Kampuang Nan Jauah Di Mato


Kampuang nan jauh di mato
Gunuang Sansai Bakuliliang
Den Takana Jo Kawan Kawan Lamo
Sangkek Basuliang Suliang

Panduduaknya nan elok
Nan Suko Bagotong Royong
Sakik sanang samo samo diraso
Den Takana Jo Kampuang

Takana Jo Kampuang
Induak Ayah Adiak Sadonyo
Raso Mangimbau imbau Den Pulang
Den Takana Jo Kampuang

*** lirik lagu Minang

Sudah lama tidak pulang kampung, rindu rasanya. Tapi kembali pada takdir yang telah membawa pergi. Kalau bisa pulang, pastilah diusahakan pulang. Kalau tidak bisa pulang, sementara waktu ditahan dulu yang namanya rindu.

Ada perkataan orang tua-tua yang cukup membesarkan hati. Sayang dianak dilacuti, sayang dikampuang batinggakan, sayang di adaik dibiasokan, sayang jo agamo kito sumbayang. Dapat dimaknai bahwa kalau sayang sama anak, kita harus mengajarinya dan terkadang harus tega dan tegas bahkan kalau terpaksa dilacuti (lacut=lecut=pecut). Kalau kita sayang pada kampung, kita harus tega meninggalkannya untuk mendapat ilmu dan kehidupan yang lebih baik sehingga kelak pulang kita bisa lebih bermanfaat untuk kampung dan masyarakat. Kalau sayang pada adat, dibiasakan untuk memakainya.  Kalau sayang pada agama, lakukanlah Sholat.

Siapa yang tidak rindu? Kampung sejuk di kaki bukit itu. Di rumahku yang dahulu, ketika melongok ke jendela  disaat matahari mulai terbit. Sinarnya sudah kemilau, pelan-pelan muncul dari balik bukit. Aku suka sekali cahayanya jatuh melewati jendela, membentuk bayangan panjang di lantai.

Gunung Marapi dan Singgalang, awan dan embun suka meningkahinya, timbul tenggelam dari pandangan. Ketika langit cerah, jelas sekali warnanya lebih biru dari deretan bukit-bukit hijau yang makin jauh makin biru.

Bunga kembang sepatu yang berbunga satu-satu, makin merah di sela daunnya yang sering dipangkas agar pagar depan rumah itu tidak terlalu tinggi. Gonjong surau sedikit menutup pohon manggis yang rimbun di pinggir jalan kecil mendaki menuju jalan kampung . Tidak jarang di ujung jalan mendaki itu, temanku memanggil untuk bersama-sama pergi sekolah, mengaji atau bermain. Aku melambai-lambai dari jendela yang kelihatan jelas dari sana.

Biasanya, pagi-pagi sebelum matahari benar-benar tersembul dari balik bukit, anak-anak sudah berangkat sekolah. Bahkan embunpun belum sempurna naik. Beriringan berangkat sekolah ke kampung sebelah.  Berlairan, bercanda, kadang bertengkar mengalahkan kicauan burung-burung.

Di tempat orangtuaku tinggal sekarang, jaraknya tidak terlalu jauh dari rumahku yang dulu. Suasana pagi yang sama, di kelilingi bukit yang sama, hawa sejuk yang sama. Sekarang kami bisa melihat langsung hamparan sawah. Mengamati embun yang tertinggal dari rumpun padi. Lalu lalang kendaraan di jalan besar tidak begitu ramai, hanya  ketika anak-anak berangkat sekolah berbarengan dengan orang yang pergi bekerja ke arah hilir, ke arah kota Bukittinggi. Selebihnya sampai sore, kendaraan yang lewat satu-satu dan kembali hening di malam hari.

Dulu semua serba biasa, tidak ada yang istimewa. Setelah pergi,  disanalah letak indahnya rindu.

Silakan Komen di sini :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s