Hujan Kita Dinda (1)


Hujan lagi dinda.
Apakah monster coklat hitam itu makin mengembang?
Menyeruak ke gerbanggerbang, bagaimana kita membuat penghalang sementara sampah yang terbuang semenamena terus merapal mantra.
Aku rasa risaumu itu dinda.
Bukankah kita samasama disana, sementara aku sedang bermimpi ada di sebuah negeri. Sama seperti cerita kita dimusimmusim yang dahulu.
Ketika aku terjaga, sanggupkah kita mengenyahkan perapal mantra yang berkata bukan hanya aku pelakunya.
Atau kita hanya mengenang tetes tetes itu menjadi sebuah legenda pernah membawa masa depan untuk kita lalu kemudian bersama mereka menyebutnya musibah. Setujukah kau dinda? Aku mengerti kalau kau menjawab iya, lalu menangis…

Silakan Komen di sini :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s