ke sana, berjalan di sini seperti tidak terjadi apa-apa. Yang bisa aku lakukan hanya berjalan cepat-cepat di lorong stasiun sampai akhirnya sampai di halte bus.

Petugas di halte itu  ramah sekali, bahkan aku memaklumi kalau mereka capek dan bosan dengan pekerjaan hari itu. Aku membayar dengan uang pas. Aku baru ngeh juga ada tulisan anjuran untuk membayar dengan uang pas tertempel di kaca pembelian tiket.

Ada lima calon penumpang, seorang ibu dengan anaknya masih SD, mba-mba berbaju merah dengan cardigan hitam, mas-mas membawa ransel lalu aku. Aku berfikir pasti bakal cepat dapat bus, tapi rupanya bus pertama yang berhenti penuh sesak. Aku mengambil tempat duduk, lalu mengecek HP. Beberapa teman di grup chat membicarakan tentang kegiatan akhir pekan mereka. Aku sekali-sekali menimpali.

Bus kedua juga penuh sesak, dua orang -mungkin mahasiswa. Mereka memanggul ransel besarnya keluar bus dengan susah payah. Ibu-ibu tadi dan anaknya berhasil menyempil naik. Petugas itu berdiri dibelakang mereka untuk melindungi agar mereka tidak terjepit pintu.

Beberapa saat kemudian, calon penumpang semakin bertambah, aku memutuskan tetap duduk. Menghirup udara sejuk sedalam-dalamnya. Bagus sekali, pagi tadi aku membawa bekal bacaan, sebuah novel berjudul 99 Cahaya di Langit Eropa. Aku biarkan Hanum – penulisnya – menuntunku menjelajahi tempat-tempat menarik di kota Wina, Austria. Lalu mengikutinya ke Paris.  Yang barusan menderu adalah metro yang melintasi kota Paris.  Awalnya aku terpaku di taman berumput dengan udara sejuk mengagumi menara Eifel dari kejauhan.  Tapi musse de Louvre adalah tujuan utama sangat membuat penasaran.  Hei, apakah menumen yang tidak jauh dari tempat aku duduk sekarang adalah obelisk atau Eifel? Sebuah pertanyaan yang aneh. Sepertinya ada yang salah dengan diriku.

Sudah bus ke enam yang lewat. Mba yang tadi datang bersamaku masih berdiri di antrian paling depan. Dia masih ragu-ragu untuk ikut berdesak-desakan dengan penumpang lain.  Sesekali tangannya menepuk nyamuk di kakinya yang pakai rok pendek dan sandal jepit.  Aku tidak tahu persis dia naik di bus ke delapan atau ke sembilan.

Aku mengikuti perjalanan Hanum ke Cordoba, pusat peradaban Islam ribuan tahun yang lalu. Berjalan di sekitar Mezquita setelah subuh menjelang Mezquita itu dibuka. Melewati seorang pedagang daging babi yang memajang dagangannya di depan toko sedemikian rupa. Setelah beranjak siang, pedagang-pedagang itu semakin banyak.  Hanum memberi tau, makan babi di tempat dulunya Islam berjaya itu terlihat demonstratif sekali. Akhirnya mezquita itu dibuka, sedih memang masjid yang sekarang beralih fungsi menjadi katedral itu masih menyisakan kejayaan Islam.

Aku membiarkan bus ke sepuluh lewat, setelahnya mengecek jam. Aku memutuskan jika sudah jam sepuluh kurang seperempat aku harus naik bus. Tidak mau lebih larut dari itu.

Dua anak sekolahan usil bertanya, kenapa aku serius sekali membaca. Aku tersenyum lalu mengeluhkan busnya lama banget.

“Kalau mau cepet pake mobil sendiri mbak!” kata mereka meledek.

Aku tertawa “Iya nih, besok harusnya beli mobil aja!” kataku, seolah dari kantongku tinggal mengeluarkan uang untuk beli mobil. Mereka tidak berkomentar lagi. Aku benci suara kereta yang masih saja lewat, suara pengumuman dari petugas masih saja terdengar.

Jam setengah sepuluh,  masih ada tiga orang yang berdiri di halte. Bus yang barusan lewat, entah yang ke duabelas atau tiga belas – aku tidak lagi menghitung . Busnya sudah agak lapang.  Aku memutuskan pulang. Menutup buku karangan Hanum- berarti menunda perjalanan ke Istanbul. Aku memasukkan buku itu ke dalam tas berbarengan dengan datangnya bus kesekian.

Apa yang sebenarnya kupikirkan saat itu akupun tidak tau, yang pasti aku harus pulang dan istirahat. Dimana seharusnya aku berada sekarang, disitulah aku berada. Mungkin setelah istirahat aku bisa sedikit tenang, berdoa besok akan baik-baik saja.

Ada yang aneh membuatku bertanya lagi.

Apakah itu benar-benar aku diwaktu itu? ——————————————-

Silakan Komen di sini :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s