Kota Tua


Akhirnya maen lagi ke kota tua, horeee..!!!!

Kota tua selalu menjadi menarik buatku, walaupun makin kesini makin ramai. Alun-alun yang ada di depan museum Fatahlilah, di hari libur selalu ramai mulai dari pagi sampai malam , baik mereka yang maen maupun orang-orang yang berjualan. Walaupun tidak benar-benar seperti kota tua dengan suasananya yang juga tua, seolah kita mundur ke masa beberapa puluh tahun ke belakang, kota tua tetap menyuguhkan suasana berbeda untuk kita.
Begitu keluar dari halte Trans Jakarta kita langsung ketemu sama peta wisata daerah kota tua. Yang pertama kita kunjungi adalah Museum Bak Mandiri, tinggal nyebrang turun ke terowongan bawah tanah trus muncul dekat pintu masuk museum. Disini liat-liat sebentar, foto-foto trus ke Museum bank BI yang berada di sebelahnya. Disini Museumnya nyaman banget. Setelah itu langsung lagi ke Museum Wayang, Museum Fatahilah dan Museum Seni Rupa dan Keramik, tiga museum ini menghadap ke arah Taman Fatahhilah.Akses ke kota tua cukup mudah, ambil saja patokan dari Senen. Tinggal naik angkot warna biru muda dari terminal jurusan senen kota (M-12). Kalau dari blok M, tinggal naik trans Jakarta turun di halte Kota (Halte terakhir).  

This slideshow requires JavaScript.

Di taman fatahilah ini, sekarang pengunjung dan orang berjualan rame banget. Nah disini kita bisa nyewa sepeda untuk mengunjungi objek wisata kota tua dengan tarif  Rp. 20.000 per jam. Atau juga bisa menyewa ojek sepeda, nanti akan dinatar ke objek wisata lainnya di wilayah kota tua seperti Museum Bahari, Menada Syah Bandar, Pelabuhan Sunda Kelapa, Jembatan kota intan dll, dengan sewa Rp. 30.000 per jam.

Kalo di Peta wisata yang terpampang di setiap objek Wisata kota tua, lebih dari lima puluh titik yang bisa dikunjungi, banyak amiir. Kemaren kita juga ga sempat mampir ke semua titik. Karena nyampenya udah sekitar jam sebelas, kita memburu biar bisa masuk semua museum karena pada tutup sampe jam 15.00 WIB.

Yang paling mengesankan waktu naik ke puncak menara Syah Bandar. Kita sempat ragu-ragu juga, kuat ga sih. Secara udah berdiri ratusan tahun. Tapi, ngeliat keramahan petugas jaga dan orang orang sekitar yang mempersilakan kami naik, sepertinya aman. Lagipula ga mungkinlah pemerintah kasih membuka untuk umum kalo ternyata akan membahayakan pengunjung.

Akhirnya karena penasaran, kita naik. Padahal menaranya ga tinggi-tinggi amat. Kok berasa ada yang aneh. Takut, tapi diberani-berani ini. Di ruang pertama yang kita dapati setelah menaiki anak tangga (sayang ga sempat ngitung). Ada foto menara dan keterangan kalau menara itu sudah condong. Dari sini kita bisa melihat ke arah pelabuhan Sunda Kelapa, Museum Bahari dan rumah pnduduk. Sayangnya bau sampah dari muara sungai tajam banget membuat kita ga ingin berlama-lama.

Selanjutnya kita naik tangga lagi ke tas. Dari sini berasa sekali kalau menara itu sudah condong, lantai kayunya jelas terlihat miring. Dari sini kita bisa melihat ke semua arah mata angin. Pemandangan ke arah pelabuhan menarik hati kami, karena ke sanalah tujuan berikutnya.

Sebenarnya masih ada tangga kayu juga, tapi lebih kecil menuju puncak menara. Pasti pemandangan dari sana lebih menarik lagi. Tapi rasanya sudah ga kuat. Perut mules, kaki lemes, deg-degan, soalnya kalau ada mobil gede yang lewat di jalan raya, berasa ada getaran nyampe ke atas. Bikin kita buru-buru mau turun. Liat di fotonya deh,beneran kan udah condong? Tapi kapan-kapan pengen naik lagi deh sampai bagian paling atas🙂

 

Silakan Komen di sini :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s