Cirebon Belum Tidur


Welcome to Cirebon!

Kereta yang kami tumpangi – Tawang Jaya, Berangkat Jam lebih kurang 21.40 dari stasiun Pasar Senen, Nyampe Jam 00:53  di Stasiun Cirebon Prujakan (tercetak di tiket),  ternyata berhenti di stasiun Cirebon jadi kami ga harus turun di Prujakan. Stasiun Cirebon lebih dekat ke tempat penginapan daripada stasiunPrujakan. Tinggal lurus, keluar jalan stasiun kemudian ketemu jalan Siliwangi. Ada banyak hotel dan penginapan di jalan Siliwangi.

selamat datangKami cukup terkesan dengan stasiunnya, bersih. Sebuah bangunan lama yang masih terawat. Walaupun udah lewat tengah malam masih banyak orang, jadi ga usah berasa horor. Begitu keluar stasiun, masih banyak bapak-bapak tukang becak yang nawarin tumpangan. Karena dekat, kami memilih untuk jalan kaki aja. Sambil liat-liat suasana. Sebelum berangkat dari Jakarta kami sudah makan malam, jadi nyampe Cirebon udah ga mikirin makan lagi. Soalnya masih hari pertama liburan Idul adha, buat jaga-jaga kalau ga ada yang jualan pas nyampe Cirebon.

Awal nemu jalan Siliwangi kami belok kiri. Tapi cuma nemu beberapa penginapan. Akhirnya kami mutusin balik kanan. Ternyata penginapan yang udah kami incar sebelumnya ada di sebelah kanan. Masih ada angkot dan becak yang nawarin tumpangan.  Di depan penginapan ada yang jualan pecel, masih rame aja jam segitu. Kesimpulan, besoknya kami bisa jalan-jalan sampai malam.

Besoknya pagi jam delapan kami udah menelusuri jalan di pasar Kanoman. Naik angkot warna biru (06) dari penginapan, sebelumnya memastikan dulu pada pak sopirnya kalau kami mau berhenti di tempat yang paling dekat jalan kaki ke keraton. Ongkos angkotnya jauh dekat sama, dua ribu limaratus, kembaliannya dikembaliin pas lho.

Abis ngeliat empat keraton dan satu mesjid. Abis Sholat Zuhur kami naik angkot lagi menuju Gua Sunyaragi. Ternyata di sana ga lama, akhirnya hari itu kami memutuskan ke Sentra penjualan batik di Desa Trusmi, di Kabupaten Cirebon. Pada awalnya direncanakan untuk hari kedua. Lama juga muter-muter, milih-milih batik untuk dibawa balik. Salah satu ada yang kalap belanja batik, alhasil pulang bawa tentengan lebih banyak. Habis magrib, kami masih di Trusmi. Pulangnya naik angkot lagi, turun persis di depan penginapan.

Oh iya, kalau ke Cirebon ga afdol kalo ga nyobain empal gentong. Kami sepakat untuk nyobain empal gentong yang ada di depan stasiun. Rupanya tutup euy!  Masih suasana Idul adha jadi belum banyak yang buka. Katanya ada empal gentong yang enak di tempat lain, tapi udah capek jalan kami mutusin makan empal gentong yang di seberang stasiun. Perut lagi laper, kaki capek, semuanya berasa enak.

Ada yang unik namanya teh Tong Tji, teh panas yang disajikan dengan poci kecil dan dua gelas kecil. Rasa tehnya juga unik, ada aroma melatinya. Makin berasa unik dengan tambahan gula batu berwarna kuning.

Abis makan kembali ke penginapan untuk istirahat. Masih ada hari esok untuk jalan-jalan dan nyicipin mie koclok, nasi jamblang, dan makanan khas Cirebon lainya. Target yang seharusnya dua hari, udah selesai. Kami belum mutusin target pasti untuk esok hari, intinya puas-puasin jalan di Cirebon sebelum kembali ke Jakarta.

Di penginapan, lagi asik-asiknya ngobrol sambil makan kuaci. Temenku ngingetin untuk ngecek tiket. Takut keliru jadwalnya, karena udah pernah pengalaman salah jadwal. Ternyata, tiket keretanya malam itu, bukan besok. Duar!!!

Kami mutusin buat balik ke Jakarta malam itu juga, soalnya kemungkinan untuk dapat tiket buat besoknya kecil banget. Kalo dapet syukur, kalo ga harus balik juga. Belinya juga harus ke stasiun Prujakan, harus naik becak atau angkot, udah jam sembilan lewat (waktu itu dalam bayangan kami stasiun prujakan itu sepi dan jauh).  Trus buru-buru mastiin apakah aman naik becak atau angkot ke Stasiun Prujakan tengah malem. Kalau ga aman, kami harus segera beres-beres dan berangkat ke stasiun prujakan. Katanya bapak yang jaga hotel aman. Kami sedikit lega,   nyempoetin  nyari oleh-oleh di warung dekat stasiun Cirebon, untung masih pada buka.

Di Jalan Stasiun

Di Jalan Stasiun

Stasiun Prujakan

Stasiun Prujakan

Jam setengah satu, kami bertiga naik becak ke Prujakan. Udaranya sejuk, sama sekali ga dingin. Temenku bilang, kok tadi siang jalan-jalanya ga pake becak aja ya. Bener juga, walaupun panas, naik becak ga bakalan pegel. Tasi siang, berpatokan sama peta wisata hasil browsing di internet sama tanya sana-sini. kami kira tuh keraton deket-deketan, ternyata jalan kaki bikin capek juga. Untung semua senang dan balik ke Jakarta dengan hati riang, walau tiket salah jadwal, walau belum sampai ke pantai, walaupun belum makan nasi jamblang  hehehe …

Taunya, di stasiun Prujakan ga sekecil dan se sepi kami kira. Dekat stasiun masih ada yang jualan nasi goreng, warung-warung ada beberapa yang masih buka. Masih banyak calon penumpang yang nunggu kereta. Bahkan sampai kereta kami berangkat jam dua malam lewat (sempat telat beberapa menit) masih banyak orang. Sayang ga ada fotonya, udah ga semangat moto Cirebon yang belum tidur.

Sebenarnya ada kereta lain yang ke Cirebon dan jadwalnya ga selalu malam. Kebetulan kemaren kami milih jadwal kereta malam bair di Cirebonnya bisa lebih lama dan ngincar tiket ekonomi juga. Baliknya kami naik Kertajaya ke Pasar Senen lagi, sekitar tiga jam dan nyampe jam lima subuh.
Kalo tertarik maen ke Cirebon naik angkutan umum, ga usah khawatir. Tapi tetap tetap hati-hati dan waspada ya.

Cerita lainnya : nginap di Cirebon

***

Silakan Komen di sini :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s