Hari Rayo


Suara takbir bersahut-sahutan. Kami biasanya sibuk, sangat sibuk di malam satu Syawal itu. Bahkan beberapa hari sebelumnya, tapi orang yang paling sibuk adalah ibu.

Sore hari, menjelang berbuka Ibu menargetkan Lamang sudah matang, kalau bisa sudah ada di rumah. Dan Rendang, paling tidak sudah terbit minyak. Tinggal diaduk sekali-sekali dengan api yang kecil.

Lamang merupaka makanan tradisional minang yang terbuat dari beras ketan yang dimasak dalam buluh sejeis bambu yang disebut Talang. Ibu paling tidak bisa tidak menyediakan makanan ini untuk lebaran, padahal ngebikinnya iturepot dan lama banget. Tapi kata ibu, itulah tradisi kita, mana bisa lebaran tidak masak Lamang.

Jauh hari sebelumnya, bapak sudah menyiapkan Talang. Setelah ambil dari bukit, biar tidak layu lalu disimpan di rumpun bunga Kembang Sepatu yang ditanam berjejer dekat rumah. Karena Talang itu jauh lebih tipis dari bambu, jadi mudah layu dan keriput.

Pagi-pagi sekali, ibu mengambil daun pisang Batu. Atau sore sebelumnya sudah disiapkan. Dulu, waktu aku kecil, pasti ibu mensyaratkan harus daun pisang Batu, karena bagus untuk membungkus. Tapi belakangan ini, tidak melulu pisang Batu karena susah didapat karena banyak pohon pisang kena penyakit layu. Setelah itu, beras ketan yang akan dimasak dicuci bersih dan ditiriskan. Sementara itu juga disiapkan santan kelapa.

Pertama sekali, buluh Talang dilapisi dengan daun pisang. Lalu masukkan beras ke dalam bumbu itu sekitar tujuh per delapan bagian. Setelah itu baru masukkan santan kelapa, tapi tidak terlalu penuh. Nah, buluh (Talang) yang sudah berisi beras ketan dan santan tadi disandarkan berjejer pada sebatang bambu yang sudah diisi air, biar tidak teerbakar api. Lalu dibagian pinggang Talang berjejer itu dihidupkan api. Sampai air santan dalam Talang mendidih, ibu menghidupkan api besar-besar. Kalau sudah mendidih, apinya dikecilkan, dan talangnya diputar-putar biar Lamang tidak hangus. Dari mulai sampai matang, bisa memakan seengah hari atau lebih.

Kami yang namanya anak-anak, membantu sekenanya. Kadang ada juga rasa malas atau bosan. Belum lagi Rendang, jangankan untuk masak sendiri, untu membantu ibu saja kami sering mencari-cari alasan untuk mengelak. Kalau ibu tidak sedang dikejar pekerjaan lain dan keadaan sedang memungkinkan, beberapa masakan dengan kesulitan tinggi berhasil diselesaikannya menjelang idul fitri. Misalnya galamai (semacam dodol), pinyaram, tapai (tape ketan), pangek itiak.

Kami bilang, buat apa Ibu repot-repot berusaha membuat makanan dengan kesulitan tingkat tinggi itu.  Ibu selalu sabar, kadang berteriak-teriak kalau kami bandel tapi tidak benar-benar marah. Ibu bilang hari raya adalah hari besar, saatnya bersilaturahmi. Menyediakan yang terbaik untuk tamu, biasanya saudara bapak, saudara ibu, atau saudara lainnya yang dari rantau maupun yang di kampung suka berkunjung. Katanya, di rantau jarang sekali ada makanan seperti itu. Kalaupun ada, pasti rasanya tidak sama. Di kampung kita juga tidak selalu masak makanan seperti itu kalau tidak lebaran. Lebaran memang waktu untuk menyediakan makanan-makanan tersebut.

Takbiran malam ini, ibu tidak serepot dulu. Kami tidak semuanya pulang. Aku, sambil menulis cerita ini, seperti mencium wangi rendang dari dapur, bercampur dengan wangi kue bolu yang dimasak dari ruang tengah.

Suara takbir masih menggema, ibu tidak sedang repot. Kami tidak sedang repot juga. Tapi fikiran melayang jauh.
##

Silakan Komen di sini :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s